Salah satu destinasi impian saya yang belum kesampaian hingga saat ini adalah mencapai propinsi Tibet di bagian barat negara Cina. Yang menjadi kendala utama tidak lain adalah masalah waktu dan uang. Yah gimana lagi, namanya anak kantoran mana bisa cuti semena-mena. Belum lagi ongkos untuk ke sananya lumayan bikin kantong kering.

Karena pingin banget ke Tibet ini nih, saya jadi nemu kota Xiahe yang nuansanya agak mirip dengan propinsi Tibet. Kalau menurut Titine, kota Xiahe ini ibaratnya “Tibet tanpa permit”, nggak perlu repot-repot ngurus ijin masuk. Biaya yang kita keluarkan pun relatif murah (1/5 ongkos ke Tibet) karena kota ini tidak sekomersil Lhasa.

Perjalanan menuju Xiahe (source: google map)

Kota Xiahe terletak di bagian selatan propinsi Gansu, salah satu propinsi termiskin di negara Cina. Satu-satunya cara untuk mencapai kota ini adalah dengan naik bus umum selama ± 4 jam dari ibukota Lanzhou. Berbeda dengan kota Lanzhou yang memiliki banyak populasi etnis muslim Hui, mayoritas penduduk kota Xiahe adalah etnis Tibetan yang beragama Buddha.

Daerah muslim di kota Lanzhou (banyak yang jualan ayam bakar!)

Kota Xiahe yang bernuansa Buddhist

Kota Xiahe berbeda sekali dengan kota-kota lain di negara Cina yang padat dan serba cepat pace-nya. Di sini semua serba santai. Penduduk suku Tibet memang sepertinya lebih cenderung memilih kaya dalam hal spiritualitas, bukan dalam hal materi.

Berbicara soal spiritualitas, saya perlu cerita sedikit mengenai salah satu cara berdoa umat Buddha Tibet ini. Istilah dalam bahasa Inggrisnya disebut prostration atau sujud. Kira-kira posisinya seperti gambar di bawah ini.

Cara sujud Tibetan Buddhist (source: www.fpmt.org)

Saya dan Titine sempat melihat seseorang berjalan sujud mengitari Labrang monastery sejauh 3km. Setiap dua langkah dia berhenti untuk bersujud. Begitu seterusnya sampai selesai 3km, hebat kan? Orang itu sampai harus pakai alas di tangan, perut dan dengkul supaya tidak lecet atau sobek bajunya.

 

Awalnya saya pikir jalan sujud sejauh 3km ini lumayan ekstrim, tapi setelah membaca lebih lanjut di Wikipedia, nggak taunya ini belum ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka jalan sujud di tanah suci gunung Kailash. Gunung Kailash yang terletak di Tibet bagian barat ini memiliki keliling 52km! Untuk berjalan kaki cepat saja butuh 15 jam, kalau harus jalan sujud bakal berapa lama coba?

Saya salut dengan keteguhan iman para umat Buddha Tibet ini.

Matras untuk alas badan sewaktu bersujud

Cara berpakaian penduduk Xiahe sepertinya juga disesuaikan dengan cara mereka berdoa. Berlapis-lapis jubah kain mereka pakai, mungkin supaya praktis, kalau sobek atau kotor tinggal buka layer paling luar dan diganti. Para biksu juga memakai pakaian seperti ini, cuma warnanya saja yang beda.

Cara berpakaian penduduk Xiahe

Penampilan para penduduk lokal Xiahe bisa dibilang kucel-kucel, hampir nggak ada yang bersih dan rapi. Saya rasa mereka jarang ganti baju, apalagi mandi. Boro-boro mau dapat air bersih, kamar mandi saja belum tentu mereka punya kok. Saya, Titine dan Nino (temen backpacker kita) sempat melihat banyak orang awam (dan biksu) yang lagi jongkok sendirian di pagi hari. Nggak lama setelah jongkok mereka pun bangun lalu dengan santainya jalan pergi. Setelah diperhatikan benar-benar, eeh ternyata mereka semua itu habis beol. Nggak pakai basa-basi atau malu-malu, mentang-mentang ketutupan jubah mereka dengan cueknya jongkok buang air di jalanan, setelah selesai langsung berdiri dan pergi (nggak dibersihin dulu lagi!!).

