Wadi Rum … saya sungguh penasaran sama tempat yang satu ini. Wadi Rum sering diasosiasikan dengan figur T.E. Lawrence, seorang tentara Inggris yang ditugaskan di Mesir untuk mengatasi tentara Ottoman dari Turki selama Revolusi Arab.

Padang pasir Wadi Rum ini menjadi terkenal sekali setelah menjadi setting film Lawrence of Arabia (1962), yang menceritakan tentang pengalaman Lawrence waktu melakukan penyerangan ke Aqaba dan Damascus.

Wadi Rum

Guide kita di Wadi Rum adalah seorang Bedouin bernama Aish. Tidak semua orang bisa menjadi guide di Wadi Rum, cuma suku Bedouin yang tinggal nomaden di sana saja yang bisa menavigasi tanpa GPS atau kompas dan tidak nyasar. Saya yakin 100% orang awam pasti  bakal nyasar di tempat ini kalau nekat mau jalan sendiri.

Corat-coret di batu dipakai sebagai penunjuk jalan

Sarana transportasi yang tersedia di sana cuma 2 macam: unta atau mobil jeep 4wd. Berkeliling dengan unta sebenarnya lebih terkesan real desert experience, mengingat ini adalah padang pasir, tapi karena waktu yang mepet, saya dan Titine memilih naik mobil jeep butut untuk berkeliling di padang pasir Wadi Rum. Selama sekitar 4 jam kita diajak putar-putar untuk melihat tempat-tempat menarik seperti:

  • Lawrence Spring – sebuah sumber mata air gurun. Jika tidak yakin tepatnya di mana, cari saja sebuah pohon ara besar (fig tree) di atas sebuah bukit batu. Keberadaan pohon ara ini membuktikan adanya sumber mata air di dalam tanah.

Demi mencari Lawrence Spring, kita rela panas-panasan manjat

  • Lawrence House – rumah tempat Lawrence tinggal selama di gurun, yang sekarang hanya tinggal puing-puingnya saja. Posisinya membelakangi batu besar sehingga cukup teduh dan terlindung dari badai pasir. Selagi terkagum-kagumnya saya sama rumah si Lawrence ini, tiba-tiba ada suara “brukk!”. Pas saya menoleh ke belakang, Titine sudah nyungsep mencium tanah. Rupanya dia saking asiknya foto-foto lupa lihat ke bawah.
  • Sand dunes – bukit-bukit pasir yang asik buat perosotan, walaupun untuk naik ke atasnya lumayan capek. Setiap tiga langkah ke atas saya terperosok satu langkah ke bawah. Buat yang pingin cepat kurus, mungkin bisa latihan naik turun di sini … di jamin dalam 1 minggu bisa turun beberapa kg.

Sepatu pun jadi berat karena kemasukan pasir melulu

  • Burdah Rock Bridge – jembatan batu terbesar di Wadi Rum. Demi punya foto keren, saya dan Titine juga ikutan turis-turis lain manjat naik ke atas setinggi 35m. Sebenarnya agak bahaya karena batunya curam dan tidak ada tali pengaman, kalau jatuh ke bawah kemungkinan besar nyawa saya melayang.

Ada baiknya punya travel insurance sebelum pergi

  • Sunset di Wadi Rum – sambil menggelar tikar dan minum teh manis hangat, kita diajak menikmati matahari senja yang perlahan-lahan terbenam. Cantik sekali.

Petualangan di Wadi Rum ini rasanya masih kurang komplit kalau saya tidak bermalam di tempat ini. Saya sebenarnya cuma penasaran dengan cara hidup suku Bedouin yang nomaden ini. Seperti apa sih rasanya tinggal di tenda Bedouin itu?

Tenda sederhana Bedouin

Buat yang penasaran juga, bisa melirik website Rum Stars, salah satu operator budget di Wadi Rum. Walau campsite-nya dibuat versi turis, tapi lumayan otentik lah buat anak kota macam saya ini.

Menu makan malam hari itu adalah kebab daging dan sayuran. Kalau biasanya kebab itu dipanggang ala tukang sate, kebab ala Bedouin ini sedikit beda cara masaknya. Daging dan sayuran tidak di sate, tapi ditaruh di dalam panggangan bertingkat lalu masukkan ke dalam drum yang kemudian dikubur di dalam tanah. Apinya juga ada di bawah tanah, jadi dari atas tidak kelihatan asap sama sekali. Saya tidak menyangka gitu-gitu rasa kebabnya lumayan enak juga.

Kebab Bedouin (Source: Rum Stars)

Sesudah makan malam, saya dan Titine menyempatkan diri untuk berkenalan dengan tamu-tamu lain di dalam camp. Menarik sekali mendengar cerita-cerita perjalanan mereka. Ada seorang petualang wanita dari Australia bernama May, dia sudah keliling dunia sendirian selama beberapa bulan sebelum sampai di Jordan ini. May sangat tergila-gila dengan yoga dan dia berencana untuk mendalami yoga di sebuah ashram di India sebelum mengakhiri trip around the world-nya.

Kecintaan May dengan yoga mungkin bisa dibilang hampir seperti obsesi. Malam itu dengan pedenya dia berkenalan dengan semua orang di camp dan mengajak kita semua ikut acara yoga pagi bersama dia. Sayangnya tidak banyak yang seniat dia buat bangun pagi. Yang setuju cuma saya, Titine, dan dua pemuda Inggris, Paul dan Sebastian (yang kucel banget penampilannya – mungkin jarang mandi). Paul dan Sebastian ini ternyata juga lagi backpacking-an keliling dunia … jadi saya maklumi deh penampilan kucelnya.

Keesokan paginya, dengan susah payah dan terkantuk-kantuk saya dan Titine memaksakan diri bangun untuk ikutan yoga. Di luar tenda ada May, Sebastian dan Paul yang sudah siap di atas tikar. Kita berlima berdiri berjejer menghadap arah Timur sembari mengikuti gerakan May “menyambut matahari terbit”, saluting the sun. Acara yoga berlangsung sekitar 30 menit, lumayan refreshing. Saya yang tadinya masih merem-melek jadi segar kembali sesudah beryoga ria.

Gerakannya kacau balau karena masih ngantuk

Hanya sehari semalam kita habiskan di Wadi Rum, tapi rasanya padat sekali aktivitas-aktivitas di sini. Saya yakin masih banyak tempat-tempat lain di Wadi Rum atau wadi-wadi lain yang bisa dikunjungi, sayang waktu saya terbatas. Padahal saya sudah melirik paket canyoning di Wadi Mujib …

Bisa canyoning seperti ini nih impian saya… (Source: jordanjubilee.com)