Walau saya bukan yang pertama kalinya menginjakkan kaki di gunung Kilimanjaro, namun saya cukup bangga bisa mencapai puncak tertinggi di Afrika ini. Boleh percaya atau tidak, saya seumur-umur belum pernah ikutan klub pecinta alam. Bisa dibilang saya cuma seorang mbak-mbak kantoran yang hobi mendaki.

Sebelum mendaki Kili (sebutan ini hanya boleh diucapkan setelah mencapai Kilimanjaro, biar tidak kena bad luck katanya), saya tidak melakukan persiapan khusus apa-apa. Saya cuma rutin nge-gym seperti biasa dan rajin naik turun tangga kantor — kantor saya lantai 16.

Rute pendakian yang saya pilih adalah lewat jalur Lemosho, yang kabarnya lebih sepi dan lebih berpemandangan. Maklum, kelamaan tinggal di kota besar membuat saya haus suasana sepi dan pemandangan alam yang indah. Rute Lemosho ini memerlukan waktu sekitar 7 hari berjalan kaki, dimulai dari ketinggian 2100m.

Peta rute Kilimanjaro (source: www.billhance.com)

Sehari sebelum keberangkatan, saya dan dua teman saya (Björn dan Viet) dipertemukan dengan guide kita yang bernama James. Dia baru berumur 25 tahun, tapi mukanya boros, seperti hampir 40. James datang membawa gulungan peta gunung Kilimanjaro, lalu seperti layaknya komandan yang mau ngirim tentara ke medan perang, dia mulai briefing tentang rencana pendakian yang akan berujung di summit attack pada hari ke-6.

Sesudah briefing, James lanjut dengan memeriksa semua peralatan mendaki yang kita miliki. Sebagai pemandu dia harus memastikan semua peralatan sudah mencukupi, mulai dari sleeping bag, rain gear, pakaian, sarung tangan, sepatu boots, senter kepala, botol air, hingga sunblock. Sebenarnya ada dua equipment lagi yang saya bawa tapi malu untuk saya tunjukin, saya mungkin bakal jadi bahan tertawaan kalau mereka tahu.

Itu adalah pee bottle dan pee funnel saya, alias botol kencing dan corongan –> buat yang ingin mencoba, sebaiknya latihan dulu. Dua benda ini saya bawa buat jaga-jaga, siapa tahu saya malas kencing di luar tenda waktu malam (di kehidupan sehari-hari saya tidak malas begini lho!). Kedengarannya memang aneh dan menjijikan, tapi saya bersyukur ada dua benda ini, yang ternyata benar-benar terpakai waktu saya berada di Barafu yang berangin ribut dan berbatu terjal. Bagi yang pernah mendaki Kilimanjaro pasti tahu betapa tidak ramahnya kondisi camp di Barafu, tenda-tenda yang salah “parkir” bisa-bisa terbang ditiup angin.

 

Londrossi Gate (2100m)

Sambil menunggu para porter bersiap-siap, saya duduk berteduh di dekat pos penjaga. Selang beberapa menit, datang sebuah mobil mountain rescue yang membuat suasana menjadi ramai. Dari dalam mobil keluar dua orang bapak-bapak bule berumur setengah baya, mukanya pucat dan ngos-ngosan. Bibir salah satu bapak itu berwarna keunguan dan pecah-pecah. Keduanya menggigil waktu turun dari mobil, padahal suhu waktu itu sekitar 30 derajat.

Wah … belum mulai mendaki sudah disuguhi pemandangan kayak gini, tambah grogi rasanya!

Setelah ngobrol sebentar dengan kedua bapak itu, saya baru tahu rupanya mereka kena altitude sickness dan hipotermia sewaktu berada di Lava Tower di ketinggian 4600m.

Altitude sickness dan hipotermia sebenarnya bisa menyerang siapa saja, baik orang yang fit maupun yang tidak. Justru faktor-faktor kecil seperti: kurang tidur, dehidrasi atau sok jalan ngebut lah yang menjadi pemicu altitude sickness. Pemandu saya sewaktu mendaki di Nepal pun sempat terserang altitude sickness, padahal dia sudah bertahun-tahun lamanya mendaki. Sedangkan hipotermia, biasanya disebabkan oleh kurang memadainya pakaian dan perlengkapan yang kita bawa.

 

Shira Camp 1 (3500m)

Sekitar pukul 16:00 saya tiba di daerah camp yang bervegetasi moorland, dataran tinggi yang bersemak-semak rendah. Pemandangan cantik di sini paling asik dinikmati dengan duduk-duduk sambil ditemani segelas teh manis hangat. Saya jadi lebih pede bisa mendaki sampai puncak kalau kondisinya begini terus.

