Eits, jangan protes dulu, maksud saya berburu foto binatang liar sewaktu bersafari di Serengeti dan kawah Ngorongoro. Sejak awal saya memang sudah mengincar untuk safari di Serengeti, mumpung sudah menginjak tanah Afrika ya sekalian saja datang ke padang rumputnya.

Inilah hamparan padang rumput Serengeti

Karena kita bertiga (saya, Björn dan Viet) sedang travel ala budget, pilihannya hanyalah camping di Serengeti dan Ngorongoro disertai seorang supir yang merangkap guide dan seorang koki. Keperluan camping sudah disediakan oleh Basecamp Tanzania, seperti alat masak, tenda terpal — yang ternyata bocor pas hujan dan matras buduk (namanya juga budget, jadi saya tidak komplain).

Supir kita untuk safari ini bernama Justin, berperawakan besar (bayangkan Magic Johnson) dan dengan semangat menggebu-gebu bercerita tentang binatang-binatang liar. Pernah suatu waktu kita di buat bingung oleh Justin karena dia tiba-tiba menghentikan mobil lalu berteriak (sambil menunjuk ke pohon),

Look! Blue balls, blue balls!

You don’t see it? Look, look…blue balls!

Akhirnya dia frustrasi juga karena tidak ada yang tahu apa maksudnya.

Ah, forget it, you don’t see blue balls.

Nahh, bingung kan? Yah, beginilah kalau budget, saking semangatnya menunjukkan binatang sampai lupa bilang nama binatangnya, informasi yang kita dapat hanyalah blue balls. Setelah saya cek di buku Lonely Planet tentang binatang di Tanzania, ternyata baru saya ngeh kalau binatang yang dimaksud adalah vervet monkey, yang mana jantannya memiliki “anu” berwarna biru terang. Oalah!

Selain Justin, kita juga ditemani oleh seorang koki bernama Donnie (bayangkan rapper Ja Rule, mirip deh). Orangnya tidak terlalu banyak berbicara, mukanya selalu serius walaupun sedang bercanda. Donnie tidak pernah ikut sewaktu kita berputar-putar di padang rumput karena dia bertugas untuk menyiapkan makanan dan cemilan di pagi, siang dan malam hari. Donnie tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, kadang dia juga sering salah mengartikan apa yang saya maksud. Setiap kali saya menanyakan dari mana asal makanan ini, jawabannya selalu

Oh, this is from Victoria lake, it is very beautiful there.

Dari mana asal ikan yang kamu masak?

It is from Victoria lake, good fish, beautiful lake.

Dari mana asal daging ini?

It is from near Victoria lake, it is very good.

Capee deh, jawabannya hanya seputar Victoria Lake. Saya tidak berharap mendapat banyak informasi dari Donnie, yang penting masakannya enak. Ingin tahu apakah rahasia dari masakan Donnie yang enak itu? Percaya atau tidak, Blue Band! Hampir setiap kali dia masak selalu menggunakan Blue Band.

Justin (kiri) dan Donnie (kanan)

Pengalaman camping di Serengeti merupakan sebuah pengalaman yang unik bagi saya. Dua malam lamanya saya menginap di Seronera camp, di bagian tengah Serengeti. Bayangkan saja menginap di tengah padang rumput yang luasnya 14,000 kilometer persegi, dimana binatang-binatang liar bebas berlarian kemana saja (termasuk mampir ke campsite kita). Malam pertama saya dihiasi dengan rasa takut luar biasa, sampai-sampai saya tidak berani bergerak atau memutar badan. Karena saya sok tidak mau sharing tenda dengan dua teman cowok saya, saya diberi tenda sendiri di situ. Sebenarnya ya karena lebih praktis saja jika punya tenda sendiri, tidak usah pusing kalau mau ganti baju atau mau lap badan.

