Barangkali banyak yag sudah mendengar cerita tentang kota Xian di China. Xian dulunya pernah menjadi ibukota China pada saat pemerintahan beberapa dinasti besar di China, termasuk dinasti Zhou, Qin, Han dan Tang. Kota ini dikelilingi tembok besar sebagai benteng pertahanan.

Saya dan Inji sampai di Xian setelah perjalanan 14 jam dengan kereta api. Saat itu sedang musim liburan, jadi untuk mendapatkan tiket susahnya setengah mati. Kita berhasil mendapatkan salah satu tiket termurah. Jangan salah, termurah bukan berarti terbaik. Kita dipaksa untuk duduk tegak semalaman tanpa bisa bergerak. Di depan kita penuh dengan orang berdiri (ini tiket yang lebih murah lagi – berdiri 14 jam !!!). Saya dan Inji harus menahan untuk tidak minum karena takut kebelet dan tidak bisa pergi ke wc.

Untung saja penderitaan itu berlalu juga. Stasiun kereta berada di tembok benteng itu, jadi kita bisa langsung melihat bahwa kota ini memang benar-benar dikelilingi tembok. Terlihat juga beraneka ragam suku pendatang dan suku asli di sekitar stasiun.

Saking capainya menunggu untuk tiket, orang-orang ini melepas lelah sambil tidur-tiduran

Tembok perlindungan yang memutari kota Xian

Becak merah di atas tembok kota

Ternyata percampuran budaya di Xian sudah ada sejak dulu kala. Mesjid pertama yang pernah di bangun di China juga ada di kota ini. Xian sangat menarik karena adanya populasi muslim yang cukup besar. Muslim Street district (atau Huimin Jie) adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Pada malam hari, jalanan ini disulap menjadi surga makanan. Makanan yang aneh-aneh ada juga di sini. Tapi tenang saja, semua makanan yang dijual di Huimin Jie ini halal.

Mesjid paling tua di China. Bentuknya tidak seperti mesjid di Indonesia, yang ini lebih mirip dengan kuil.

Jajanan yang ditawarkan di Huimin Jie

Yang ini rasanya agak mirip dengan tape uli. Kita sangat tertarik dengan warna rambut penjual ini, mengingatkan pada Krusty the clown di The Simpsons.

Kalau ada yang pernah bilang, “Belum ke Xian kalau belum lihat prajurit terracotta!” Saya akan langsung menambahkan,

Belum lengkap kalau belum mencoba berjalan di papan selebar 2 jengkal di atas Gunung Huashan!

Tidak jauh dari kota Xian, ada salah satu dari 5 gunung suci China bernama Huashan. Gunung ini dianggap sebagai gunung suci bagian Barat. Dan menurut kepercayaan, formasi gunung-gunung suci di China melambangkan posisi dari sang pencipta bumi. Gunung Huashan melambangkan kaki sang pencipta. Untuk pergi ke Huashan, cara termudah adalah dengan naik kereta high speed (hanya 40 menit perjalanan).

Pemandangan yang hampir selalu berkabut.

Pemandangan gunung ini berbeda dari gunung-gunung lain di China. Berdiri kokoh, gunung batu ini sangatlah curam dan terjal. Jalur-jalur yang disediakan pun kebanyakan berupa anak tangga. Hampir tidak ada jalan yang rata. Sebenarnya, bisa saja kita sampai di puncak pakai kereta gantung. Tapi kurang seru donk!!!

Seribu tangga menuju puncak gunung

Yang penting, kita harus berbekalkan sepatu yang nyaman dan sarung tangan. Sebagian besar pegangan di pinggir anak tangga itu terbuat dari rantai besi yang sudah berkarat. Maka dari itu sarung tangan jadi sangat berguna.