Sayangnya optimisme saya ini cuma bertahan sebentar, tepatnya cuma sampai matahari terbenam. Aduh, minta ampun dinginnya waktu malam, sampai-sampai turun salju. Jujur saya tidak siap tidur di suhu minus. Bulan Januari ini kan seharusnya hot season, kok malah bersalju di ketinggian segini?

Malasnya ke wc di malam hari kalau bersalju seperti ini

Jelas saja malam itu saya tidak bisa tidur. Meski sudah pakai jaket dan terbungkus sleeping bag kayak mumi saya masih kedinginan. Posisi tidur juga tidak enak, tidak bisa bolak balik dan sulit napas kalau muka tidak menghadap atas. Perjuangan saya untuk tidur makin berat karena saya kebelet buang air besar. Bete sekali rasanya subuh-subuh mesti keluar mencari wc (saya rasa belum ada yang berniat menciptakan poo bottle buat pendaki malas seperti saya, mohon jangan dibayangkan terlalu jauh).

 

Shira Camp 2 (3840m)

Perjalanan pun berlanjut menuju Shira Camp 2, dengan jarak tempuh sekitar 7 km. Grup kita adalah satu-satunya grup yang bermalam di tempat ini, jadi bisa dibilang daerah ini serasa milik sendiri. Wc di tempat ini tergolong sangat bagus, dalam arti wc-nya berupa bangunan berbata, ber-ubin dan ada anak panah penunjuk women di sebelah kiri men di sebelah kanan. Karena saya satu-satunya cewek di tempat itu, bayangkan betapa bersihnya wc bagian women.

Malam sebelumnya di Shira 1, serasa seperti mimpi buruk saja sewaktu saya di wc. Banyak “ranjau” berserakan. Mungkin karena gelap dan masih ngantuk jadi banyak yang seenaknya saja buang muatan tanpa lihat-lihat posisi lubang wc. Sebenarnya saya agak jijik masuk ke dalam, tapi karena sudah kebelet saya terpaksa nekat. Dengan modal senter di kepala, saya cuma bisa hati-hati supaya tidak keinjak “ranjau” dan tidak meleset dari lubang sasaran. Ternyata berhasil juga. Memang kalau ada kemauan semua pasti bisa dilakukan.

 

Barranco Camp (3950m)

Hari yang melelahkan, terutama karena saya harus melewati Lava Tower di ketinggian 4600m. Di tempat inilah rata-rata pendaki mulai merasakan gejala altitude sickness, yang ditandai dengan rasa pusing dan mual. Untungnya saya tidak merasa apa-apa di sini, mungkin karena saya berjalan terlalu pelan kayak nenek-nenek. Kedua teman seperjalanan saya tidak seberuntung saya, Björn dan Viet mulai sakit kepala di tempat ini. Mereka berdua tidak terlalu nafsu makan dan lebih banyak diam sepanjang jalan, sementara saya masih saja ngoceh dan senantiasa merasa lapar. Maklum, kebiasaan anak kantoran, sukanya ngemil dan ngobrol.

Rupanya saya terlalu pelan jalannya sampai tertinggal segini jauh

Setibanya di camp, saya melihat banyak tenda-tenda dipancang di situ. Rupanya rute Lemosho dan Machame bertemu di Barranco. Suasananya sungguh berbeda di sini, penuh kekeluargaan dan canda tawa.

Saya akhirnya menyempatkan diri juga untuk berkenalan dengan beberapa porter yang ikut bersama kita. Tidak banyak yang bisa saya bicarakan karena mereka tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, sementara saya tidak bisa berbahasa Swahili.

“Jambo!” (Halo!)
“Jambo!” (Halo juga!) jawab saya.
“Habari kaka?” (Apa kabar, kakak?) tanya Raymond, salah satu porter kita.
“Nzuri. Habari?” (Baik. Apa kabar juga?)
“Nzuri. Now dinner time.” (Baik. Sekarang saat makan malam.)
“Ah okay, asante sana. Twende!” (Ah oke, terima kasih. Mari!)

Menikmati teh hangat sambil ngobrol dengan para porter

Begitu kira-kira percakapan antara saya dan porter, terbatas sekali kosa kata-nya. Kebanyakan para porter ini tidak tamat sekolah karena tidak mampu secara ekonomi, tapi biar demikian, mereka ini ternyata cukup cerdas dan berpengetahuan luas.

