Saya tidak mengada-ngada dan tidak bermaksud menjelek-jelekkan kota Nairobi. Pengalaman saya di kota ini mungkin tidak bisa dijadikan acuan untuk mendeskripsikan kota Nairobi secara keseluruhan. Saya yakin sebagai turis “normal”, mungkin tidak banyak orang yang bakal berpergian ke tempat-tempat yang saya tuju.

Ketimpangan sosial terasa sekali di kota Nairobi. Di satu sisi, bisa dilihat banyak rumah mewah dan mal-mal megah. Namun di sisi lain, ada daerah kumuh yang juga di sebut shanty town. Daerah kumuh ini bernama Kibera.

Josef si rasta driver

Supir taksi kita di Nairobi bernama Josef. Kita memilih taksi dia karena si Josef ini mukanya sangat bersahabat dan bergaya hippies (rambutnya gondrong dan selalu memakai topi Jamaika). Karena merasa sreg dengan di Josef ini, saya dan Björn pun meminta dia untuk mengantar kita ke airport keesokan harinya. Saya meminta dia untuk datang dua jam lebih awal supaya saya dan Björn bisa keliling kota Nairobi sebelum kembali.

Keesokan paginya Josef datang tepat waktu. Bell boy hotel langsung mengabarkan saya.

Excuse me, miss. Your taxi driver, Bob Marley, is here.

Dipikir-pikir benar juga nih kalau mirip Bob Marley. Mungkin Josef ini penggemar beratnya.

Saya dan Björn meminta dia untuk mengajak kita keliling kota Nairobi, kalau bisa ke daerah yang tidak touristy.
“Bagaimana kalau kita ke Kibera? Saya pingin lihat seperti apa,” kata saya.
“Kamu mau ke Kibera? Why? Itu daerah kumuh, saya tidak berani bawa kamu masuk ke Kibera,” jawab Josef agak ragu-ragu.
“Bagaimana kalau kita di pinggirannya saja? Dari situ kamu juga bisa lihat perkampungan Kibera,” sambung Joseph.
“Aman ngga?” tanya saya yang sedikit khawatir.
No problem. Di situ tidak apa-apa,” jawabnya sambil berusaha meyakinkan saya dan Björn.

Taksi Josef pun meluncur menuju daerah Kibera. Ada sebuah tembok panjang yang memisahkan daerah kumuh Kibera dengan jalanan umum dalam kota. Di samping tembok ini terdapat ribuan rumah bedeng yang saling berdempetan satu sama lain. Saya melihat banyak sekali pengangguran di sepanjang jalan. Mereka umumnya berjalan bergerombol, kadang sambil minum minuman keras.

Daerah kumuh Kibera

Joseph menghentikan taksinya di sebuah tanah kosong berbukit, berjarak sekitar 100 meter dari tembok pemisah. Dari bukit ini saya dan Björn dapat melihat betapa luasnya slums area di Nairobi. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana nasib seorang anak yang terlahir di daerah kumuh ini.

Tiba-tiba dari kejauhan ada beberapa pemuda berteriak-teriak mengepalkan tangan ke atas, sambil berjalan terhuyung-huyung ke arah kita. Mungkin saya dan Björn terlalu mengundang perhatian di tempat itu (seorang bule kulit putih dan seorang Asia). Jelas terlihat beberapa pemuda itu sedang mabuk, miring-miring jalannya sambil teriak-teriak. Josef sepertinya mendapat firasat tidak aman, dia menyuruh kita masuk ke dalam mobil.

Guys, let’s get in the car. Lock the door and close all windows. These guys are drunk. Let’s get out of here, we don’t want problems with these guys.

Deg-degan sekali, seperti diuber penjahat saja rasanya. Untung kita cepat kabur dari daerah itu tanpa masalah. Taksi Josef berjalan membelok menghindari beberapa pemuda mabuk yang teriak-teriak sambil bawa botol arak itu. Untung saja mobil kita tidak dilempari batu atau botol! Lesson learned: jangan sok bertualang ke daerah berbahaya!!! Ada baiknya meminta saran orang lokal di sana.

