Teman saya Emad (orang Jordan asli) pernah bercerita bahwa Amman adalah kota yang sangat menarik. Hal ini dikarenakan pusat kota tua Amman tetap berfungsi sebagai mana layaknya kota perdagangan jaman dulu, dan tidak terpengaruh dengan pembangunan gedung-gedung bertingkat yang mewah.

Orang-orang dari berbagai level sosial ekonomi masih tetap tinggal di pusat kota dan memiliki mata pencarian. Coba kita bandingkan dengan kota Jakarta, jalan Sudirman-Thamrin-Kuningan sudah penuh dengan gedung pencakar langit. Daerah Menteng sudah tidak terjangkau lagi harganya. Hal ini mengakibatkan penduduk asli Jakarta makin lama makin tersingkir ke luar.

Jalan-jalan di Rainbow Street sambil cuci mata

Amman yang pada jaman pemerintahan Masedonia disebut Philadephia adalah kota terpadat dan terbesar di Jordan. Amman terkenal kaya akan kebudayaan yang beragam. Tempat-tempat yang kita kunjungi meliputi:

Reruntuhan Amman Citadel, bekas peninggalan bangsa Romawi

  1. Mesjid King Abdullah I. Memang tidak semegah Hagia Sophia di Turki, tetapi atap birunya cukup impresif.
  2. Amman Citadel atau Jabal al-Qal’a adalah salah satu peninggalan tertua yang hampir selalu ada penghuninya sejak jaman Neolitik. Konon kabarnya, tempat ini pernah dihuni selama 7000 tahun lamanya. Di samping itu, Amman Citadel juga dijadikan simbol perkembangan 3 agama monoteis; Yahudi, Kristen dan Islam.
  3. Kota tua Amman dengan pasar dan jalan kecilnya.

Wajah si biru yang cantik

Amman Citadel yang letaknya di atas bukit. Dari situ kita bisa melihat pemandangan kota Amman yang berbukit-bukit dengan ciri arsitektur yang khas. Hampir semua rumah dan bangunan bentuknya kota-kotak seperti tumpukan kardus. Di tengah tumpukan kardus tersebut, berdiri tiang bendera tertinggi di Jordan.

Lucu juga kalau melihat rumah-rumah di Amman. Hampir semua bangunan di sini dipenuhi kepingan piringan satelit. Sepertinya warga Amman tidak mau ketinggalan berita dan hiburan dari luar negeri.

Kotak-kotak seperti kardus, Dan lihat piringan satelitnya! Masing-masing pasti punya!

Di pusat kota tua Amman, kita dibawa untuk melihat dari dekat kehidupan lokal orang-orang kota. Saya dan Inji menyusuri Jalan Al-Rainbow yang merupakan salah satu jalan utamanya, dan mulai memasuki gang-gang kecil diantaranya. Sampailah kita ke pasar tradisional di mana kita melihat segala sesuatu yang besar.

Apa yang besar?

Semua buah-buahan dan sayuran di sini ukurannya luar biasa.

Bayangkan, kita bisa melihat tumpukan kol yang besarnya melebihi bola basket. Belum lagi tomat, stroberi, terong dan lain-lain. Semuanya besar!!!

Pasar tradisional di Amman

Buah-buah berukuran raksasa

Sebelum meninggalkan Amman, saya dan Inji juga menyempatkan diri untuk mengunjungi gereja Katolik di sana. Sekaligus untuk merayakan Paskah. Karena kita tidak mengerti bahasa Arab, kita memutuskan untuk ke gereja internasional yang ternyata penuh dengan orang dari Filipina. Dari dulu, saya selalu mau memiliki alkitab dalam bahasa Arab. Maksud hati ingin beli, tetapi karena keterbatasan waktu, akhirnya saya putuskan untuk mengambil dari gereja dan meninggalkan uang lebih untuk persembahan. Rasa bersalah tentu saja ada, hmmm… yang penting sudah dapat!!! Sekarang kita bisa meninggalkan Jordan dengan tenang 🙂

Kedai makanan manis Habiba yang terkenal

Inji melompat di atas kota Amman