Ketika pertama kali mendengar bahwa saya dan Inji akan mengunjungi Cuzco, bayangan yang keluar di benak saya adalah Inca! Tentu saja karena Cuzco identik dikenal sebagai kota transit sebelum melanjutkan ke Machu Picchu, bukti kebudayaan Inca terbesar yang pernah ada.

Pertama sampai di Cuzco, kita diturunkan di hotel di daerah Plaza de Armas yang bisa dibilang merupakan pusat dari kota Cuzco ini sendiri. Setelah selesai check-in di hotel, saya dah Inji sudah nggak sabar untuk mulai eksplorasi kota yang kaya budaya ini.

Plaza de Armas Cuzco

Sebenarnya kita menunggu city tour siang itu. Tapi dasar nggak mau rugi karena masih kepagian, kita pun city tour sendiri duluan, jalan-jalan mengitari Plaza de Armas. Harus diakui, Cuzco adalah kota yang sangat cantik, dikelilingi oleh dataran tinggi. Saat itu saya mulai mencari-cari … mana budaya Inca-nya ya? Kok kayaknya lebih terasa European dibanding Inca.

Ketika saya mencari-cari kuil Inca, yang kita temukan di plaza ini malahan sebuah gereja dengan gaya Baroque bernama Iglesia de la Compañia de Jesús.

Apakah ini memang nasib semua peradaban yang pernah dijajah oleh bangsa lain ya? Peradaban pihak yang kalah akan selalu dihancurkan dan diganti dengan “peradaban baru”?

Mungkin memang sudah watak manusia, lebih mudah mengganti daripada menyesuaikan dan beradaptasi.

Interior gereja la Compañia de Jesús

Seperti layaknya gereja-gereja tua pada umumnya di Peru, sebagian permukaan interior gereja ini didominasi oleh warna emas dan kayu yang tidak pernah gagal dalam memberikan kesan grandeur dan wealth. Meskipun gereja ini penuh dengan turis, tetap saja, kita tidak diizinkan untuk mengambil foto di dalam (jadi harap maklum kalau foto kita agak burem).

Setelah bertemu dengan guide kita untuk city tour, pertama-tama kita diajak mengunjungi Sacsayhuamán (dibacanya mirip kata sexy woman), kompleks dinding batu peninggalan Inca yang dibangun tanpa menggunakan semen. Dijelaskan bahwa pada zaman Inca, dinding ini digunakan sebagai benteng pertahanan karena lokasinya yang strategis.

Saya dan Inji benar-benar takjub melihat ukuran batu yang digunakan. Masih belum terbayang bagaimana mereka dengan teknologi yang ada saat itu bisa memindahkan sekian banyak batu yang tingginya bisa mencapai 5m. Dan yang lebih mengesankan lagi… batu-batu itu disusun sedemikian rupa sehingga batu satu dengan yang lain bisa dibilang merupakan perfect match! Ada yang mengatakan begitu rapatnya batu-batu itu, bahkan mau menyelipkan kertas di antara pun kita tidak bisa.

Bayangin aja, gimana menggeser batu sebesar ini coba?

Berikutnya kita diajak melihat gereja Convento de Santo Domingo. Setelah melihat peradaban Spanyol di Plaza de Armas dan peradaban Inca di Sacsayhuamán, kita sekarang diajak melihat bagaimana kedua peradaban ini melebur menjadi satu. Yah sebenarnya tidak bisa dibilang melebur juga karena tetap saja peradaban Inca berada di bawah, ibaratnya tetap “diinjak” oleh sang penjajah Spanyol.

Convento de Santo Domingo ini pada awalnya adalah sebuah kuil pemujaan suku Inca yang bernama Qorikancha (dalam bahasa Quechua artinya golden temple) – diijuluki kuil emas karena konon dahulu kala dinding dan lantainya dilapisi emas dan hiasan patungnya semua terbuat dari emas padat berhias intan permata. Lantai di bangunan gereja ini adalah peninggalan arsitektur Inca, dengan relungnya yang kosong. Di situlah dikatakan patung-patung emas dan permata-permata terbesar di dunia pernah diletakkan.

