Setelah berhari-hari disuguhi pemandangan kota tua dan padang pasir, akhirnya kali ini saya dan Titine bisa juga ganti suasana. Tidak jauh letaknya dari Wadi Rum, ada sebuah kota pelabuhan bernama Aqaba.

Dari Aqaba kita bisa melihat Israel, Mesir dan Arab Saudi (Source: BBC)

Aktivitas yang paling populer di Aqaba adalah menyelam dan snorkeling di Laut Merah. Mohammad menyarankan agar kita naik yacht (sejenis kapal pesiar kecil) untuk bersnorkeling ria di tengah laut.

Pada hari itu sebagian besar anggota yacht kita adalah turis Spanyol yang tidak terlalu bisa bahasa Inggris. Grup Spanyol ini mayoritas beranggotakan ibu-ibu setengah baya yang gemuk-gemuk (tapi pedenya bukan main…). Saya dan Titine lumayan shock waktu lihat seorang ibu dengan cueknya buka baju dan ganti bikini di tengah kapal. Tidak hanya sekali saja, tapi beberapa kali gonta-ganti bikini kayak mau fashion show saja. Sepertinya dia memang sengaja mau pamer bodi ke orang-orang atau entah apa deh tujuannya buka-bukaan … yang jelas sih dia nggak sadar kalau sudah bikin saya eye sore dan eneg (untung nggak kefoto nih ibu waktu ganti baju!).

Selain ibu centil itu juga ada seorang pemuda yang kakinya dibalut dan jalan terpincang-pincang. Saya dan Titine tidak habis pikir, mungkin orang-orang Spanyol itu sangat mencintai laut ya, sampai-sampai kaki pincang pun masih mau snorkeling-an di tengah laut.

Ibu Spanyol itu buka-bukaan di atas dek kapal yang terbuka seperti ini

Tibalah saatnya yang kita nanti-nanti, yaitu nyemplung di Laut Merah. Sebelumnya kita diberi instruksi untuk berhati-hati sewaktu berenang, agar tidak merusak koral di laut. Untuk sekedar informasi, koral-koral di laut butuh waktu sekitar 1 tahun untuk tumbuh 0.5-1cm. Jadi, berhati-hatilah waktu snorkeling di laut, jangan sampai menginjak koral, apalagi mencomot untuk dibawa pulang!

Koral-koral di Laut Merah

Kesan pertama saya sewaktu nyebur di Laut Merah: DINGIN!! Suhu airnya mungkin di bawah 20 derajat. Saya berenang sambil menggigil demi motret kehidupan bawah laut. Tempat kita bersnorkeling dalamnya hanya sekitar 3-5m, semua koral-koral dan ikan-ikannya terlihat lumayan jelas dan cantik. Saya yakin kalau bisa diving di Laut Merah ini, pasti menarik sekali keaneka ragaman penghuni lautnya.

Binatang-binatang laut yang kita jumpai

Lokasi tempat kita bermain air ternyata tidak jauh dari hotel, Tala Bay nama daerahnya. Daerah ini termasuk daerah baru dan agak jauh dari pusat kota Aqaba, perlu sekitar 20 menit berkendaraan. Daerah Tala Bay didominasi oleh resort-resort megah dengan pantai pribadinya. Tidak terdapat hotel bintang tiga di sini, semuanya berkelas bintang empat atau lima.

Resort yang kita tempati bernama Marina Plaza, sangat megah bagi saya yang biasanya backpacking-an dan tinggal di hostel. Seleksi sarapan pagi yang ditawarkan Marina Plaza pun luar biasa banyak macamnya, tapiii … sayang sekali saya lagi puasa waktu itu, jadi tidak bisa ikutan menikmati makanan-makanan lezat 🙁

Tidak kalah dengan bule-bule Spanyol, ibu-ibu di Jordan ternyata juga suka berenang

Malam harinya saya dan Titine menyempatkan diri untuk pergi ke downtown Aqaba. Kebetulan ada backpacker lain yang juga mau ke pusat kota (sesama backpacker rata-rata gaya pakai bajunya mirip, jadi gampang dibedakan sama turis lain). Jadilah kita berbagi taksi dengan backpacker lain demi menghemat.

Sok-sokan bergaya lokal, saya dan Titine memilih membeli makan malam di sebuah restoran kecil yang tidak ada menu bahasa Inggrisnya. Untungnya pemilik restoran cukup sabar melayani dua turis nyasar macam saya dan Titine. Kita berdua sebenarnya lumayan adventurous soal makanan. Makin aneh nama makanannya justru makin bikin penasaran (walau ujung-ujungnya nggak habis dimakan juga).

Berada di sebuah negara yang bahasa ibu-nya bukan Inggris, meminta menu dalam bahasa Inggris memang membantu, tapi juga bikin bingung. Sewaktu saya dan Titine berada di Amman, kita mencoba sebuah restoran bernama Lebnani Snack. Menunya kira-kira seperti ini:

Saya dilema mau pilih tantangan yang mana

Suasana di downtown Aqaba ternyata jauh lebih meriah dibandingkan kota-kota lain di Jordan yang sudah kita kunjungi. Toko yang paling populer di sana adalah toko yang menjual kacang-kacangan. Setiap pembeli paling tidak membawa dua bungkusan besar, seolah-olah besok kacang tidak akan dijual lagi.

Toko penjual kacang-kacangan

Selain kacang, yang populer juga adalah ….. Indomie. Hampir setiap toserba pasti menjual Indomie. Papan-papan iklan Indomie dalam bahasa Arab banyak terpampang di pinggir jalan.

Ah … you are from Indonesia. We also have Indomie here.

Yah, walau mesti di asosiasikan dengan Indomie, saya lumayan bangga paling tidak orang Indonesia juga di kenal di Jordan.