Saya tidak menyangka saat malam hari di Serengeti semua panca indera saya serasa menjadi lebih peka dari biasanya. Suara krasak-krusuk sedikit saja langsung terdengar jelas. Mulanya saya cuekin saja, mungkin hanya suara orang jalan kaki menuju wc umum. Lho, tapi makin lama suara krasak-krusuk ini jadi makin kencang dan makin banyak dan makin dekat dengan saya! Ditambah lagi ada suara barang-barang berjatuhan disertai suara dengus dan ringkikan yang silih berganti. Di otak saya yang terbayang adalah segerombolan babi hutan menyerbu tempat camping kita!!! Saya jadi teringat pesan Justin, jangan sampai ada sisa makanan atau sampah di sekitar tenda karena akan mengundang binatang liar datang. Aduh mak, saya lupa kalau saya masih ada sisa roti yang belum habis dan sampah buah-buahan yang belum saya buang. Deg-degan banget rasanya malam itu, mau kencing pun akhirnya saya tahan-tahan karena takut. Untungnya suara-suara binatang itu hilang setelah menjatuhkan beberapa tong-tong sampah, mungkin sudah tidak ada makanan lagi. Keesokan paginya Justin hanya berkata (seolah-olah sudah terbiasa),  Semalam hyena-hyena itu berisik banget deh…”

Malam kedua saya di Serengeti pun tidak kalah menariknya, terlebih karena semalaman diguyur hujan lebat. Tahu dong bagaimana rasanya kalau berjalan di tanah becek karena hujan. Kali ini saya harus tidur di tenda yang tanah bawahnya becek-becek. Tenda saya memang waterproof, tapi ternyata tidak hole-proof, ada lubang di salah satu sudut tenda saya. Perlahan-lahan air mulai menetes masuk dan merembes sedikit ke matras tidur saya. Terpaksa deh saya tidur memakai jaket waterproof saya dan saya relakan celana basah sedikit, seperti orang ngompol rasanya. Hujan turun sepanjang malam itu, tapi untungnya keesokan pagi matahari kembali bersinar. Ketika saya keluar tenda, saya melihat ada pengunjung di sekitar camp. Beberapa ekor jerapah penasaran mengitari daerah campsite kita. Buru-buru saya mengambil kamera dan mengabadikan momen langka itu. Memang benar seperti kata pepatah after every storm, a rainbow appears.

Pengunjung di pagi hari

Selain berkunjung ke Serengeti, kita juga diajak untuk mengunjungi Ngorongoro Conservation Area. Tempat paling populer di situ adalah kawahnya yang memiliki diameter sekitar 20 kilometer. Kawah Ngorongoro ini termasuk salah satu kawah terbesar di dunia, di dalamnya bahkan terdapat sebuah danau.

Saat mobil mendekat ke danau Magadi, saya heran dengan warnanya yang oranye kemerah-merahan. Ternyata warna oranye kemerahan itu berasal dari ribuan burung flamingo yang sedang ngaso di sana.

Saya betul-betul terpukau dengan variasi dan jumlah binatang yang saya temui di kawah Ngorongoro. Hewan yang paling langka di situ adalah black rhino, atau badak hitam. Menurut Justin, jumlah badak hitam di Ngorongoro hanya sekitar belasan ekor dan mereka jarang sekali mau keluar dari daerah hutan. Memang mungkin dewi keberuntungan sedang berada di pihak kita saat itu, tidak hanya satu tapi tujuh ekor badak hitam kita temui di berbagai tempat di Ngorongoro, semua berkat mata jeli si Justin yang giat mencari dengan keker miliknya.

Bagi saya, pengalaman yang tak terlupakan di Ngorongoro ini terjadi sewaktu saya sedang bersantap siang dengan lunch box bikinan Donnie. Isi lunch box biasanya ada sepotong ayam goreng, sebungkus sandwich, buah, minuman ringan dan coklat mars bar. Saya suka sekali dengan ayam goreng bikinan Donnie, karena bumbunya mirip bumbu ayam kuning ala Indonesia. Kontan saja inilah pilihan pertama santap siang saya. Baru saya meleng sedikit karena melihat pemandangan sekitar, tiba-tiba tangan saya yang memegang ayam goreng serasa di gebok dengan bola tenis. Ayam goreng saya pun jatuh menggelundung di tanah. Saya benar-benar bingung ada apa ini kok ayam goreng saya bisa mental dari genggaman saya. Belum sadar betul apa yang terjadi, saya mendengar Justin berteriak,

Go back in the car! Just eat in the car.