Kuil Qorikancha

Bangsa Spanyol menghancurkan kuil Qorikancha dan membangun gereja mereka di atas kuil bangsa Inca. Tetapi meskipun bangsa Spanyol mungkin bisa berbangga dengan status mereka yang lebih superior dibanding dengan bangsa Inca, ketika terjadi gempa bumi besar di Cuzco pada tahun 1950, Convento de Santo Domingo mengalami kerusakan yang lumayan parah tetapi dinding batu yang digunakan sebagai fondasi gereja ini tetap berdiri tegak.

Setelah city tour hari itu selesai, malamnya kita kembali ke Plaza de Armas untuk mencari makan dan menikmati suasana jantung kota Cuzco. Surprise surprise … meskipun sudah jam 8 malam, Plaza de Armas bisa dibilang masih hidup dengan berbagai macam aktivitas. Ada yang duduk-duduk bergerombol ngerumpi, ada yang main catur, ada yang duduk sendirian sambil bengong. Ada juga yang jalan bolak-balik, ketawa-ketawa dan foto-foto… haha ya 2 orang itu adalah Inji dan saya!

Suasana malam hari di Plaza de Armas Cuzco

Tak jauh dari Cuzco ada sebuah tempat bernama Valle Sagrado de los Incas – Sacred Valley of the Inca. Beruntung sekali kita karena berkesempatan untuk mengunjungi tempat ini. Perhentian pertama kita adalah sebuah peternakan llama dan alpaca, di mana kita dibolehkan memberi makan dan memegang hewan-hewan khas Amerika Selatan itu.

Mungkin kita sudah cukup familiar dengan nama llama dari film Walt Disney, The Emperor’s New Groove. Kesimpulannya, llama itu seperti gabungan domba dengan unta, atau unta berbulu domba. Alpaca juga menyerupai llama tetapi sedikit lebih kecil. Kalau llama dapat dimanfaatkan untuk mengangkut barang, alpaca hanya diambil bulunya untuk ditenun.

Berbagai jenis keluarga llama ada di sini

Sampai sana kita baru tahu kalau ternyata ada begitu banyak jenis llama dan alpaca. Dan di sinilah kita benar-benar melihat sifat asli hewan-hewan ini. Jika hanya dilihat sekilas, pasti kesan pertama adalah kalem, ramah dan agak jaim. Ternyata jika mereka bertemu dengan manusia yang sudah mereka anggap sebagai teman, “topeng” ini langsung lepas dan mereka bisa diajak bermain layaknya seekor anjing. Hati-hati saja jika bermain bersama mereka, karena ukuran badan dan gigi mereka bisa berkali lipat ukuran seekor anjing.

Usil juga ternyata hewan ini

Dan karena sudah sampai sini, kepingin juga donk punya koleksi 1 lembar tenunan khas daerah sini. But OMG.. 1 buah syal yang paling kecil saja harganya sudah USD 100!! Memang sih sudah sepantasnya bisa semahal itu, untuk menyelesaikan 1 lembar kain saja kadang perlu waktu sekitar 1 bulan karena semua dibuat manual dengan tangan. Proses pewarnaan bulu ini pun digunakan bahan pewarna yang semuanya natural diambil dari tumbuhan atau zat-zat mineral.

Dengan sangat menyesal dan berat hati karena uang saku kita yang sangat terbatas, kita pun meninggalkan tempat ini dengan tangan kosong.

 

Artikel ini ditulis oleh Ifix, seorang arsitek dan penggemar fotografi yang bertualang bersama Inji ke negara Peru di tahun 2008. Semua foto-foto cantik negara Peru di dalam blog ini adalah kontribusi dari mbak Ifix. Lihat hasil jepretannya di sini.