Ingat soal film Indiana Jones di tahun 1989? Film yang dibintangi Harrison Ford tersebut berhasil menaruh tempat yang kita kunjungi hari ini ke dalam peta dunia.

Tidak salah lagi!!!  Hari ini kita akan mengunjungi Petra yang terkenal.

Peta Petra – property dari Atlas Tours

Dalam bahasa Yunani kuno dan Arab, Petra berarti batu. Persis seperti artinya, Petra adalah sebuah kota peninggalan bangsa Nabatean yang membentuk kotanya dari hasil pengukiran bukit-bukit batunya. Karena bentuknya yang impresif dan kaya akan sejarah, Petra merupakan destinasi utama turis di Jordan.

Sebelum kita sampai di sini, kita sudah banyak mendengar cerita tentang Petra dan betapa mengagumkan karya arsitekturnya.

Sebelumnya, kita juga sudah mendapat sedikit cuplikan dari tur malam kita di Petra. Meski demikian, tentu saja kita masih memiliki harapan tinggi akan keindahan tempat ini di bawah sinar matahari.
Langit biru menaungi Petra pagi itu. Udara pagi yang sejuk menyelimuti lautan gunung batu. Hari itu kita disambut oleh pemandu kita yang namanya Nem. “My name is Nem,” begitu sapanya.

Nem memperkenalkan diri sebagai aktor yang pernah muncul selama 1menit 51 detik di film Indiana Jones.

“My name is Nem,” kata pemandu kita yang mengaku pernah mnum teh bareng Harrison Ford.

Dia bercerita kalau dia memerankan salah satu tokoh prajurit yang mati 2 kali. Sampai saat ini, kita masih meragukan kata-katanya dan belum sempat memastikan kebenarannya.
Nem juga bercerita soal kunjungan perdana menteri Italia, Berlusconi ke Petra hari itu. Ya, dia akan ada di sana sekitar jam 10-11 pagi hari. Akan sangat menarik untuk bertemu presiden Italia di Jordan. Tetapi, saya dan Inji langsung memutuskan bahwa petualangan Petra jauh lebih menarik daripada hanya melihat Berlusconi dari kejauhan.

Petra adalah kota yang menyimpan banyak peninggalan dari jaman Nabatean. Sebelum kunjungan ini, saya terus terang belum pernah mendengar keberadaan bangsa Nabatean. Rupanya mereka adalah bangsa kuno di Jordan yang belakangan dikalahkan oleh bangsa Yunani-Roman dan lama-lama punah dari peradaban. Kota tua Petra adalah salah satu peninggalan mereka yang paling megah dan hebat.

Petra juga pernah diakui sebagai ibu kota peradaban bangsa Nabatean.

Dibangun sekitar tahun 1550-1292 SM, Petra menyimpan misteri yang layak untuk ditelusuri. Awal perjalanan kita disambut oleh lorong panjang yang dipanggil The Siq. Lorong panjang yang dibatasi dua permukaan batu yang tinggi, konon kabarnya berguna untuk mengalihkan banjir besar yang melalui dataran tersebut. Selain itu, kita juga diperlihatkan sistem pengairan yang luar biasa di kota Petra, di  mana air bersih dipisahkan dan disalurkan untuk dikonsumsi penduduk kota. Warna-warna batu di sepanjang lorong panjang itu sangat menawan. Hampir di setiap sudut, kita terpukau dengan warna batu yang dimandikan cahaya matahari.

Kadang berwarna kuning, oranye, coklat, merah sampai ungu. Warna-warna batu tersebut terus berubah karena sudut matahari yang juga terus bergerak.

Di sepanjang lorong, kita bisa melihat ukiran-ukiran dan pahatan yang dibuat oleh bangsa Nabatean. Kita bisa melihat ukiran-ukiran berupa kereta kuda ataupun onta. Dan akhirnya kita sampai di ujung lorong, di mana Al-Khaszeh mulai memperlihatkan kemegahannya. Al-Khazneh (the Treasury) adalah salah satu peninggalan kuil yang masih paling terjaga dan komplit. Hal itu dikarenakan lokasinya yang membelakangi arah angin.

