Halo, perkenalkan nama saya Mels. Mei lalu saya baru aja menelusuri salah satu kota kecil di Italia Selatan, nama kotanya adalah Matera. Boleh dibilang ini salah satu petualangan yang mengesankan karena ini pertama kalinya saya mencoba untuk jalan sendiri tanpa ikut tur. Bersama dengan 2 sahabat saya, Eli dan Jane, kami mengelilingi 5 negara (17 kota) di Eropa Barat dalam 24 hari.

Matera adalah salah satu kota dimana masih dapat ditemukan hamparan goa-goa prasejarah yang masih digunakan penduduknya sampai tahun 1950-an untuk tinggal bersama dengan hewan ternakannya, tanpa ada listrik dan sistim pengairan yang baik. Goa-goa tersebut dikenal dengan istilah Sassi dan termasuk dalam Unesco World Heritage Site.

Ide berkunjung ke tempat ini muncul pada saat saya melihat artikel mengenai Matera di salah satu majalah penerbangan. Dan yang menariknya lagi, Sassi ini ternyata adalah salah satu lokasi syuting film “Passion of the Christ”, karena wilayah ini disebut-sebut bisa menggambarkan kota Yerusalem pada jaman dahulu.

Siapa yang tidak suka kalau disuguhi pemandangan seperti ini

Kami bertiga berangkat dari Milan dengan bis malam dan sampai di Matera paginya setelah menempuh perjalanan sekitar 10 jam-an.

Saat tiba di sana, dengan tampang teler dan ngantuk, kami bertiga turun dan panik seketika karena kami diturunkan bukan di stasiun atau tempat perhentian bis, tapi di tengah-tengah pasar tradisional!

Tidak ada taksi, tidak terlihat kendaraan umum dan penumpang lain yang turun di Matera, semuanya dijemput oleh kerabatnya. Kami bertiga seperti terdampar. Eli dan Jane Cuma berdiri bengong dan bertanya, “Bagaimana kita ke hotel nih?”

Langsung tanpa pikir panjang lagi saya menelepon ke hotel, tapi apesnya … resepsionis hotel tidak menemukan kode bookingan dan nama saya!!! Mengingat pulsa telpon internasional itu MAHAL, saya memaksa dia untuk menyediakan jemputan terlebih dahulu dan nanti baru saya jelaskan lebih lanjut sesampainya di hotel.

Saat menunggu jemputan dari hotel, tiba-tiba ada supir taksi yang lewat dan menganggukan kepala pada Eli sambil berteriak, “Konichiwa!” hahaha… Eli memang sudah seringkali disangka orang Jepang karena tampang dan perawakannya mirip. Jane yang berdiri di sampingnya cuma bisa tertawa ngakak.

Kami bertiga memang berbeda dari segi perawakan dan tampang. Eli lebih mirip Japanese, Jane mirip Chinese, dan saya … sepertinya orang-orang lokal sana agak bingung menebak darimanakah makhluk yang satu ini (karena warna kulit saya yang agak gelap dan mata belo).

Pernah suatu saat ada yang menebak saya dari Afrika karena saya memakai baju batik gombrong. Mereka mengira itu adalah baju tradisional Afrika. Sedihnyaaa….sia-sia menunjukkan pakaian tradisional Indonesia, saya malah disangka orang Afrika!

Ok lanjut ceritanya. Ternyata yang menjemput kami itu bukan kendaraan resmi dari hotel, mungkin lebih tepat disebut “taksi gelap”. Supirnya cukup buka jendela dan berseru “Basiliani Hotel?”. Kami pun langsung naik tanpa ragu-ragu. Maklum, semalaman di bis, pagi ini otak kerjanya baru 10%. Untung saja ini betul-betul taksi utusan hotel.

Selama perjalanan ke hotel, belum terlihat sisi menariknya dari Matera. Tiba tiba saat mobil membelok di salah satu tebing, sopirnya langsung berkata, “Welcome to Matera!” dan WOW!!!! Di balik tebing itu terhampar bukit bergoa-goa yang dihiasi padang rumput Belvedere Path.  Benar-benar takjub, serasa masuk ke dalam sebuah mesin waktu. Sesaat terlihat kota modern, hanya dengan sekali membelok langsung berubah mundur ribuan tahun.

