La Ciudad Blanca alias Kota Putih. Itulah julukan yang diberikan kepada Arequipa, kota di bagian Selatan negara Peru ini. Pertama kali tiba di Plaza de Armas, alun-alun utama kota Arequipa, sejauh mata memandang memang semua bangunan di sekeliling kita berwarna putih. Dalam waktu kurang dari 10 menit, saya sudah jatuh cinta dengan kota ini.

Plaza de Armas kota Arequipa

Sekali lagi Inji dan saya sangat beruntung mendapat hotel di area Plaza de Armas. Disambut oleh tipikal keramahan orang Peru dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, kita dibekali sekilas info tentang kota cantik ini.

Pertama-tama kita disarankan untuk tidak beraktifitas terlalu berat karena ketinggian kota yang berada 2380m di atas permukaan air laut membuat suplai oksigen semakin tipis. Dan tentu saja Inji dan saya cuma senyum-senyum setengah meremehkan. Setelah menerima kunci kamar, kita berdua saling menatap, seakan bisa membaca pikiran satu sama lain, kita berdua langsung mulai lari menuju kamar kita di lantai 2. Ternyata … baru setengah lantai, Inji dan saya sudah kehabisan nafas. Wah, ternyata orang hotel tadi tidak cuma nakut-nakutin saja.

Siang itu, kita pergi melihat Monasterio de Santa Catalina – sebuah monasteri khusus untuk biarawati yang dibangun pada abad ke 16. Warna-warna vibran merah dan biru mendominasi bangunan ini, memberikan kontras yang menarik dari bangunan-bangunan putih di sekitarnya.

Sudah menjadi sebuah tradisi di Arequipa, bahwa tiap keluarga akan menyerahkan anak kedua mereka kepada gereja untuk menjalani kehidupan selibat.

Monasterio de Santa Catalina ini didirikan oleh seorang janda kaya dan ditujukan khususnya untuk para gadis dari keluarga keturunan Spanyol kelas atas. Dan demi menjadi biarawati monasteri ini, keluarga kaya itu tak segan membayar sampai USD 150,000!!

Mengapa untuk menjadi biarawati saja harus semahal ini?

Mengabdikan hidup sepenuhnya untuk melayani Tuhan tentu tidaklah mudah jika sejak lahir saja sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba mewah. Sesuai dengan harga yang dibayar, para biarawati ini diizinkan memiliki sebuah bilik yang boleh dihias layaknya kamar seorang putri, dan seorang pelayan pribadi. Tidak ada lagi istilah melayani sesama ataupun melayani Tuhan. Bisa dibilang Monasterio de Santa Catalina ini tidak beda layaknya dengan sebuah hotel bintang 5 di masa itu.

Kompleks monasteri Santa Catalina

Selain terkenal dengan monasterinya ini, kota Arequipa juga terkenal dengan keberadaan mumi seorang gadis Inca yang pernah membuat gempar seluruh dunia. Memiliki panggilan akrab “Juanita”, gadis berumur sekitar 12 tahun ini ditemukan dalam kondisi beku di Gunung Ampato, sebuah bagian dari pegunungan Andes. Dikarenakan oleh meletusnya gunung Sabancaya, es abadi yang selama ini melindungi tubuh gadis remaja ini mulai meleleh,  dan pada tahun 1996 tubuh mumi es Juanita ditemukan dalam keadaan utuh oleh seorang pendaki gunung.

Terus terang agak disturbing juga melihat mumi es ini secara langsung. Saya merasa seperti melihat manusia yang dibekukan hidup-hidup di dalam freezer. Kulit, daging dan rambutnya masih sempurna seperti layaknya seorang putri tidur.

Apakah yang sebenarnya dilakukan Juanita di pegunungan Andes seorang diri?

Ternyata adalah sebuah kepercayaan bangsa Inca untuk memberikan persembahan kepada para dewa dalam rupa anak gadis maupun anak laki-laki terbaik yang masih suci, dengan harapan agar para dewa memberikan mereka perlindungan dari segala jenis malapetaka.

For the greater good. Dengan alasan mulia itu (dan tentunya ide ini tidak datang dari orang yang akan dipersembahkan hidupnya), gadis malang ini diajak mendaki sampai puncak gunung es ini, dibuat tak sadarkan diri dengan sebuah pukulan keras di kepala, dibiarkan mengalami pendarahan dan ditinggal sendirian membeku di sana.

Cukup tragis memang nasib Juanita, tapi menurut guide kita, ini adalah sebuah kehormatan besar bagi sebuah keluarga yang anaknya dipilih untuk dijadikan kurban.

Guide kita di Arequipa ini adalah seorang cewek penduduk lokal bernama Julia (dibaca “Hulia”), yang sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Teman seperjalanan kita pun tidak kalah menariknya, seorang bapak-bapak tukang pos dari Swedia dan 3 pasang suami istri setengah baya dari Spanyol yang sama sekali tidak bisa Inggris. Selama tiga hari lamanya kita habiskan bersama-sama mengitari Arequipa, Chivay dan Colca Canyon (lembah Colca). Ternyata sukses juga petualangan kita walau kadang harus menggunakan bahasa isyarat dan senyuman untuk saling berkomunikasi.

Tidak heran kalau puyeng dan mual, ketinggian di daerah sini mencapai 4300m!