Saya pun buru-buru masuk ke dalam mobil jeep. Pas saya perhatikan lagi ternyata ada satu elang besar berputar-putar di angkasa. Sungguh pemburu yang tangguh elang itu! Begitu mengincar satu mangsa, dia akan memperhatikan gerak-gerik mangsanya dan menunggu saat lengah lalu menyerang. Paling tidak begitulah kiranya nasib tragis ayam goreng kesukaan saya…

Elang macam ini nih yang nyomot ayam goreng saya

Saatnya saya ceritakan sedikit tentang binatang-binatang yang saya lihat di Serengeti dan Ngorongoro.

Wildebeest

Wildebeest, Thomson’s gazelle dan burung bangkai

Kebetulan bulan Januari ini adalah saat migrasi hewan wildebeest, jumlahnya bisa mencapai lebih dari satu juta ekor di daerah Serengeti sendiri. Migrasi wildebeest biasa diikuti rombongan zebra, Thomson’s gazelle dan vulture (burung bangkai). Zebra, gazelle dan wildebeest membaur dengan tujuan mengurangi kemungkinan di mangsa para predator. Nah kalau burung bangkai, mereka ini hewan oportunis yang pintar. Kerjanya menunggu saat salah satu dari rombongan migrasi mati, entah karena di mangsa singa, buaya, atau karena tenggelam sewaktu menyeberang sungai … baru deh menyerbu.

 

Zebra

Hewan ini tidak asing lagi bagi kita semua, tapi saya yakin tidak banyak orang yang kurang kerjaan memperhatikan loreng-loreng di badan zebra. Jika diperhatikan, garis di kepala, leher dan badan semuanya vertikal, tetapi di bagian kaki dan bokongnya bergaris horizontal. Satu teori yang saya dengar mengenai kegunaan corak strip di tubuh zebra ini adalah untuk membingungkan lalat tsetse sehingga tidak hinggap di tubuhnya. Memang seberapa mengganggunya sih lalat tsetse itu?

 

Lalat tsetse

Source: wikipedia

Sumpah, ini adalah makhluk menyebalkan #1 di Serengeti.  Bagi yang belum pernah merasakan gimana rasanya dihinggapi lalat ini, coba bayangkan saja rasanya di gigit segerombolan semut merah besar, tapi yang ini bisa terbang seenaknya. Bedanya dengan semut merah, lalat tsetse ini cukup hinggap di baju atau celana atau kaus kaki dan tanpa basa basi langsung menusuk lapisan kulit dan menghisap darah. Lalat tsetse sering diasosiasikan dengan penyakit tidur, tapi jangan salah, yang di maksud di sini tidur karena hampir koma akibat demam dan lemas. Jika tidak diobati, bisa dipastikan penderita akan meninggal.

 

Singa (Simba dalam bahasa Swahili)

Tidak diragukan lagi bahwa singa adalah hewan paling berkuasa di savana Afrika. Menurut observasi saya di Serengeti, singa itu adalah binatang yang sangat malas. Dalam satu hari acara istirahatnya bisa 20 jam sendiri. Singa betina cenderung lebih agresif, jadi merekalah yang ditugaskan untuk berburu mangsa, sementara singa jantan hanya bertugas mengawasi anak-anaknya. Saya sempat melihat perburuan singa betina untuk mendapatkan anak babi hutan, luar biasa sabarnya dia menunggu, dan begitu beraksi sungguh tidak diduga kegesitannya.