Kebanyakan turis datang ke Jordan untuk melihat Al Khazneh

Al-Khazneh memiliki pengaruh yang kuat dari arsitektur Romawi dan Yunani. Terutama dari kemegahan kolom Korintian yang sangat dekoratif. Al-Khazneh bukan istana. Al-Khazneh digunakan sebagai tempat pemujaan. Sebenarnya kebanyakan bangunan di Petra adalah tempat pemakaman. Mirip dengan budaya borjuis jaman sekarang, orang yang memiliki harta akan membuat tempat pemakaman yang mewah dan diukir khusus oleh arsitek. Berbeda dengan makam orang kebanyakan yang dibuat oleh tukang biasa.

Selepas dari Al-Khazneh, kita berjalan menyusuri jalan utama di kota Petra. Di sepanjang jalan tersebut, kita bisa melihat teater, kuil-kuil, dan termasuk reruntuhan gerbang Hadrian yang megah juga. Dari situ kita bisa menyimpulkan bahwa kota tua Petra disusun dengan hirarki yang teratur; ada jalan utama yang berfungsi sebagai jalur sirkulasi utama, dan segala sesuatu yang lain disusun sepanjang jalan utama tersebut dengan gang-gang kecil di antaranya.

Pusat kota Petra dengan gedung pemerintahannya

Di kejauhan kita juga bisa melihat puncak gunung Harun, tempat Nabi Harun dimakamkan oleh nabi Musa. Puncak gunung yang keputihan itu memperlihatkan kemegahan alam di mana puncak tersebut berfungsi sebagai titik yang paling agung.

Perlu waktu kurang lebih 6 jam kalau mau mendaki Gunung Harun,
kata Nem. Sayangnya, kita tidak punya waktu sebanyak itu.

Akhirnya Nem melepas kita untuk jalan-jalan sendiri. Dia terlihat sangat terburu-buru, mungkin karena dia mau mengejar Berlusconi. Langsung saja, saya dan Inji melanjutkan petualangan ala Indiana Jones. Kurasakan matahari sudah semakin tinggi, dan ini saatnya untuk menanggalkan beberapa lapis baju kita supaya lebih mudah untuk bergerak.

Seperti kebanyakan orang, destinasi utama kita adalah mencapai El Deir (kuil utama di atas bukit). Kita mendapat informasi yang simpang siur, beberapa bilang butuh 4 jam, beberapa bilang butuh 2 jam. Saya dan Inji percaya bahwa kita lebih baik dari kebanyakan orang, dan kita pasti lebih kuat dan lebih cepat. Hahaha…

Sepanjang perjalanan ada ratusan Bedouin (bangsa nomad di Jordan) yang menawarkan jasa keledai.

Ok, saya sedikit melebih-lebihkan, bukan ratusan, tetapi cukup banyak. Sampai capai mulut ini menolak tawaran mereka. Bukannya sombong, tetapi keledai-keledai itu bau sekali dan gembel. Bayangkan kalau kulit saya harus bergesekan dengan keledai-keledai jorok itu.

Keledai yang sedang berjemur di atas bukit batu

Kita mulai mendaki gunung batu itu satu langkah demi satu langkah. Perlahan tapi pasti, begitu semboyan kita. Perjalanan ke atas tidaklah terlalu buruk. Sebabnya, rute untuk ke atas sudah dirapikan oleh pihak pengelola sehingga mudah untuk dilalui. Di tengah perjalanan, saya dan Inji seiring bercanda membicarakan barang baru yang kita lihat sambil terus makan camilan sehat yang kita beli di supermarket malam sebelumnya. Saya dan Inji merasa bahwa kita mirip 2 ekor marmut yang tidak bisa diam mengunyah.

Di tengah perjalanan, kita menemui kedai kecil yang keren sekali. Restorant di atas gunung, demikian namanya.

Kita memutuskan untuk berhenti sebentar untuk menikmati teh Bedouin dan pemandangan luas bukit-bukit batu. Restorannya kecil, tapi sangat menarik. Restoran kecil itu terbuat dari bangunan kayu yang sederhana. Hamparan-hamparan karpet Bedouin yang kaya warna menutupi semua tempat duduk yang tersedia.