Kalau nyasar di sini, apa gak bingung coba?

Saat tiba di hotel, saya baru tahu ternyata saya memang sudah booking, tapi salah tanggal! Beruntung sekali kami hari itu karena Paula, si pemilik hotel, mengatakan ada 1 keluarga yang check out tiba-tiba hari ini. Tapii…kamar itu baru siap jam 1 siang dan saat itu baru jam 10 pagi. Jujur… saat itu saya sudah pingiin banget nempel ranjang rebahan. Paula sepertinya mengerti dan kasihan melihat tampang kita bertiga yang lumayan kusut. Dia lalu menawarkan makan pagi dan istirahat sejenak di ruang makan hotel sambil menjelaskan kegiatan apa saja yang bisa kami lakukan sambil menunggu kamar kami siap.

Hotel Basiliani ini terdiri dari 10 goa, alias 10 kamar. Resepsionis dan ruang makan semuanya berbentuk goa. Bayangkan, goa yang akan kami tinggal itu pada jaman dahulu adalah rumah bagi 1 keluarga beserta hewan-hewan ternakan mereka, seperti kuda dan ayam (kebayang nggak sih tinggal sama kuda dan ayam di 1 ruangan?). Saat ini goa itu hanya dihuni 2-4 orang. Restoran, supermarket, café, gereja, semuanya berbentuk  goa.

Untuk menghabiskan waktu sambil menunggu kamar siap , kami pun mulai menelusuri Sassi. Begitu keluar goa, duh… puanass dan teriknyaaa. Beda sekali suhunya dengan di dalam goa yang adem dan lembab.

Bagian dalam hotel Basiliani

Daerah Sassi boleh dibilang tidak ada dataran yang rata, semua serba naik turun dan berbatu-batu. Pada saat jam 2 siang, semua toko tutup untuk afternoon siesta atau istirahat siang. Banyak kota-kota kecil di Eropa yang menerapkan afternoon siesta ini. Bahkan restoran pun seandainya buka, mereka sudah tidak menyediakan makan siang lagi, tapi hanya menyiapkan minuman saja.

Salah satu pengalaman yang seru kalau jalan sendiri tanpa ikut tour yaitu bebas menentukan rute mana yang ingin dijelajah. Wajar juga apabila sering tersesat.  Kami baru mulai melihat peta pada saat sudah terlanjur tersesat dan ingin mencari jalan balik. Karena salah jalan inilah kita malah menemukan kawasan tempat tinggal penduduk lokal Sassi yang bukan merupakan kawasan turis. Menelusuri gang-gang kecil, kami dihibur dengan dentingan alunan piano yang sayup-sayup terdengar dari salah satu rumah di sana. Pengalaman seperti inilah yang benar-benar berkesan buat saya, karena saya bisa melihat sisi lain dari Matera yang tidak komersil.

Sayangnya miniatur Sassi ini tidak muat di koper saya

Saat balik ke hotel, wow … saya masih belum percaya betul bahwa malam itu saya bakal beneran tinggal di dalam goa. Walau setiap kamar ada AC dan alat pengurang kelembapan udara, tapi ruangan di dalam kamar tetap saja super lembab. Saya pun baru tahu betapa lembabnya ruangan kamar karena tidak ada satupun pakaian saya yang kering setelah dijemur 2 hari didalam ruangan. Akhirnya setelah 2 hari menunggu, kami memutuskan untuk menjemur di luar ruangan dengan bantuan bangku dan meja. Hanya dalam waktu 1-2 jam semua pakaian sudah kering! Hebat kan perbedaan “cuaca” antara dalam dan luar ruangan?

Suasana kawasan Sassi pada saat siang dan malam hari ternyata cukup berbeda. Kalau saat siang hari jarang terlihat orang yang berkeliaran selain turis, pada saat malam hari banyak kaum muda dan tua yang berkumpul di tengah lapangan dan bersantai. Malam itu juga terdengar hentakan music rock entah dari arah mana, benar-benar kontras suasananya dengan waktu siang hari yang sepi. Karena kebiasaan orang lokal yang baru mulai makan malam jam 8-9an, restoran pun tetap ramai sampai jam 10. Pada saat mampir jam 7 untuk makan malam, kami adalah tamu pertama di restoran itu.