 

Hyena

Hewan ini selalu hidup berkelompok, umumnya masih saling berhubungan saudara antara satu sama lain. Pemimpin sebuah klan hyena adalah sang betina, kedudukannya didasarkan oleh sistem hierarki. Hyena jantan sepertinya tidak memiliki ranking apa-apa di dalam klan, bahkan ranking hyena jantan yang paling tinggi sekalipun masih kalah posisinya dibandingkan dengan ranking hyena betina yang paling rendah. Untuk membedakan antara hyena dan anjing hutan caranya mudah, perhatikan saja suaranya. Hyena memiliki suara yang khas, mirip sekali dengan suara ketawa manusia yang cekikikan.

 

Olive baboon (untuk Olive, sori ya bukan menghina kamu lho!)

Babon ini sangat cerdas dan oportunis. Memiliki taring yang panjang (bisa mencapai 5cm), mereka sebenarnya mampu membunuh seekor leopard kalau terdesak. Meski demikian, mereka sebisa mungkin memilih untuk menghindari bentrokan dengan binatang lain. Jika berada di satu daerah yang penuh dengan babon, yakinlah bahwa daerah itu bebas dari predator sebab begitu ada perusuh mulai masuk teritori mereka, mereka akan langsung berteriak-teriak memberitahu kawanannya. Untuk melindungi diri dari serangan pengganggu, mereka biasa melarikan diri dengan cara gelayutan di batang pohon sambil menciprati musuh dengan kotorannya. Jadi saran saya, jangan ganggu babon olive jika tidak ingin kena siraman kotorannya.

 

Kuda nil

Kolam renang bau amis

Tubuhnya gemuk dan besar, tetapi kakinya mungil sekali. Tapi jangan salah, gini-gini larinya cepat kalau terprovokasi. Kuda nil lebih senang menghabiskan waktunya berkubang di danau atau rawa-rawa dibanding berada di daratan. Kerjanya setiap hari hanyalah berendam dengan kepala timbul tenggelam dari permukaan air. Bau kubangan air tempat kuda nil berendam ini bikin saya mau muntah — amis dan tengik menusuk, seperti campuran bau bangkai dan kotoran diaduk-aduk jadi satu, huek…

 

Leopard

Binatang yang satu ini termasuk binatang nocturnal, maksudnya hanya aktif di malam hari. Di pagi hingga sore hari mereka hanya tidur-tiduran di atas pohon. Tidak gampang lho menemukan leopard di atas pohon karena mereka jago berkamuflase. Cara paling gampang untuk mengenalinya adalah lewat ekornya yang panjang menggelantung ke bawah.

 

Kirk’s dik dik

Sekali mendengar nama binatang ini pasti tidak bakal lupa. Dik dik adalah sejenis kancil kecil dengan mata yang lentik. Dik dik hidup secara berpasangan dan mereka terkenal sebagai hewan yang monogami (hebat kan?). Pernah suatu waktu saya kebelet buang air kecil dan meminta ijin Justin untuk turun dan kencing di belakang jeep safari kita. Pas saya siap-siap buka celana, saya merasa tidak nyaman dan merasa diintip oleh sesuatu. Ternyata ada sepasang dik dik penasaran perlahan-lahan menghampiri saya yang sedang kencing. Mereka hanya berani mendekat sampai jarak sekitar 3m dari saya lalu berhenti dan mempelototi saya. Wah, sepertinya saya malah jadi tontonan binatang.

 

Cheetah

Satu kata untuk hewan ini, cantik! Beruntung sekali saya dapat menjumpai hewan ini di Ngorongoro crater. Bentuk tubuhnya sangat panjang, ramping dan berotot, tipikal pelari handal. Cheetah bisa berlari secepat 110km/jam, tapi sayangnya dia cuma bisa lari sejauh 300 meter dalam kecepatan ini, setelah itu harus istirahat 30 menit untuk memulihkan staminanya.

 

African buffalo (kerbau Afrika)

Bedanya kerbau ini dengan kerbau biasa adalah tanduknya yang melengkung menyerupai rambut. Kerbau Afrika berwarna hitam dan berbadan besar, bisa dibayangkan seperti sapi yang dijejal steroid. Umumnya kerbau ini tidak berbahaya, hanya saja saat dia marah atau terluka akan menyerang secara serabutan.