Selepas dari Kibera, saya dan Björn cukup kapok dengan pengalaman ini dan meminta Josef langsung melaju ke airport. Hanya ada satu jalan menuju airport Nairobi, yang ternyata macet sekali pagi hari itu. Menurut Josef biasanya jalanan tidak semacet ini, mungkin ada kecelakaan atau perbaikan jalan.

Tak lama kemudian saya melihat beberapa mobil berjalan melawan arah dari samping. Makin lama makin banyak mobil yang berjalan lawan arah.

Nah loh… ada apa lagi nih?

Walau banyak mobil di depan yang memutar balik, Josef tetap cuek dan berjalan mengikuti mobil depannya sampai akhirnya taksi kita terhenti lagi karena macet total. Para pengemudi mobil di depan semuanya mematikan mesin dan keluar dari mobilnya. Setelah diusut, ternyata kita baru tahu di depan jalan ada kerusuhan yang dilakukan para penghuni daerah kumuh. Mereka melempari batu ke arah mobil dari atas jembatan dan mulai membakar ban-ban bekas di tengah jalan. Rupanya mereka protes kepada pemerintah yang mau menggusur daerah kumuh ini, dan protesnya benar-benar merusak serta mengacau lalu lintas kendaraan menuju airport.

Terjebak di sini memang tidak fun

Satu per satu mobil di depan kita ikutan membalik arah, menyisakan taksi kita di bagian paling depan. Tidak ada mobil yang berani mendekat jembatan karena takut dilempari batu dan dibakar. Saya dan Björn benar-benar takut saat itu, pikiran saya sudah melayang-layang tidak karuan. Saya takut diculik dan dijadikan sandera, mana muka saya dan Björn beda sendiri di situ.

Okay guys, listen…
Just stay in the car, don’t get out. If things get out of control, you just take your passport with you and run.

Leave your stuff. Just run, okay?

Begitu pesan singkat dari Josef yang bikin saya dan Björn makin khawatir. Dalam hati saya, mati deh…mana kaki kita berdua pincang-pincang begini karena kukunya hampir lepas gara-gara Kilimanjaro. Mau lari bagaimana coba? Saya waktu itu cuma bisa pasrah terima nasib saja. Asalkan kita berdua tidak terluka, ketinggalan pesawat pun tidak apa-apa deh.

Lemparan batu makin lama makin mendekat dengan taksi kita. Josef memutuskan untuk membalikkan mobil lewat turunan di samping jalan. Turunan ini lumayan curam, sampai-sampai saya bisa merasakan posisi mobil miring seperti mau kejungkir waktu menanjak naik untuk kembali ke jalan. Taksi butut Josef tidak kuat untuk naik ke atas, terpaksa saya dan Björn harus turun membantu mendorong mobil supaya bisa naik.

Akhirnya bisa juga mobil kembali ke jalanan, setelah ditolong beberapa orang lain untuk mendorong. Sampai di atas kita melihat banyak tentara membawa pentungan dan tameng siap menertibkan para perusuh. Josef lalu tersenyum sambil berkata, “It is ok now, police are here.”

 

(maaf loadingnya lama)

 

Memang hebat polisi/tentara di Kenya ini. Dalam 10 menit, keadaan sudah terkontrol dan mobil-mobil diperbolehkan kembali melaju. Saya dan Björn pun lega karena kita bisa tetap terbang hari itu tanpa pakai acara lari-larian. Memang sepertinya pagi hari itu keinginan saya untuk tidak melihat “area turis” di Nairobi benar-benar dikabulkan. Sebagai gantinya saya disuruh sport jantung dua kali. Untung saya cuma sebentar di Nairobi. Kalau setiap hari harus mengalami begini sih, waduh … pendek deh umur saya!

Sehabis sport jantung saya pun minum air keringet