Hari ini saya dan Inji akan melakukan ekspedisi ke bagian selatan Jordan. Perjalanan memakan waktu 3-4 jam dari kota Amman. Semakin ke selatan, semakin tandus tanah Jordan.

Tujuan pertama kita adalah Mukawir. Sepanjang perjalanan kita melihat pemandangan yang menarik. Ada yang gersang dan tandus, tapi ada juga yang ditumbuhi padang rumput hijau dengan bunga-bunga liarnya. Bukit demi bukit kita lewati. Benar benar rasanya seperti lautan bukit sepanjang jalan. Jalannya pun tidak lurus saja, kadang ke kanan dan kadang ke kiri.

Kalau kita ingat lagu “Naik-naik ke Puncak Gunung”, yaaa seperti itulah rasanya kira-kira (tapi pohon cemaranya diganti dengan pohon zaitun).

Saya berdiri di tengah-tengah bukit yang tandus dan hampir tidak berwarna

Kita adalah pengunjung pertama hari itu. Gerbangnya masih dikunci! Wah, saya sangat bangga. Saya dan Inji berteriak saking senangnya karena kita tidak melihat satu orang pun di sana. Langsung saja kita berjalan melalui jalan setapak.

Dari kejauhan terdengah suara “ning nong ning nong…” Lalu kita melongok ke bawah. Di kaki bukit, ada segerombolan domba dan gembalanya.

Setelah berjalan, berlari dan melompat kecil sepanjang jalan setapak yang berliku, akhirnya sampai juga kita di puncak bukit Mukawir. Di sana, berdiri berjajar pilar-pilar Korintian dengan batu-batu reruntuhan yang berserakan. Di sinilah tempat Yohanes pembabtis diperintahkan untuk dipenggal. Suasana di atas bukit begitu sunyi dan penuh kehampaan, warnanya saja hampir sama semua.

Hal itu meninggalkan impresi tentang gunung kematian.

Bapak Bedouin berjalan dengan santainya di jalan setapak

Selepasnya dari gunung kematian, kita berganti suasana dengan hiruk-pikuk kota kuno Karak. Di kota ini jalannya yang sempit-sempit, susunan kotanya yang berbukit-bukit, dan adanya kastil yang kelihatan megah di puncaknya. Kota dengan populasi 20,000 jiwa ini dibangun sejak jaman dinasti Ottoman. Karak juga sudah berpindah tangan dari Ottoman, Nabatian, Romawi, Byzantium dan Arab.

Kastil Karak termasuk besar dan seluruhnya terbuat dari batu. Sambil menyusuri kastil, kita bisa melihat tanda-tanda peradaban di dalamnya. Mulai dari pasar, kamar-kamar tempat tinggal, penjara pun ada di sana.

Sepertinya kastil ini berfungsi sebagai sebuah kota dulunya.

Ini lho yang disebut kastil Karak, dulu kastil ini memuat semua kegiatan kota.

Karak juga terkenal akan makanannya yang bernama ‘mansaf’, artinya makan besar atau paket jumbo. Pertama kali melihat bentuknya, saya agak jijik untuk memakannya. Sebabnya di makanan ini dicampur daging kambing, nasi dan yoghurt. Bayangkan saja harus mencoba makan nasi ‘benyek’. Untungnya, setelah masuk mulut, kita baru bisa merasakan nikmatnya mansaf. Kita sampai tambah 2 kali!
Dari dalam mobil, saya melihat pemandangan di luar jendela semakin lama semakin menarik. Formasi batu-batu yang besar tiba-tiba muncul di tengah padang rumput. Dari padang rumput lalu berubah menjadi pasir. Batu demi batu terus bermunculan. “Ini daerah Wadi Musa,” kata sopir kita Mohammad. Mobil berhenti dan sampailah kita di Little Petra (versi kecil dari Petra). Pemandangan yang terbentang di depan kita sangatlah cantik.

Saya juga berpikir, kalau ini Little Petra, bagaimana dengan Big Petra. Faktanya Little Petra tidak kecil sama sekali.

Ukiran bangunan batu pertama yang kita jumpai

Kita melihat pahatan di bukit batu yang pertama. Saya dan Inji sangat girang dalam mengambil foto. Semakin masuk ke dalam kompleks, semakin kita terpukau dengan keindahannya. Kita berjalan di atas pasir merah yang lembut. Di kanan kiri berjejer lubang-lubang pahatan pada bukit batu. Di akhir jalanan pasir, terlihat pijakan-pijakan batu yang sempit dan tinggi untuk menuju ke atas.

Papan yang bertuliskan “The best view in the world” terpasang di samping rute tersebut. Satu-satunya cara untuk mengetahui seberapa bagusnya pemandangan di atas adalah dengan NAIK ke atas.

Katanya ini pemandangan terbaik di dunia. What do you think?

Mohammad menawarkan atraksi melihat Petra di saat malam. Tentu saja saya dan Inji tidak mau melewatkan kesempatan ini.
Malam itu, setelah beristirahat sebentar di hotel dan menikmati Shawarma untuk makan malam, kita berangkat lengkap dengan senter, camera dan tripod. Angin malam yang sejuk menemani perjalanan ‘bersahaja’kita. Terlihat lilin-lilin menyala di sepanjang rute menuju Al-Khazneh (kuil di Petra yang terkenal). Ribuan bintang bertaburan di langit yang hitam kelam.

Jujur saja, tidak banyak yang bisa saya lihat malam itu. Awalnya pun, tercium bau kotoran kuda yang menyengat.

Meski tidak bisa melihat, yang kita rasakan sangatlah luar biasa.

Apalagi waktu kita sampai di celah di antar 2 batu yang besar dan tinggi sekali. Saya merasa kecil seperti ditelan bumi. Kita semua rombongan tour malam Petra, berjalan dengan 1 tujuan yang sama. Semuanya juga diingatkan untuk menjaga keheningan.

Bermandikan bintang dan cahaya lilin

Akhirnya sampai juga di Al-Khazneh yang megah. Saya berdiri di sana dan tidak bisa menutup mulut karena kagumnya. Meskipun sudah sering lihat gambarnya, Al-Khazneh yang asli tetap memukau. Apalagi hanya dengan disinari dengan cahaya lilin saja. Kita mengambil posisi untuk duduk bersila di atas hamparan karpet. Selanjutnya kita disajikan teh hangat sambil menikmati musik dan nyanyian yang dibawakan bangsa Bedouin.

Semua hening, hanya suara alat musik tiup, berganti dengan alat musik petik rebab yang diiringi dengan nyanyian Bedouin. Satu kata untuk mendeskripsikannya: INDAH.