Berteman dengan tour guide memang mempunyai keuntungan tersendiri. Setelah mencari tanpa hasil selama 5 hari di Lima dan Nazca, saya akhirnya bertanya tentang daun coca – tanaman yang sama yang digunakan untuk membuat cocaine. Sebelum berangkat ke Peru, saya sempat membaca tentang keajaiban daun coca ini yang menjadi andalan bagi penduduk di daerah pegunungan Andes. Berbeda dengan cocaine yang sudah mengalami proses kimia, daun coca sendiri jika dikunyah bisa menjadi penangkal rasa letih, haus, lapar, menghilangkan sakit kepala, sebagai anaestesi, obat asma, rematik, dll. Sepertinya pada zaman dahulu segala jenis penyakit bisa disembuhkan hanya dengan mengunyah atao mengoleskan daun coca ini. Dan salah satu tujuan saya ke Peru adalah untuk membuktikan teori ini.

Ya kapan lagi bisa bebas nyobain coca (meskipun tidak menyebabkan ketagihan, daun ajaib ini masih tergolong ilegal di negara-negara non penghasil coca).

Inilah daun coca yang bikin penasaran itu

Daun coca ternyata banyak digunakan oleh penduduk dataran tinggi Peru, termasuk di lembah Colca. Di perhentian pertama, Inji dan saya sukses membeli daun coca pertama kita. Di abad 21 ini, penduduk setempat tidak lagi mengunyah daun coca mentah. Daun coca ini umumnya diseduh dengan air panas layaknya daun teh. Rasa penasaran saya dijawab dengan bau yang cukup aneh dan menusuk dari teh coca ini. Bagaimana dengan rasanya? Saya cuma bisa menyimpulkan dengan 1 kata: Aneh!

Tujuan utama kita ke lembah Colca sebenarnya untuk melihat hewan simbol negara Peru, si burung condor. Karena hewan ini hanya bisa dilihat di pagi hari, kita semua diajak bermalam di desa Chivay, desa terbesar di lembah Colca yang terkenal dengan pemandian air panas La Calera-nya. Setelah menghabiskan satu hari penuh di dalam mobil ditambah dengan hawa dingin yang menusuk, ajakan berendam di mata air panas tidak mungkin kita lewatkan.

Selama di pemandian air panas ini, Inji dan saya hanya duduk bermalas-malasan di sudut kolam sambil menikmati keindahan pemandangan sekitar. Beda sekali dengan salah satu tante Spanyol teman seperjalanan kita yang dengan semangat ‘45 berenang bolak-balik di kolam. 30 menit kemudian terdengar suara ramai dan kerumunan orang di tepi kolam. Ternyata tante perenang tadi sudah terbaring tak sadarkan diri dan suaminya dalam keadaan panik meminta orang sekitar untuk memanggil ambulan. Anehnya orang-orang lokal di sini bersikap seolah-olah ini adalah hal yang biasa, mungkin sudah sering melihat turis pingsan di sini karena kekurangan oksigen. Dasar Inji dan saya, bukannya ikut panik dan membantu teman seperjalanan, kita malah ketawa sambil komentar… yah tante, jangan nafsu gitu donk renangnya (*ups… maaf ya tante*)

Ternyata perbuatan kurang terpuji itu memang selalu mendapatkan balasan yang setimpal.

Sekembalinya kita ke hotel, kepala saya mulai berasa seperti dipukul palu berulang kali. Inikah yang disebut orang sebagai altitude sickness? Bertambahnya tekanan udara digabung dengan berkurangnya suplai oksigen ke dalam otak terbukti sudah di luar kemampuan saya untuk beradaptasi.

Inji berhasil meyakinkan saya untuk dinner di restoran hotel, dengan alasan … sakit ini hanya karena saya lapar, setelah makan pasti bakal baikan. Ketika steak tersaji di depan mata, mulailah rasa mual menyerang saya. Kepala terasa berdenyut dua kali lebih keras. Begitu sampai di kamar, saya langsung rebahan di kasur tak berdaya. Dan di saat yang sama aroma daun coca yang saya beli tadi siang terasa sangat menyengat di hidung. Sejak malam kelabu itu, daun coca hanya mengingatkan saya akan rasa mual – mungkin sebuah pelajaran untuk tidak sembarangan menertawakan orang lain.

Sayap burung condor raksasa ini bisa mencapai 3 meter kalau direntangkan!

Untung saja keesokan paginya kepala sudah terasa lebih ringan. Saatnya bersiap melihat burung condor. Terus terang saat itu saya kurang tahu persis bentuk dari hewan ini. Setiba kita di Cruz del Condor, sudah banyak orang menunggu penampakan hewan langka ini. 5 menit… 10 menit berlalu… kok bosan juga ya nggak keliatan apa-apa. Lagi asyik cari obyek yang bisa difoto, tiba-tiba orang-orang pada ramai menunjuk ke arah puncak gunung. Kurang jelas juga mereka sedang membicarakan apa, Inji dan saya cuma bisa latah ikut melihat. Itulah pertama kalinya saya melihat burung condor… sebuah titik hitam di langit. Tapi untung saja saya membawa kamera dengan lensa tele 200mm, karena ternyata melihat hewan ini dari jarak dekat hanyalah sebuah angan-angan belaka.