Pernah suatu waktu kita membicarakan sepak bola. Begini kira-kira percakapannya:

“Bagaimana persepakbolaan Tanzania saat ini?” tanya saya penasaran.
“Wahh, tim kita mah jelek… Yang terbaik di Afrika sekarang mungkin Ivory Coast,” jawab Raymond.
“Klub sepak bola mana yang jadi favoritmu?” tanya Viet kepada Raymond.
“Saya suka Chelsea, saya suka liga Inggris.”
“Kamu tahu siapa pemilik Chelsea?” tanya Viet lagi dengan gaya sok pintar-nya.
…Abramovich? Dia pernah datang ke Kilimanjaro dengan helikopter, tapi cuma sampai Barafu dia balik lagi karena tidak kuat,” jawab Raymond sambil disertai gelak tawa porter lain.

Si orang kaya Rusia ini katanya memang pernah mencoba mendaki Kilimanjaro dan gagal di ketinggian 4600m karena masalah pernapasan. Kabarnya grup Abramovich yang cuma beranggotakan 6 pendaki memerlukan 113 porter!! Saya tidak tahu apa saja yang dibawa, mungkin sekalian bawa ranjang dan toilet mewah dari Inggris.

 

Karanga Valley Camp (4200m)

Saya pikir perjalanan menuju Karanga cukup gampang karena hanya berjarak 4km and memakan waktu sekitar 3 jam. Ternyata saya salah besar. Melewati Barranco wall lumayan bikin saya empot-empotan, karena batu-batunya besar dan untuk naik ke atasnya perlu pegangan supaya tidak jatuh. Walau jarak naik cuma sekitar 300m, tapi sumpah rasanya jauh banget. Saya salut dengan para porter yang membawa barang bawaan dan masih bisa naik dengan santainya.

Jalan naik melewati Barranco wall

Berada di atas tembok Barranco, saya pikir perjalanan terberat hari ini sudah terlewati. Wah … saya salah lagi! Jalan turun dari tembok Barranco ini ternyata lebih sulit daripada jalan naiknya. Sepertinya saya memang tidak dianugerahi sense of balance (atau keseimbangan tubuh), jadi kepleset terus.

Leganya saya setelah melewati tembok Barranco

Betapa senangnya begitu saya melihat campsite di depan mata. Akhirnya bisa istirahat juga. Saya tidak habis pikir dengan para pendaki yang masih terus melanjutkan perjalanan menuju Barafu di hari yang sama. Perjalanan menuju Barafu masih 3 jam lagi dari Karanga dan dari Barafu biasa dilanjutkan dengan summit attack pada malam harinya. Jadi bayangkan saja bakal kayak apa capeknya.

 

Barafu Camp (4600m)

Ini hari ke lima. Ya … sudah lima hari saya tidak mandi. Setiap pagi saya cuma disuguhi se-baskom kecil air panas untuk bebersih. Yah, paling tidak saya bisa mengurangi kekucelan saya dengan sebaskom air ini (walaupun sebenarnya airnya juga belum tentu bersih).

Air se-baskom ijo kecil itulah jatah washing water saya tiap pagi

Tiba di Barafu saya cuma berpikir, apa tidak ada tempat lain buat dijadikan camp ya? Tempat ini benar-benar tidak fun untuk dijadikan perkemahan. Alasannya:

  • Anginnya kencang dan berisik. Tenda tempat makan kita pun sempat hampir kebawa angin. Saya yang waktu itu baru mau mulai makan, terpaksa harus membuang nasi kari saya karena kecampur pasir.
  • Tanahnya miring, naik turun tidak rata dan berbatu-batu.
  • Banyak tenda-tenda yang dipasang saling berdekatan, jadi kalau berjalan di malam hari ada kemungkinan kesangkut tali-tali pancang tenda kalau tidak hati-hati.
  • Wc umumnya sedikit dan lokasinya lumayan jauh. Maka dari itu saya pun memutuskan untuk kencing di dalam botol malamnya, hehe.

 

Suasana Barafu camp

Summit Attack (5895m)

Sekitar pukul 11 malam saya dibangunkan David (salah satu porter), yang bilang sekarang saatnya untuk sarapan dan siap-siap. Sebenarnya saya juga tidak bisa tidur, karena baru makan malam tadi sore jam 5.

Pukul 11:55 malam kita mulai berjalan, James si guide memimpin di depan dan Fanul si asisten di paling belakang. Mereka tidak membawa tas ransel, juga tidak membawa air. Alasannya supaya bisa membawa ransel kita andaikata ada yang tepar.

Perjalanan panjang pun dimulai, dilengkapi dengan senter di kepala dan ransel di punggung kita mulai berjalan dari ketinggian 4600m hingga mencapai Stella Point di 5756m. Bagi saya pribadi, ini termasuk pendakian yang amat sangat melelahkan. Saya tidak bisa bernafas normal karena malam itu hidung saya ingusan dan mampet, dahi rasanya seperti membeku. Suhu udara malam itu sekitar -5 derajat C, sebenarnya bukan masalah besar buat saya. Tapi, anginnya itu lho, seperti badai pasir yang menghantam muka saya. Saya coba pakai penutup hidung … tapi karena meler, ingusnya malah membeku di penutup hidung saya. Duh!