Inji bergaya seperti superman di depan Al Dei atau monastery

Tidak lama dari situ, kita akhirnya tiba di Al Dei. Ukiran batu yang kokoh berdiri dengan megahnya di tengah padang terbuka. Di sekitarnya, kita juga bisa melihat banyak kuil-kuil lain,tetapi Al Dei adalah yang termegah di atas bukit itu. Saya berusaha menjepret foto dari berbagai sudut, dan saya menemukan sudut terindah untuk menikmati Al Dei adalah dari atas bukit di seberangnya. Saya dan Inji juga menyusun tumpukan batu yang menandakan kita pernah di sana. Inji selalu memberi sentuhan spesial dengan menyisipkan dedaunan di antara batu tersebut.

Tak jauh dari Al Dei, banyak terpasang tanda jalanan yang mengarahkan ke “akhir dunia”, “pemandangan pegunungan Palestina” dan “pemandangan terindah di dunia”. Kadang saya merasa geli dengan deskripsi yang mereka gunakan.

Kita memilih untuk berjalan menuju pegunungan Palestina. Benar saja! Salah satu pemandangan terindah di dunia. Pegunungan Palestina terlihat sebagai latar belakang pegunungan batu Jordan. Kontras warnanya. Hitam di depan dan kuning keemasan di belakang. Kita memutuskan untuk menikmati camilan lagi dan beristirahat sejenak.

Saya berpikir, bila ada orang yang hanya menghabiskan waktu  15 menit sampai 2 jam saja di Petra dan melewatkan pemandangan ini, alangkah ruginya.

Perjalanan ke bawah tidak se-asyik  perjalanan ke atas. Hal ini dikarenakan bertambahnya jumlah wisatawan di siang hari. Di samping itu, banyak keledai dan kuda yang lalu lalang.

4 kuil yang berjejer di atas bukit

Kita melanjutkan petualangan kita melihat gereja peninggalan Byzantium dan karya mosaicnya, lalu 4 kuil yang berjejer di atas bukit (salah satunya adalah silk temple) dan lain-lain (seandainya saya ahli arkeologi, saya akan menjelaskan semuanya hahaha).

Salah satu pemandangan yang membuat saya terkesima adalah pemandangan tentang ketidak-adaan. Apa maksudnya?

Saya tidak bermaksud membuat bingung, tetapi coba bayangkan tempat di mana perang barusan terjadi. Tidak ada pohon, kering kerontang, pasir dan debu, batu-batu berserakan di mana-mana dan banyak gua-gua di permukaan bukit. Nahh.. pemandangan seperti itu membuat saya dan Inji berpikir. Ini waktunya untuk akting jadi prajuri gerilya. Langsung saja saya pakai syal khas dengan motif Palestina (keffiyeh atau hatta namanya).  Saya ambil ancang-ancang untuk menjalankan aksi selanjutnya.

Lalu  saya mulai berlari dengan gaya yang sangat meyakinkan dan cciiiiaatttt… kita beraksi!!!

Gara-gara terbawa suasana padang pasir dengan goa-goanya, akhirnya kita memutuskan untuk berakting jadi gerilyawan.

Petualangan di Petra tentu belum lengkap tanpa pertemuan dan interaksi dengan suku Bedouin. Seorang lelaki Bedouin cilik menarik perhatian kita. Mukanya lucu dan sangat nakal, senyumnya jenaka dan rambutnya ikal. Dia tengah bermain dengan keledai dan tongkatnya. Dia terus-terusan berteriak menggoda keledainya sambil tersenyum. Selain mukanya yang lucu dan nakal, yang menarik perhatianku adalah sepatunya yang unik. Dia mengenakan sepatu crocs warna merah muda. Mungkin bekas kakak perempuannya.

Di akhir petualangan, kami berpapasan dengan segerombolan wisatawan dengan jaket oranye. Ini pertama kalinya kita berjumpa sesama turis Indonesia dalam petualangan Jordan kita. Mereka tengah memandangi Al Khazneh sambil berpose di depannya. Setelah selesai mengabadikan foto, mereka langsung berbalik arah dengan kereta kudanya dan meninggalkan Petra.

Saat itu, saya berpikir… Saya telah membuat keputusan yang lebih baik dari mereka. Saya menikmati Petra yang sesungguhnya, bukan hanya menikmati ‘postcard moment’.

Informasi lebih lanjut tentang Petra : klik di sini 🙂