Petualangan saya di negara Peru ini dimulai sejak saya dan teman kos-kosan saya, Ifix, tiba di airport Jorge Chávez, Lima. Pesawat Air Canada yang membawa kita dari Toronto menuju Lima ternyata delay 1 jam lebih karena cuaca buruk. Seharusnya tiba jam 00:10, pesawat baru mendarat jam 1 lewat.

Sedikit jetlag dan ngantuk karena sudah terbang 20 jam lebih, saya dan Ifix dengan sabar menunggu bagasi keluar dari conveyor belt. 20 menit berlalu, 30 menit, 40 menit … lho kok conveyor belt-nya sudah berhenti tapi tas kita nggak ada?

Setelah melewati fase bingung dan panik, kita lalu menghampiri counter Air Canada untuk menanyakan keberadaan koper kita. Dengan español saya yang berantakan dan bahasa Inggris mereka yang pas-pasan, akhirnya saya mengerti juga maksud mereka: koper saya dan Ifix ketinggalan di Toronto!!

Karena cuaca begini nih pesawat jadi delay dan koper pun ketinggalan

Petugas Air Canada berusaha menenangkan kita dan berjanji membawa koper kita di penerbangan Toronto-Lima berikutnya. Tapi masalahnya … penerbangan berikut baru ada dua hari lagi.

Jadi intinya, waktu itu saya dan Ifix tiba di negara Peru tanpa membawa apa-apa selain backpack kecil yang berisi kamera dan uang.

Could it be any worse than this?

Karena lama nggak keluar-keluar dari airport, orang hotel yang seharusnya menjemput kita sudah pulang karena disangka kita batal datang (kita terlambat 2 jam lebih, begitu keluar airport sudah hampir jam 3 pagi). Bodohnya, saya dan Ifix tidak mencatat alamat dan nomor telepon hotel karena dipikir bakal ada yang menjemput. Kita berdua cuma tahu nama hotelnya, yaitu Casa Andina.

Sepertinya tampang kita berdua yang stres dan panik mengundang rasa kasihan beberapa supir taksi di situ. Salah satunya menawarkan untuk mengantar kita ke hotel Casa Andina.

“Where is your hotel?” tanya salah satu supir taksi yang lumayan bisa ber-bahasa Inggris.
“Casa Andina. Do you know this hotel?” jawab saya.
“Which Casa Andina?” tanyanya lagi.
“What do you mean? There is more than one?” saya bingung memangnya ada berapa Casa Andina di sini.
“Three Casa Andinas, where is yours?” sambungnya.
“Uhm … we don’t know which one,” saya dengan nggak pede mengaku.

Para supir itu cuma bisa geleng-geleng, mungkin tidak habis pikir kok bisa-bisanya ada turis datang tanpa tahu tinggal di hotel mana. Mereka pun berunding dan akhirnya salah satunya berkata,

“Ok, this guy will take you to every Casa Andina and you find your hotel, yes?” sambil menunjuk ke salah satu temannya yang tidak bisa berbahasa Inggris.

“Ok, vamos (let’s go),” jawab saya.

Sebenarnya dipikir-pikir nekat juga kita berdua, subuh-subuh naik taksi di negara asing tanpa tahu mau kemana. Mungkin karena capek dan ngantuk, kita tidak bisa berpikir jernih saat itu. Saran saya buat yang mengalami hal seperti ini, bermalam saja di airport dan menunggu sampai pagi. Dan jangan lupa: selalu catat nama, alamat dan nomor telepon hotel!!

Untung saja supir taksi kita ini cukup sabar dan baik hati, dia mengantar kita ke semua Casa Andina di kota Lima dan menanyakan apakah bookingan kita ada di situ (waktu itu iPhone, BB, dan internet phone belom ngetren). Saya benar-benar nggak nyangka kalau di kota ini ada 3 hotel Casa Andina. Untung saja pas tiba di Casa Andina yang kedua si supir menemukan bookingan nama saya.

“Eh, gimana bayar dia nih, dolar mau ngga yah?” tanya saya kepada Ifix.
“Iya cuma ada dolar, bayar dolar aja deh, dia mau kali,” jawab Ifix.

Kita memang belum sempat menukar uang dolar ke soles (mata uang Peru) karena money changer di airport sudah tutup. Begitu tiba di hotel, saya berusaha menjelaskan ke supir (dengan bahasa Spanyol amburadul) bahwa kita cuma punya dolar dan cuma bisa bayar dengan dolar, tapi sepertinya dia tidak mengerti. Sekali lagi saya dan Ifix pasang tampang panik dan memelas (coba strategi ini kalau terdesak), kali ini resepsionis hotel yang kasihan melihat kita berdua datang tanpa koper dan tidak ada duit buat bayar taksi. Dia pun meminjamkan solesnya untuk membayar si supir taksi ini.

Begitulah kira-kira awal mula kisah perjalanan kita di Peru. Walau kelihatannya seperti a series of misfortune, serentet kesialan menghampiri kita hari itu, tapi kalau dipikir balik, ternyata banyak juga orang tidak dikenal yang rela membantu kita dengan tulus malam itu.

Penuh senyum dan ramah, itulah yang saya rasakan

Pukul 4 pagi, akhirnya saya bisa juga rebahan di ranjang dan beristirahat. Saya tidak sabar menunggu pagi harinya supaya bisa jalan-jalan dan shopping baju ganti (plus pakaian dalam).

Berada di kota Lima, satu tempat yang tidak boleh dilewatkan adalah Plaza Mayor-nya. Sebenarnya ini cuma sebuah taman di tengah kota berbentuk segi empat, tapi istimewanya, setiap sisi taman ini terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang menarik.

Plaza Mayor, jantung kota Lima

Konon katanya di Plaza Mayor inilah kota Lima didirikan oleh Francisco Pizarro, si conquistador dari Spanyol yang berhasil menjatuhkan kerajaan Inca. Makam Francisco Pizarro juga tersimpan di dalam gereja Catedral de Lima, yang terletak di sisi sebelah timur Plaza Mayor.

Di dalam katedral ini terdapat makam Pizarro

Untuk merasakan pemandangan 360⁰ Plaza Mayor bisa klik di sini.