 

Labrang Monastery

Labrang monastery

Merupakan monastery dan sekolah calon biksu aliran topi kuning (yellow hat) terbesar di luar propinsi Tibet. Tur keliling monastery dalam bahasa Inggris juga ada di situ, sudah termasuk dalam harga tiket masuk (RMB 40/orang atau sekitar Rp 60rb). Guide kita di sana adalah seorang calon biksu muda, sebut saja Amdo namanya (saya nggak berani pakai nama asli karena takut dia kena masalah). Si Amdo ini lumayan fasih berbahasa Inggris dan Hindi karena dia pernah mengemban ilmu di India.

Hampir setiap ruangan di dalam monastery dihiasi dengan cahaya lilin yang terbuat dari sejenis mentega (yak butter), bahkan patung-patung dan ornamen-ornamen pun juga dibuat dari yak butter. Begitu masuk ruangan, langsung keluar bau khas menyengat, susah untuk dijelaskan kayak apa, tapi yang jelas bikin kita bertiga merasa eneg.

Hiasan terbuat dari yak butter (source: tripadvisor.fr)

Hiasan dari yak butter ini, yang di namakan butter sculpture, ternyata nggak gampang untuk dibuat lho. Setiap sculpture cuma bisa dibuat di musim dingin dan tangan yang membuat nya pun juga mesti terus-terusan dicelup ke air es supaya menteganya tidak meleleh. Ukuran sebuah patung dari yak butter bisa mencapai 10 meter tingginya dan biasa disimpan di dalam ruangan dengan suhu dibawah 15 derajat C. Kalau musim panas A/C-nya rusak, gawat banget kan? Bisa-bisa banjir mentega!

Kotak-kotak kecil ini adalah rumah tempat tinggal para biksu

Di dalam Labrang Monastery juga terdapat banyak asrama untuk para biksu, bentuknya kotak-kotak kecil seperti kardus dari kejauhan. Beruntung sekali kita sempat diajak si Amdo ini untuk bertamu ke rumah mungilnya pada malam hari.

Di dalam bayangan saya, rumah seorang biksu itu bakalan seperti yang dilukiskan di buku komik Kungfu Boy, sederhana dan cuma dihiasi cahaya lilin…

Di luar dugaan saya, isi rumah si Amdo ini nggak taunya jauuh lebih modern daripada isi apartemen saya! Dia punya cable TV dengan channel komplit (nggak tau deh dapat darimana cable tv-nya).

You want news? This is Channel News Asia ,” kata Amdo sambil membolak-balik channel.
And this is Singapore TV,” lanjutnya.
I have a lot of Indian channels, I like Bollywood,” katanya dengan bangga.

Amdo mengaku semenjak meninggalkan India, dia selalu kangen dengan film Bollywood. Sepertinya salah satu alasan dia pasang cable TV memang supaya bisa buat nonton channel TV India…modern sekali biksu yang satu ini.

Amdo juga mengaku dia sering mengunjungi internet café untuk berkoresponden dengan teman-temannya di luar negri (biksu pun bisa email-emailan!!). Dia mengeluh sekarang ini terbatas sekali ruang gerak para biksu Tibet untuk beraktifitas tanpa di monitor pemerintah. Untuk datang ke internet café pun dia harus menunjukkan KTP dan lapor diri. Sebenarnya saya tidak heran mendengar hal ini, terutama mengingat kerusuhan yang terjadi di tahun 2008 yang lampau. Tidak jelas juga apa akar permasalahannya, tapi saya yakin di mana pun juga suku minoritas cenderung diterlantarkan dan diperlakukan tidak sama dengan yang lain.

 

Ganjia grassland

Padang rumput nan luas yang terletak sekitar 1 jam perjalanan mobil dari kota Xiahe menawarkan pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Berada di tempat ini saya benar-benar tidak merasa sedang berada di negara Cina, karena sepi bangett! Sekeliling saya cuma ada bukit-bukit berwarna hijau dan gerombolan yak dan domba yang sibuk merumput. Menurut supir taksi sewaan kita, tidak ada orang yang tinggal di Ganjia grassland selain suku nomaden Tibet yang hidup berpindah-pindah dengan tenda.