Di tengah-tengah perjalanan saya dan Björn terpisah dari Viet, karena dia sering berhenti untuk duduk … dan terkadang muntah (sepertinya dia kena altitude sickness). Saya tidak mau stop terlalu banyak, karena saya takut suhu tubuh saya jadi drop dan kedinginan. Saya juga tahu makin banyak saya berhenti bakal makin kuat keinginan saya untuk menyerah.

Makin tinggi saya berada, semakin sulit rasanya melangkahkan kaki, tapi saya dan Björn tidak diijinkan berhenti oleh James. Saya capek. Saya kedinginan. Saya tidak bisa nafas tanpa kesakitan di dahi. Saya bahkan tidak punya tenaga untuk memutar tutup botol air saya yang airnya sudah setengah membeku.

Setiap kali saya lihat ke atas, cuma terlihat cahaya lampu para pendaki lain, sepertinya tak ada ujung akhirnya. Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak melihat ke atas lagi, saya berusaha untuk fokus dengan apa yang ada di hadapan saya.

Langkah kaki saya semakin berat, setiap tiga empat langkah saya harus berhenti sebentar untuk ambil napas. Björn yang berjalan di sebelah saya ternyata juga ngos-ngosan, jalannya agak diseret-seret seperti zombie. Cuma James yang masih segar bugar. Seperti seorang ayah menggandeng kedua anaknya, James menggandeng saya di sebelah kanan dan Börn di tangan sebelah kiri. Dia menarik kita berdua sambil bernyanyi:

Jambo! (Halo!)
Jambo bwana! (Halo saudara!)
Habari gani (Apa kabarmu?)
Nzuri sana (Kabar baik)
Wageni, mwakarebishwa (Teman asing, selamat datang)
Kilimanjaro (di Kilimanjaro)
Hakuna matata (Tidak ada masalah)

Tanpa di sadari akhirnya kita pun tiba juga di Stella Point. Benar-benar hampir semaput rasanya, sepertinya saya sudah sedikit error di sini. Buff (sejenis bandana) yang saya kalungkan di leher, yang tadinya basah kena ingus, sekarang sudah kaku menjadi es. Dahi saya sakit sekali rasanya karena ingus yang membeku.

Dari Stella Point tinggal sekitar setengah jam lagi untuk sampai di Uhuru. Sembari berjalan kita saling menyemangati satu sama lain. Akhirnya terlihat juga ujung dari perjalanan panjang ini: papan besar menunjukkan puncak Uhuru di ketinggian 5895m. Saya, Björn dan James tiba di puncak Uhuru pada pukul 5:30 pagi.

Sungguh luar biasa rasanya mencapai puncak tertinggi di Afrika. Segala rasa sakit dan rasa capek hilang dalam sekejap. Saya seperti mengalami Adidas momentimpossible is nothing

Memang dasar Indo tulen, kemana-mana pun bawa BB

Seperti mendapat sebuah tenaga dan semangat yang baru, saya tinggalkan puncak Uhuru dan meluncur kembali ke Barafu. Saya pakai kata “meluncur” di sini, karena memang benar-benar perlu meluncur karena jalannya terjal dan berpasir. Bisa dibilang perjalanan turun gunungnya seperti bermain ski, apalagi di tambah pemandangan glacier (bukit-bukit es) di sekitar saya, serasa seperti lagi main ski beneran … tapi tanpa papan ski.

Sekembalinya di Barafu camp, waktu menunjukkan pukul 7:30 pagi. Sebagian dari porter kita masih tidur, saya yakin mereka tidak mengira kita bakal balik secepat ini. Kita disambut oleh David, yang agak kaget karena kita balik begitu awal. Disangkanya kita tidak sampai puncak dan kembali ke Barafu.

Setelah bertemu kembali dengan Viet di Barafu, kita sepakat membuat keputusan radikal hari itu, yaitu balik ke Arusha sebelum malam. Ini berarti kita masih harus berjalan sekitar 6-7 jam lagi melewati Mweka camp dan Mweka gate, dari ketinggian 4600 m turun ke 3100m kemudian ke 1500m. Sebuah keputusan yang mengakibatkan kedua kuku jempol kaki saya hampir lepas.

Goodbye kuku kakiku, you did great!

Hari itu tanggal 25 Januari 2012, saya benar-benar jalan kaki selama kurang lebih 14 jam dalam 1 hari.

6 Hari, 11 porter, 2 guide dan 1 koki