Anak tangga demi anak tangga kita naiki. Lelah? Tentu saja. Untung saja Inji sangat sabar dan terus-terusan menyemangati. Tujuan kita adalah untuk berburu gejolak adrenalin dan berjalan di atas papan selebar 2 jengkal dengan ketinggian 1000 meter dari bawah. Kalau di negara lain, melakukan hal seperti ini mungkin akan lebih biasa. Di China, hal ini tidak bisa dikatakan biasa, harus luar biasa. Sebabnya, faktor keselamatan tidak pernah diutamakan. Tentu saja kita juga khawatir.

Sesampainya di tempat yang dinanti-nantikan, jantung makin berdetak kencang. Saya dan Inji dibekali dengan harness pengaman dan diinstruksikan untuk mengaitkan harness tersebut di tali-tali dan rantai-rantai sepanjang rute kematian ini.

Awal-awal kita harus turun melalui bentangan-bentangan besi yang dikaitkan diantara bukit batu. Waktu kaki pertama turun, langsung keluar kata-kata makian (upss- saking takutnya jadi begitu). Ketegangan makin bertambah sewaktu harus pindah kaki ke papan selebar 2 jengkal itu. Tidak sampai di situ saja, ada beberapa bagian yang tidak ada papannya sama sekali, hanya lubang-lubang di permukaan bukit batu. Untuk bikin tambah seru dan bahaya lagi, rute ini adalah satu-satunya rute di situ. Jadi perjalanan pergi dan pulang harus melalui rute yang sama. Hal ini mngakibatkan adanya bagian-bagian yang menumpuk jumlah orangnya.

Perjalanan ke bawah lewat anak tangga yang mirip dengan tangga di kolam renang. Bedanya… yang ini tidak ada air-nya.

Ini lho papan selebar 2 jengkal-nya. Selama perjalanan camera saya sudah terbentur-bentur dinding batu, demi untuk mendapatkan foto-foto yang unik.

Untung saja tidak ada yang tergelincir dan jatuh. Saya rasa, satu jatuh, akan jatuh semua. Barangkali ada yang bertanya,

Buat apa sih susah-susah kaya gitu? Apa sih yang dilihat?

Di ujung rute itu ada semacam kuli kecil tempat orang berdoa. Sebenarnya yang terpenting bukan tujuan akhirnya, tetapi sensasi tegangnya perjalanan ke sana.

Inji beraksi dengan teknik akrobatnya. Pelan-pelan menyusuri tembok yang terjal.

Selain papan 2 jengkal itu, di Huashan kita juga bisa menikmati indahnya pemandangan. Bukit batu yang ditumbuhi pohon pinus dan cemara itu benar-benar mengingatkan dengan film silat ala shaolin. Terutama karena jumlah anak tangganya yang luar biasa banyaknya.

Begitu sampai di puncak, kita juga bisa menggantungkan gembok cinta sebagai lambang perjuangan dan keabadian cinta. :)

Kembali ke pernyataan di atas tentang, “Belum ke Xian, kalau belum lihat prajurit terracotta.” Tentu saja kita juga tidak mau ketinggalan. Xian mulai terkenal di dunia internasional setelah ditemukannya patung prajurit yang terbuat dari terracotta pada tahun 1974 oleh 7 orang petani. Setelah itu, petani tersebut pun jadi ikutan nebeng terkenal bersama pasukan prajurit terracotta. Si petani terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai petani. Sekarang kita bisa menemui dia duduk setiap hari di depan tempat wisata tersebut. Kalau mau foto atau minta tanda tangan harus bayar.

Prajurit-prajurit peninggalan Dinasti Ming yang rapi berbaris

Apakah hal itu berdampak baik atau buruk, kita tidak bisa menentukan. Yang jelas, desa tersebut dihancurkan untuk tempat wisata, dan petani-petani tersebut tidak bisa bersawah lagi.
Sebesar apa sih komples prajurit terracotta itu? Yang jelas, sampai hari ini, para peneliti dan arkeolog belum selesai menggali dan meneliti prajurit-prajurit terracotta yang masih terkubur di dalam tanah.

Saya dan Inji berpose ala Lara Croft