Pernah dengar tentang garis-garis Nazca? Karena penasaran ini nih saya dan Ifix memutuskan untuk mengunjungi kota Nazca. Perjalanan dengan bus antar kota selama 7 jam dari Lima pun rela kita tumpangi demi melihat garis-garis misterius ini.

Bus antar kota Cruz del Sur mengantar kita sampai di kota Nazca. Di luar dugaan saya, bus ini lumayan bersih dan nyaman (bisa selonjor kaki). Harga tiket bus-nya sudah termasuk makanan dan minuman selama perjalanan, serta welcome drink pisco sour. Ini pertama kalinya saya minum minuman khas Peru itu, rasanya kecut lemon dan beralkohol banget. Perut saya agak kaget waktu pertama minum, apalagi waktu itu belum makan siang. Tapi mungkin karena efek alkohol ini nih saya jadi bisa tidur lelap di bus, 7 jam pun jadi nggak terasa.

Perjalanan dari Lima menuju Nazca … fun!

Keesokan paginya saya dan Ifix sudah bersiap-siap di hangar pesawat. Pesawat baling-baling yang bakal membawa kita muter-muter di angkasa ini cuma bisa memuat 6 penumpang. Karena hari itu tamunya cuma saya, Ifix serta dua orang pasangan bule tua, pak pilot mesti mengatur tempat duduk penumpang sesuai berat badan supaya pesawatnya lebih stabil waktu terbang. Si pasangan bule ini kebagian duduk di tengah pesawat, Ifix sendirian di paling belakang, sementara saya kebagian duduk di paling depan bersama si pilot.

Perlahan-lahan pesawat pun lepas landas, saya siap dengan video kamera saya di tangan sebelah kanan untuk mengabadikan misteri Nazca ini.

Nazca Valley yang gersang

Beda banget rasanya naik pesawat kecil, setiap tikungan terasa tajam sekali. Kalau lagi naik ke atas serasa seperti lagi ngeden, kalau belok serasa mau kejungkir, kalau menukik … duh, saya beneran merem pas pesawat menukik ke bawah.

There is the monkey,” kata si pilot sambil menunjuk ke gambaran raksasa di tanah menyerupai monyet.
That is hummingbird,” serunya lagi lewat mikrofon yang menggantung di headphone-nya.
There is condor.”
That is spider.
That is flower … and that one is reptile.

Saya acungin jempol buat suku Nazca yang bisa membuat gambar sebesar ini di atas tanah. Bayangkan saja, jaman tahun 400-650 sesudah masehi mereka sudah bisa menggambar monyet seukuran 93m x 58 m tanpa melenceng garis-garisnya. Dan yang lebih hebatnya lagi, gambar-gambar ini masih bisa kita lihat dengan jelas di abad 21 sekarang ini.

Nazca line berbentuk monyet

Pesawat terus berputar-putar di sekitar Nazca Valley, semakin banyak pula gambar yang kita temui. Konon katanya ada ratusan gambar di tanah dengan berbagai macam motif. Entah apa kegunaannya garis-garis ini, sampai saat ini rasanya juga masih diperdebatkan.

Ada teori yang bilang ini berkaitan dengan kalender astronomi, ada yang bilang ini merupakan peta sumber air, ada juga yang bilang ini adalah tempat mendarat makhluk alien …

Peta Nazca lines (source: go2peru.com)

Sekarang saya mulai merasa agak puyeng dan semutan.

That one is the parrot,” sambung si pilot yang masih semangat nunjukkin garis-garis misterius ini.

That one is the whale, can you see it?” kata dia sambil menyuruh saya yang udah puyeng banget dan berkeringet dingin untuk melihat.

Karena saya merem-merem dan nggak melihat ke bawah, pak pilot mengira saya nggak kelihatan gambarnya, dia pun menukikkan pesawatnya ke samping lalu sambil lepas setir menunjuk ke arah jendela saya supaya saya bisa merekam dengan jelas.

OMG, dia lepas setir! Saya pun panik, karena pesawatnya agak miring dan si pak pilot nggak megang gagang setir. Sepertinya selain kena motion sickness, saya juga kena panic attack. Tangan dan kaki saya jadi semutan dan keram. Tangan kanan yang memegang handycam nggak bisa lepas mencengkeram , tangan kiri saya juga jempol dan pergelangannya sudah mulai meliuk tanda-tanda mau kejang. Saya berusaha menengok ke belakang ke Ifix, tadinya mau kasih kode minta tolong, tapi kayaknya dia juga sudah agak tepar, mukanya sedikit pucat menahan pusing dan rasa mual.

Pak pilot melihat tangan saya yang meliuk nggak jelas, lalu dia berusaha meluruskan jari-jari tangan saya yang sudah agak kaku. Saya beneran nggak bisa konsen waktu itu, saya cuma bisa minta dia memutar balik dan mendaratkan pesawat supaya kejang-kejang saya nggak makin menyebar ke seluruh badan. Setelah akhirnya kita kembali mendarat di tanah, duhh bukan main senangnya.