Salah satu kegiatan yang tidak boleh dilewatkan saat di Matera adalah jalan menyusuri kawasan padang rumput Belvedere untuk melihat keseluruhan pemandangan prasejarah Sassi. Saya dan Jane memutuskan untuk ikut kegiatan ini pada hari ke-2, yang dimulai pada jam 5.30 sore. Cukup mendaftar lewat resepsionis hotel dan mereka akan menunjukkan dimana tempat untuk bertemunya. Saat menuju ke lokasi pertemuan, saya dan Jane diantar oleh supir hotel dan lucunya, sepanjang perjalanan kami berdua diperhatikan penduduk setempat layaknya alien yang baru nongol di sana.

Begitu tiba di tempatnya, saya baru tahu ternyata cuma kami berdua yang ikut tur ini!!! Guide-nya, bernama Nicholas, datang menjemput kita dengan mobil pribadinya disertai satu temannya, Pietro, yang cuma nimbrung ikut. Nicholas lalu mengajak kita berkeliling mengunjungi bekas peninggalan gereja jaman dulu, tempat membuat wine dan tempat pembuatan keju. Semuanya tentu saja di dalam goa.

Hampir semua kegiatan dilakukan di dalam goa seperti ini

Pemandangan dari Belvedere Path sangat berbeda dengan Sassi. Dari sini terlihat tebing-tebing curam dihiasi pemandangan kawasan Sassi . Apalagi pada saat jam 8 waktu matahari mulai pelan pelan tenggelam, beberapa rumah Sassi sudah mulai menyalakan lampu kuningnya, dari kejauhan terlihat seperti kunang-kunang. Konon menurut Nicholas, kawasan Belvedere ini sempat digunakan oleh Mel Gibson untuk menggambarkan Bukit Golgota dalam “Passion of the Christ”, tempat dimana Yesus disalibkan.

Kota Sassi terlihat sangat romantis waktu malam hari

Di tengah perjalanan tiba-tiba kami mendengar seruan penduduk Sassi saat kami berada diatas bukit. Ternyata hari itu ada pertandingan bola antara Italia melawan Spanyol. Rupanya Italia baru saja mencetak gol pertamanya ke gawang Spanyol. Nicholas adalah salah satu penggemar sepak bola dan saat mendengar seruan itu, cepat-cepat dia menelpon mamanya untuk menayakan hasil dari pertandingan itu. Wajahnya seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan saat mendengar bahwa Italia berhasil mencetak gol pertamanya.

Malam terakhir di Matera, kami ikut bergabung dengan penduduk lokal untuk merasakan bagaimana biasanya mereka menikmati suasana malam di Matera. Kami diajak naik ke atas bukit dan duduk disana sambil menikmati pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang sambil minum white wine. Orang-orang lokal Matera, yang tadinya menyangka kami ini alien, ternyata cukup terbuka saat diajak berkomunikasi.

Topik pembicaraan kami beraneka ragam, mulai dari soal politik, gaya hidup sampai drakula dan tokoh kartun seperti smurf, dragon ball, dan sailor moon!

Saat mereka menanyakan bagaimana pandangan orang Indonesia terhadap orang Italia, Eli dengan polosnya menjawab, “Casanova!”. Terbahak-bahak mereka mendengar jawaban itu (mungkin bangga juga dalam hati).

Foto bersama teman-teman baru di Matera

 

Mels, Eli dan Jane adalah tiga sahabat dari Jakarta yang backpacking-an ke Eropa untuk pertama kalinya. Merasa sumpek dengan rutinitas kerja yang monoton, ketiganya nekat merencanakan perjalanan 24 hari ini. Walau tidak semua yang direncanakan berjalan seperti harapan, tapi mereka justru mengalami banyak kejadian lucu dan unik, seperti kisah petualangan di Matera ini.