Apalagi kalau bukan Danau Titicaca! Berada di ketinggian 3800 meter di atas permukaan laut, danau Titicaca merupakan salah satu danau tertinggi di dunia yang bisa dinavigasi dengan kapal.

Untuk melihat danau ini, saya dan Ifix menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota Puno, sebuah kota di bagian selatan Peru yang berbatasan langsung dengan danau Titicaca. Kota Puno tidak terlalu megah, apalagi dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Cuzco dan Arequipa.

Kota Puno dilihat dari jauh memang cantik, tapi dilihat dari dekat…

Banyak rumah-rumah di sini yang masih setengah bangun statusnya, lantai bawah sudah dihuni tapi lantai atasnya masih berupa pilar-pilar kosongan. Katanya sih ini bukan karena mereka nggak mampu membangun rumah atau belum kelar konstruksinya, tapi memang sengaja nggak dikelarin supaya mereka bebas pajak. Penghuni baru bakal dikenai pajak bangunan kalau seluruh bangunan rumahnya sudah komplit. Jadi jangan heran kalau rumah-rumah di Puno semuanya kelihatan jelek-jelek.

Di kota Puno saya merasakan dua kultur yang berbeda, di satu sisi ada modernisme pengaruh dari kota-kota besar, sementara di sisi lain masih terasa ke-tradisionalan penduduk asli daerah Andes.

Seorang ibu merajut sambil menjaga anak-anaknya

Wanita-wanita di sini banyak yang masih memakai pakaian tradisional berwarna-warni cerah disertai bowler hat-nya yang khas. Awal mula keberadaan topi bowler ini cukup menarik juga ceritanya.

Mulanya topi ini dikirim jauh-jauh dari Eropa untuk dibagikan ke para pekerja Eropa di Bolivia … tapi begitu tiba di Bolivia topi-topi ini ternyata sizenya kekecilan buat kepala laki-laki Eropa. Jadilah topi-topi ini dibagikan ke penduduk lokal di Bolivia dan Peru, dan malahan jadi ngetren di kalangan wanitanya.

Saya dan Ifix juga sempat mencoba pakai topi bowler hat sambil sekalian juga nyoba pakai pakaian tradisional penduduk lokal sini. Beneran nggak nyaman rasanya pakai baju gombrong warna-warni dan topi kekecilan yang terus-terusan mau jatuh rasanya. Saya heran apa enaknya ya pakai topi caranya seperti itu.

Joget-joget pakai bowler hat memang nggak gampang

Saya dan Ifix sebenarnya termasuk lumayan adventurous, kita nggak sungkan untuk mecoba hal-hal baru. Tapi ada satu hal yang sengaja kita lewatkan di sini …yaitu menyantap cuy (dibaca “ku-i”). Cuy ini adalah sejenis guinea pig atau marmut. Rupanya makanan khas penduduk daerah pegunungan Andes ini adalah marmut panggang

Marmut imut banyak diternak di daerah Andes

Supaya bisa dijadikan santapan (source: wikipedia)

Saking populernya daging marmut ini sebagai makanan, sebuah lukisan Last Supper yang dipajang di katedral Cuzco menggambarkan perjamuan terakhir Yesus bersama murid-muridnya dengan menu marmut panggang!

Lukisan Last Supper-nya Marcos Zapata dengan cuy sebagai menu utama

Hewan cuy sepertinya sudah menjadi makanan pokok penduduk Andes sejak ratusan tahun lalu. Mereka menganggap hewan ini gampang dipelihara, cepat beranak, dan tidak butuh tempat luas untuk diternak. Daging cuy katanya kaya akan protein, rendah lemak serta kolesterol dan rasanya mirip daging kelinci atau ayam hitam, Sayangnya saya dan Ifix nggak berani nyobain, beneran nggak tega makan hewan seimut itu.

Tujuan utama kita pergi ke kota Puno ini sebenarnya adalah untuk melihat penduduk Uros yang tinggal di danau Titicaca. Seperti yang pernah saya lihat di foto-foto majalah travel, danau Titicaca aslinya memang cantik sekali. Langit biru dan panorama pegunungan Andes menghiasi sekeliling danau ini. Saya dan Ifix pun meluncur dengan kapal mencari pulau-pulau tempat tinggal penduduk Uros.

Berlayar di Danau Titicaca

Penduduk Uros tinggal di pulau buatan yang mengapung-ngapung di danau Titicaca. Pulau mereka dibuat dari tumpukan alang-alang yang sudah kering dan diikat jadi satu, ibaratnya seperti rakit yang super besar. Tumpukan alang-alang ini dibiarkan mengapung-ngapung begitu saja dan orang-orang yang tinggal di situ pun tidak khawatir kalau posisi rumahnya bisa pindah-pindah. Lucu ya?

Pulau beserta rumah-rumah ini semua dibuat dari alang-alang

Bentuk dan ukuran setiap pulau di Uros berbeda-beda, tergantung banyaknya keluarga yang tinggal di situ. Pulau terbesar di situ mungkin bisa memuat 10 keluarga, itupun saya lumayan yakin “maintenance”-nya pasti repot sekali. Maklum, alang-alang yang sudah ngapung-ngapung lama bakal jadi busuk dan makin tenggelam, jadi mereka mau tak mau pun mesti sering mengganti dengan yang baru biar rumahnya nggak ikutan tenggelam.

Sepertinya saya dan Ifix kembali dibuat takjub oleh keindahan alam serta keanekaragaman suku dan budaya negara Peru.

Naik canoe bersama anak-anak badung