Cuma ada domba di sekeliling padang rumput Ganjia

Saya jadi mengerti sekarang betapa pentingnya binatang yak bagi penduduk di sini. Selain dipakai sebagai sarana transportasi, yak juga bisa di makan dagingnya dan diperah susunya untuk di minum, atau di buat menjadi mentega dan lilin. Kotorannya pun masih berguna juga karena bisa dipakai sebagai pengganti kayu bakar.

 

Bajiao town

Sebuah kota kuno yang dikelilingi tembok tinggi bersegi-12. Sekarang ini sepertinya tidak layak disebut kota lagi, lebih mirip desa tua yang sudah tidak berpenghuni. Sayang sekali menurut saya, karena pemandangan sekitar desa sangat indah, apalagi kalau dilihat dari atas tembok kota.

Kota tua Bajiao

 

Tarzang lake (bukan Tarzan!)

Saya jamin orang yang melihat foto danau ini bakal mengira pemandangan ini ada di Eropa, bukan di negara Cina, apalagi di propinsi miskin Gansu. Saat musim semi awal bulan April, air danau Tarzang masih membeku dan kita bisa berjalan di atasnya.

Danau Tarzang yang membuat saya merasa sedang berada di Eropa

 

Makanan seperti apa yang mesti di coba di sini?

 

Butter milk tea (teh susu)

Semula saya sangka minuman ini bakalan seperti teh susu biasa, how bad can it be?

Yeah … pretty BAD. Rasanya beneran nggak enak. Begitu datang segelas penuh yak butter milk tea, saya bisa melihat lapisan minyak (butter) berwarna kuning-kuning setebal 0.5cm mengapung di atas gelas. Begitu saya minum, aduh rasanya … asin dan berminyak.

Ini pertama kalinya saya minum teh susu asin (source: ifood.tv)

Momo (dumpling)

Bentuknya bulat-bulat mirip bakpao daging, tapi yang ini terbuat dari daging yak. Kalau biasa di Indonesia bakpaonya lebih banyak roti daripada daging, di sini justru kebalikannya, satu gelundung pangsit isinya daging semua. Baru gigitan pertama, wah … rasanya kambing banget. Baru makan 1 buah momo, saya dan Nino sudah K.O, nggak kuat sama bau mrengusnya (padahal saya lumayan suka daging kambing lho). Cuma Titine saja yang masih dengan lahap makan hampir 1 piring momo…

Momo yang bikin saya klenger (source: www.uncorneredmarket.com)

Lanzhou lamian (pulled noodle)

Mie rebus khas Lanzhou ini cukup populer di Cina. Sebenarnya menurut saya tidak spesial gimana sih, cuma mie rebus biasa dengan daging sapi. Mie ini umumnya disajikan di restoran Muslim dengan harga yang lumayan murah. Pastikan mampir di restoran Mazilu di Lanzhou, yang kabarnya menawarkan the best Lanzhou lamian di propinsi Gansu.

Lanzhou lamian (source: wikipedia)

 

Info mengenai Xiahe:

Tiket bus Lanzhou-Xiahe dapat dibeli di Lanzhou South Bus Station seharga RMB 70.5/orang. Setiap hari ada sekitar 3 bus pagi: 07:30, 08:30 dan 10:30. Perjalanan dari Lanzhou menuju Xiahe memakan waktu sekitar 4.5 jam. Tiket untuk kembali ke Lanzhou sebaiknya dibeli langsung setibanya di Xiahe Bus Station. Setiap hari ada sekitar 2-3 bus pagi menuju Lanzhou, mulai dari jam 06:30.

Overseas Tibetan Hotel  menerima bookingan lewat e-mail. Harga per kamar (untuk 2 orang + kamar mandi pribadi) sekitar RMB 100. Harga bisa berubah tergantung low/high season.

Untuk keliling kota dan daerah pinggirannya bisa dilakukan dengan menyewa taksi (perlu tawar menawar) atau dengan menyewa sepeda dari hotel.