Hampir saja saya dan Titine berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Korea Utara, tentu saja secara ilegal. Gunung Changbai (atau gunung Baekdu dalam bahasa Korea) yang letaknya di propinsi bagian utara negara Cina ternyata memang memungkinkan pengunjungnya melewati perbatasan Cina – Korea Utara tanpa disengaja.

Gunung Changbai berbatasan langsung dengan Korea Utara (source: Lonely Planet)

Terletak di propinsi Jilin, sebagian dari gunung Changbai adalah milik negara Cina, tapi sebagian lagi juga menjadi milik Korea Utara. Sayang sekali waktu itu saya dan Titine cuma sempat melihat gunung ini dari sisi barat. Padahal menurut supir lokal yang membawa kita keliling di sana, bagian selatan gunung Changbai justru lebih menarik dan menantang karena kita bisa melihat (atau kalau beruntung bisa mengunjungi) kota terluar Korea Utara yang berbatasan langsung dengan negara Cina. Penduduk Cina yang tinggal di daerah perbatasan ini rupanya memang dibolehkan untuk bebas lalu lalang dan berdagang di Korea Utara. Sungguh di luar dugaan saya yang selama ini mengira Korea Utara sangat tertutup.

Di kawah gunung Changbai ternyata ada sebuah danau!

Para tentara menjaga ketat perbatasan Cina dan Korea Utara

Saya sebenarnya sedikit menyesal karena tidak sempat melihat kehidupan masyarakat Korea Utara, tapi di lain sisi saya juga sedikit bersyukur karena saya tidak nekat. Kalau ketangkep basah masuk negara itu dengan ilegal, saya dan Titine mungkin bakal langsung dikirim ke labor camp atau dipenjara karena dianggap mata-mata asing.

Saya pernah dengar cerita seorang bule dari Amerika yang jadi relawan di Korut. Dia pernah iseng bertanya, “Kenapa si Great Leader kok bisa gendut sekali sementara penduduk sini kurus-kurus?” Tanpa mendapat jawaban, si bule ini langsung dikirim ke penjara selama dua minggu.

Keinginan saya buat pergi ke perbatasan Korea Utara ini sebenarnya muncul sehabis saya selesai membaca buku Nothing to Envy karangan Barbara Demick, pinjeman dari Titine. Di buku itu diceritakan kehidupan sehari-hari penduduk Korea Utara, tapi yah mungkin agak sedikit berlebihan karena ceritanya ditulis dari sudut pandang orang Barat.

Berada di daerah Changbai, saya dan Titine tidak berharap bisa melihat sebuah kota yang cantik. Fusong County nama daerahnya, agak sedikit terbelakang menurut saya tapi lumayan unik. Di sinilah pertama kalinya saya nginep di hotel yang kamar mandinya nggak berpintu, sampai-sampai buat beol saya dan Titine mesti gantian keluar kamar.

Padahal nama hotel ini 长白山时尚宾馆 lho atau dalam bahasa Inggris artinya Changbai Mountain Fashionable Hotel, nggak tau deh fashionable dari mana …  

Baru pertama kali saya nginep di hotel yang kamar mandinya kayak gini…

Makanan yang ditawarkan di restoran-restoran di sini juga lumayan aneh-aneh. Kita berdua sempat mencoba kepompong goreng. Awalnya sih agak jijik, tapi ternyata rasanya lumayan enak juga.

Daerah Changbai dan makanan khasnya, kepompong goreng hmm…

Selain pergi mendaki gunung Changbai di propinsi Jilin, saya dan Titine juga menyempatkan diri untuk jalan-jalan di ibukota propinsi, Changchun. Bisa dibilang kota Changchun tidak terlalu menarik dari segi turisme karena kota ini lebih mirip kota industri. Satu-satunya atraksi yang menjadi andalan Changchun adalah istana kaisar Puyi (kaisar terakhir di Cina) yang sekarang sudah diubah jadi museum. Konon di jaman pendudukan Jepang, kaisar Puyi ini sebenarnya sudah dilengserkan dan diusir dari Forbidden City. Tapi karena Jepang mau mengukuhkan keberadaan mereka di Manchuria, didirikanlah negara boneka Manchukuo dengan Puyi sebagai kaisarnya.

Sayang sekali negara Manchukuo hanya bertahan selama 13 tahun. Kekaisaran ini ikut bubar setelah Jepang kalah di Perang Dunia II tahun 1945. Saya agak kasihan sama si Puyi ini, dia cuma dijadikan kaisar boneka yang sebenarnya tidak punya kuasa apa-apa di Manchuria. Istana tempat tinggalnya pun juga dibuat seolah-olah mirip dengan Forbidden City di Beijing, tapi versi miniaturnya.

Istana kekaisaran Manchukuo

Apalagi yang menarik dari Changchun? Silahkan lihat foto-foto di bawah ini.

Nanhu Park, taman kota Changchun

Pakaian terracotta warrior juga dijual di Carrefour. Sementara komedi putar ini saya kurang jelas apakah untuk anak-anak atau orang dewasa.

Kalau anak saya didandani seperti sebelah kanan, aduh mak…