Pernah mendengar atau melihat lautan cokelat? Itulah kesan saya terhadap sungai terpanjang di Asia Tenggara ini.

Sungai Mekong mengalir dari plato Tibet ke propinsi Yunnan di China, melalui Burma (Myanmar), Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam. Sebelum berlepas menuju Laut Cina Selatan, sungai Mekong ini harus mengalir melalui delta yang rumit di Vietnam. Saya mengunjungi Delta Mekong dari Ho Chi Minh (atau lebih terkenal dengan nama Saigon). Saya berdua dengan mama merasa penasaran dengan kegiatan dan gaya hidup warga Delta Mekong.

Dengan perahu motor kayu, kita menyusuri sungai Mekong.

Dari awal sampai ujung, warnanya cokelat. Persis seperti susu Ovaltine.

Bisa dicoba rasanya kalau berani 🙂 Mekong terlihat ramai dengan berbagai macam kegiatan. Pariwisata tentu salah satunya. Selain itu, kita bisa melihat perahu-perahu yang membawa muatan bahan bangunan melintas, lalu ada juga perahu nelayan. Mekong memang berfungsi sebagai sarana transportasi air yang lumayan efektif.

Sungai coklat Mekong dan perkebunan buahnya

Awal-awalnya kita diceritakan bahwa Delta Mekong memiliki tanah yang subur. Banyak penduduk di sana yang bermata pencarian dari berkebun. Kita dibawa menyusuri perkebunan buah tropis. Hal ini mungkin akan lebih menarik untuk orang bule. Untuk kita yang orang Asia, kita sudah tau bagaimana bentuknya pohon pisang, mangga, apel, buah naga dan lain-lain. Saya dan mama berjalan menyusuri perkebunan ini sambil berkomentar,

Yang seperti ini juga bisa dijadikan obyek pariwisata ternyata.

Bagi saya, yang lebih menarik di perkebunan ini adalah 2 anak kecil yang tengah bersenda-gurau. Saya mencoba menyapa mereka. Sayang sekali, mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pun tidak bisa berbahasa Vietnam. Meskipun kita mencoba berkomunikasi dalam 2 bahasa yang berbeda, ternyata ada 1 bahasa universal yang jitu… kamera!!!. Mereka ternyata suka berpose. Tangan mereka langsung terangkat dan menyimbolkan “peace”, senyum mereka pun sangat sumringah.

“Peace!!!”, anak- anak ini hanya senyum-senyum saja

Di ujung perkebunan, sudah menunggu perahu sampan. Wahhh…, jumlahnya banyak sekali. Semuanya seragam berwarna biru. Delta yang sempit itu pun penuh dengan sampan-sampannya.

Ternyata, kalau Itali bisa memiliki Venice dengan gondolanya, Vietnam pun bisa punya Delta Mekong dengan sampannya.

Usia para pendayung sampan itu sangat beragam. Tua muda lelaki perempuan , semua ada. Bahkan ada yang sudah jadi kakek nenek. Melihat hal seperti itu, tentu kita terpikir akan semangat hidup mereka. Setiap hari mereka harus turun ke delta dan mendayung sampan untuk turis. Di luar itu, mereka juga memiliki mata pencarian sebagai nelayan. Ikan air tawar di sini terkenal enak untuk digoreng kering (sedikit mirip gurame).

Memang tidak kenal usia, pendayung-pendayung sampan ini dengan gigih bekerja

Sampan kita bergerak perlahan menyusuri gang yang sempit. Tidak jarang perahu kita bertabrakan dengan perahu yang datang dari arah yang berlawanan. Para pendayung sampan itu saling kenal satu sama lain. Mereka selalu mengucapkan salam apabila bertemu. Hasilnya, gang sempit yang harusnya sepi itu akhirnya ramai dengan sapaan-sapaan ramah dari para pendayung.
Di sepanjang gang kecil itu dihiasi dengan tanaman-tanaman rawa yang tumbuh di sisi-sisinya. Sebagian besar adalah ranaman palem, yang terkadang daunnya menghempas sampan kita. Selain itu, ada juga pohon buah-buahan yang lain. Di antara pohon dan air, tentu saja ada tanah belumpur. Ada kalanya kita bisa melihat ikan yang bermain perosotan di lumpur tersebut. Hmm.., mungkin ikan tersebut yang akan menjadi santapan kita siang ini.

Ikan yang jadi santapan siang kita

Perjalanan kita di Delta Mekong membawa kita ke sebuah desa lagi. Di desa ini ditunjukkan bahwa penduduk di sini juga memproduksi jajanan-jajanan pasar yang betuknya mirip dodol. Bahan baku utamanya adalah gula dan kelapa. Selain itu, mereka juga menunjukkan peternakan lebah madu mereka. Salah satu pemuda di desa itu menantang kita untuk mencicipi madu dari sarang lebah yang dibawanya.

Merasa sedikit tertantang, saya coba masukkan jari kelingking saya ke arah lebah-lebah yang tengah menghasilkan madu tersebut. Ternyata lebahnya tidak merasa terganggu, jari saya pun aman dari sengatan lebah.

Awalnya agak takut, tapi ternyata lebahnya jinak

Industri kecil dari warga Delta Mekong ini sangat didukung oleh pemerintah setempat untuk mensejahterakan masyarakat di sini. Dan terlebih lagi, hampir segala sesuatu yang menurut saya sebenarnya sangat sederhana, ternyata bisa dijadikan atraksi untuk pariwisata. Bayangkan saja, dari perkebunan buah-buahan, naik sampan di gang-gang kecil, industri kecil budidaya lebah madu dan dodol, sampai bersepedaan keliling desa pun bisa dijual.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bersepeda keliling hutan pisang, hutan kelapa, desa-desa dan pusat kota.

Mama memilih untuk bersantai di atas buaiyan (hammock). Saya bersepeda sendiri berkeliling pulau. Melewati jalan setapak menembus hutan kelapa dan melihat betapa sederhananya kehidupan masyarakan di sana. Mungkin sebenarnya pemandangan ini tidak jauh berbeda dengan desa-desa di Indonesia. Tetapi bagi saya yang selalu tinggal di kota, kehidupan kampung yang sederhana ini justru malah menggugah hati.
Di tengah jalan, ada kakek tua berbadan kurus dan berperut buncit. Bertelanjang dada dan berdiri di luar pagar rumahnya. Dia terus-menerus menatap saya. Saya pikir, mungkin dia hanya penasaran dengan turis yang bersepedaan. Tiba-tiba dia menghentikan sepeda saya.

Dan ternyata, dia mau minta uang.
Waduh.., saya pikir saya salah apa.

Kalau sudah begitu, ya mau tidak mau saya beri dia uang dengan imbalan dia mau supaya saya foto. Saya sebenarnya tidak setuju dengan perilaku ini. Tapi apa boleh dibuat, kita berdua memiliki kebutuhan.

Si kakek butuh uang, saya butuh foto.

Ini dia muka si kakek