Siang itu bulan Januari 2012, saya dan Björn akhirnya tiba di Nairobi setelah menempuh perjalanan selama 17 jam dari Shanghai via Doha. Begitu tiba di Jomo Kenyatta airport kita berdua langsung mengantri untuk meminta visa on arrival. Prosesnya sangat cepat dan tidak berbelit-belit. Petugas imigrasinya juga sangat ramah dan senang bercanda, malahan saking banyaknya bercanda dia sampai salah menempelkan stiker visa saya.

Oh no, this is not good,” kata petugas imigrasi dengan muka serius.

Oh no, can you put a new one?,” tanya saya.

No, I cannot. This visa has a number. But don’t worry, I just have to peel it slooowly … we just hope it does not rip,” kata pak petugas sambil tersenyum.

Gara-gara kebanyakan haha-hihi, visa saya ketempel di kertas lain. Walau akhirnya bisa juga copot dan ditempel balik ke paspor saya, tapi bete juga masa belum apa-apa visa baru saya sudah lecek begini.

Single-entry visa negara Kenya berlaku untuk 3 bulan, harganya USD 50. Walaupun status visanya hanyalah single entry, tapi kita diijinkan keluar masuk Kenya secara bebas dalam 3 bulan jika kita hanya berpergian ke dua negara tetangganya, Uganda dan Tanzania.

 

Downtown Nairobi … semrawut!

Kota Nairobi mengingatkan saya pada sebuah kota kecil di Indonesia. Penduduknya banyak yang berjalan kaki dan tidak banyak bangunan tinggi di sana. Sarana transportasinya juga kurang memadai, yang ada cuma bus umum dan taksi butut tanpa argo. Jalan-jalan di dalam kota Nairobi lumayan berdebu, tapi saya heran orang-orang di sana sepertinya cuek-cuek saja dengan asap kendaraan dan debu pasir. Mereka semua malahan santai jalan-jalan atau nyetir dengan jendela dibuka, malahan hampir tidak ada mobil yang jendelanya tertutup.

Perhentian di Nairobi ini hanya sebuah transit point buat saya, Björn dan Viet (yang sudah tiba lebih dulu karena menumpang pesawat lain), kita tidak berencana untuk tinggal lama-lama di kota ini. Terus terang saya tidak sanggup bayar biaya hotel dan lain-lainnya. Tinggal di Nairobi itu ternyata luar biasa mahalnya. Harga hotel bintang tiga yang biasa-biasa saja harganya sekitar USD 150-250/malam. Biaya makan di restoran di mal sekelas Mangga Dua memaksa saya merogoh saku sebesar 1700 Shilling (atau sekitar USD 20). Bagaimana mau backpackingan kalau semuanya mahal begini? Saya benar-benar merasa miskin di Kenya, sampai akhirnya untuk menu makan malam kita bertiga memutuskan untuk belanja di supermarket dan membuat sandwich sendiri.

 

Shopping mall Yaya Center

Setelah bermalam sehari di Nairobi, keesokan harinya sekitar jam 8 pagi kita bersiap untuk berangkat menuju Arusha, kota tujuan kita di Tanzania. Bus yang kita tumpangi bisa memuat sekitar 15 orang, tempat duduknya berjejer 4 bangku. Penuh sekali penumpang busnya, sampai-sampai barang bawaan kita harus ditaruh diatap bus karena tidak muat. Semua penumpang bus adalah orang asing yang rata-rata bertujuan untuk mendaki Kilimanjaro,sebagian lagi adalah pekerja sosial. Saya, Bjorn dan Viet beserta satu bule bertubuh kekar duduk di baris paling belakang, lebih lega sedikit dibanding baris depan namun sialnya tidak berjendela. Di baris depan duduk segerombolan bapak-bapak dari Polandia, badan mereka besar-besar sekali. Saya kasihan melihat mereka harus duduk dempet-dempet di bangku yang kekecilan dan hampir tidak ada ruang gerak. Bayangkan saja duduk keringetan berjejer kayak sarden di dalam bus selama 6 jam.

 

Untung saya tidak duduk di tengah dua orang itu

Untung saja bus berhenti sekali waktu melewati Namanga border, perbatasan Kenya dan Tanzania. Daerah Namanga sisi Tanzania ini kelihatan seperti terminal pangkalan truk, kantor imigrasinya pun bentuknya seperti loket di stasiun bus. Jika tidak di kasih tahu mungkin saya tidak akan tahu bahwa ini adalah kantor imigrasi.

Visa untuk negara Tanzania bisa diperoleh di sini. Warga negara Indonesia bisa memperoleh visa on arrival seharga 50 dolar dan berlaku untuk 3 bulan. Prosesnya lumayan simpel, petugas imigrasi tidak minta dokumen macam-macam dan tidak reseh. Satu-satunya pertanyaan yang mereka tanyakan kepada saya adalah “Where is your fifty dollars?

Sesudah mendapatkan 50 dolarnya, mereka lalu tersenyum menjawab, “Karibu, welcome to Tanzania!

 

Namanga border sisi Tanzania (Source: www.eac.int)