Eh, ngapain sih loe pegang-pegangan sama si pilot?” tanya si Ifix.

Wah sialan, disangka saya sama pak pilot ada apa-apanya.

Tangan gue keram tau. Nih liat,” kata saya sambil nunjukkin tangan saya yang masih meliuk kaku.

Karena panik, tangan pun jadi keram

Selepas drama di angkasa tadi, saya dan Ifix menyempatkan diri mengunjungi Cementerio de Chauchilla, sebuah burial site (kuburan) yang usianya mungkin sudah lebih dari seribu tahun. Belum cukup rupanya kita dibuat terkagum-kagum dengan peradaban Nazca.

Di Chauchilla ini tersimpan banyak mumi … dan tengkorak-tengkorak yang bikin saya merinding. Ada sebagian mumi yang masih terlihat utuh badannya, bahkan kulit, rambut dan pakaiannya juga terlihat masih rapi, hii…

Sereemnyaa berada di sini

Tak jauh dari Chauchilla saya dan Ifix melihat banyak lingkaran besar di tanah yang terbuat dari batu bertingkat-tingkat. Apa maksudnya ya?

Semua yang saya lihat hari ini beneran serba misterius, seperti adegan di film X-files saja.

Saya bingung sama lingkaran ini … dan sama si guide yang nggak bisa Inggris

Setelah dijelaskan oleh guide kita (yang tidak bisa berbahasa Inggris – dan saya yang sok ber-español ria), ternyata ini adalah sistem pengairan bawah tanah yang juga dibangun oleh suku Nazca lebih dari 1500 tahun yang lalu. Acueductos de Cantayo namanya, dibangun untuk memastikan pengairan di daerah gersang Nazca tetap berjalan lancar. Sumber air ini sampai sekarang pun masih dipakai untuk mengairi perkebunan kaktus yang berada di sekitarnya.

Perkebunan kaktus

Kedengerannya memang aneh, berkebun kok kaktus. Tadinya saya dan Ifix juga bingung kenapa orang-orang di sini mau punya kebun kaktus.

Buat yang pernah belajar sejarah native American, mungkin pernah dengar tentang cochineal, sejenis serangga berwarna putih yang hidup menempel pada tanaman kaktus. Serangga ini akan mengeluarkan warna merah tua kalau ditumbuk. Warna merah ini merupakan natural dye coloring atau pewarna natural untuk tekstil, kosmetik, dan makanan. Negara Peru ternyata adalah salah satu negara penghasil cochineal terbesar di dunia.

Serangga cochineal bakal mengeluarkan warna merah alami seperti ini

Beranjak meninggalkan Nazca, saya dan Ifix melanjutkan perjalanan menuju Paracas, sebuah daerah pinggir laut yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik.

Untuk melihat atraksi utama di Paracas, kita masih harus naik speed boat menuju kepulauan Islas Ballestas yang berjarak sekitar setengah jam dari dermaga.

Setelah tiba di tengah laut dan melihat kepulauan ini, saya baru sadar kalau ternyata Islas Ballestas memang tidak dihuni manusia. Jutaan burung laut hidup di sini dan guano-nya (tahi burung) banyaknya pun luaarr biasaa … sampai-sampai saya dan Ifix disuruh pakai topi supaya tidak kejatuhan guano.

Guano atau tahi burung di sini ternyata punya kegunaan juga lho, bahkan pernah ikut berjasa membangun negara Peru. Guano dari burung-burung laut ini mengandung banyak zat kimia yang sangat berguna untuk dijadikan bahan dasar pupuk. Pada pertengahan abad 19, keadaan ekonomi Peru meningkat tajam karena ekspor guano yang booming, Peru pun akhirnya bisa membayar hutang-hutang luar negrinya dan membangun beberapa sarana infrastruktur di dalam negri. Hebat kan?

Jutaan burung laut hidup di Islas Ballestas

Selain burung-burung laut, Islas Ballestas juga menjadi tempat tinggal bagi ribuan singa laut dan Humboldt penguin, sejenis pinguin yang bisa hidup di suhu tropik.

Saya pikir saya akan bebas dari misteri hari ini, setelah kemarin seharian penuh dijejeli teka-teki buatan suku Nazca. Sewaktu speed boat berjalan sekitar 10 menit dari dermaga, saya dan Ifix melihat sebuah trisula besar yang digambar di pasir. Gambaran di pasir ini diberi julukan candelabra (karena bentuknya mirip lilin), diperkirakan usianya lebih tua dari peradaban Nazca. Gila kan? Masih bisa utuh sampai jaman sekarang pula.

Seperti halnya garis-garis Nazca, sampai saat ini belum ada ilmuwan yang bisa mengartikan maksud dan kegunaan simbol candelabra ini.

Lukisan candelabra di Islas Ballestas