Siapa sih Mina? Coba tanya saja sama orang-orang sekitar Bukit Lawang, dijamin bakal dapat cerita seru tentang si Mina ini.

Taman nasional gunung Leuser

Di penutup tahun 2012 kemarin saya akhirnya bisa menyempatkan diri mengunjungi kota Medan lagi. Pertama kali ke Medan, saya masih duduk di kelas 2 SD. Nggak banyak yang saya ingat, bisa dibilang hampir sama dengan orang yang belum pernah ke sana sama sekali.

Jadwal acara selama 5 hari di Medan yang disusun teman baik saya, Ollie, lumayan padat. Maklum, si Ollie ini kan emang anak Medan, dari jauh-jauh hari sudah heboh promosi turisme daerah Medan dan sekitarnya kepada saya. Dia juga yang mengatur semua logistik mulai dari mem-booking hotel sampai transportasi (rela jadi supir, hebat kan teman saya ini?).

Ollie tuh heboh begini anaknya

Aktifitas pertama saya adalah jungle trekking di taman nasional gunung Leuser. Pagi-pagi sekali kita bertiga (saya, Ollie, dan Liz – adik Ollie) meluncur menuju daerah Bukit Lawang untuk menemui guide kita, Jungle Edie. Perjalanan dengan mobil pribadi memakan waktu sekitar 2.5 jam dari kota Medan.

Jungle Edie ini ternyata lumayan terkenal juga lho di kalangan turis mancanegara. Nama sebenarnya sih ya cuma Edie saja, ditambahi kata “Jungle” mungkin supaya kedengarannya lebih profesional.

Awalnya saya membayangkan sosok Jungle Edie seperti Tarzan, karena namanya keren banget. Tapi setelah ketemu, wahh ternyata saya meleset jauh. Jungle Edie yang ini gayanya seperti anak gaul, pakai anting dan bertato. Jauh dari image Tarzan saya yang berbadan tinggi, berambut gondrong dan pakai baju dari daun-daunan hutan, hehehe.

Saya kira Jungle Edie bakal kayak gini

Ternyata gaul begini…(yang atas lho ya!)

Selain Jungle Edie, kita juga ditemani asistennya, Bang Iwan. Bang Iwan ini ditugasi membawa bekal makan siang, buah-buahan serta air minum. Yang paling saya ingat dari si Bang Iwan ini adalah sepatu hiking-nya, yang semula saya kira sepatu sepak bola karena bergerigi di bawah. Awalnya saya pikir ini orang mau jungle trekking apa mau main bola sih, kok gaya banget pake sepatu bola.

“Bang, sepatunya belinya di mana sih? Di sini dijual ngga?” tanya Liz yang kayaknya lumayan tertarik beli.
“Hah, serius lo Liz? Elo mau beli?” saya agak kaget si Liz mau beli sepatu norak itu.
“Iya, abis kayaknya enak deh buat jalan, nggak licin,” jawab Liz.
“Kayak sepatu kungfu gitu, apa bisa buat hiking?” saya ragu-ragu sepatu karet itu bakal enak dipakai.

Bang Iwan dan sepatu favoritnya

Setelah melewati hutan becek berlumpur, saya bisa menyarankan buat yang mau trekking di gunung Leuser sebaiknya pakai sepatu ini saja. Cuma 15 ribu perak (mungkin kalau nawar bisa lebih murah), sepatu karet ini beneran anti slip, dijamin bakal jarang kepleset. Kalau kotor tinggal dicelup ke air langsung deh jadi bersih, nggak perlu disikat-sikat lagi. Memang sih modelnya nggak keren sama sekali, tapi yah setelah nginjek-nginjek lumpur semua sepatu juga sama jeleknya kan?

Sepatu hiking 15ribu perak

Tujuan utama saya untuk trekking di taman nasional gunung Leuser ini adalah buat melihat orangutan berkeliaran bebas di habitatnya. Kebanyakan orangutan yang ada di sini sudah direhabilitasi, dalam arti pernah diselamatkan lalu dilepas kembali. Penebangan liar, perkebunan sawit dan perdagangan ilegal hewan menjadi problem utama menurunnya jumlah orangutan di daerah Sumatra. Rata-rata orangutan bisa hidup sampai 45 tahun dan selama hidupnya bisa punya 2-3 anak. Kalau dibandingkan sama banyaknya penebangan liar dan perluasan kebun sawit selama 45 tahun, saya rasa pertumbuhan populasi orangutan kalah cepat deh. Kalau begini terus, gimana nggak cepat punah nih orangutan kita?

Kasihan kan kalau habitat mereka makin rusak?

Jungle Edie memimpin grup kita masuk ke dalam jalur hutan yang sedikit becek karena hujan. Kayaknya baru sekitar satu jam sepatu saya udah babak belur blepotan lumpur. Tapi biar gimanapun juga saya masih semangat ’45 karena pingin lihat orangutan.

Setelah berjalan sekitar 1.5 jam kita diajak ngaso sebentar sambil menikmati buah-buahan di tengah hutan. Nggak lama kemudian pohon-pohon di sekitar kita mulai bergerak-gerak daun-daunannya. Ada apa nih?

“Oh tenang aja, itu si Thomas. Mereka tahu ada makanan,” kata Jungle Edie santai.

Thomas yang di maksud di sini yaitu Thomas’ leaf monkey yang berbulu hitam putih. Tanpa malu-malu beberapa Thomas datang mendekat minta rambutan kita. Setelah dapat rambutan, enak-enak saja mereka ikutan duduk sambil ngupas dan makan rambutan.

Si Thomas

Tidak jauh dari tempat si Thomas tadi, akhirnya kita ketemu juga sama orangutan. Di balik ranting-ranting pohon saya melihat seekor anak orangutan sedang main-main sambil gelantungan.

“Ssst, jalan pelan-pelan,” kata Jungle Edie sambil menunjuk-nunjuk ke depan.
“Emang ada apa di depan?” tanya saya penasaran.
“Ada si Pesek sama anaknya,” jawab Jungle Edie.
“Ha? Namanya si Pesek?”

Si Pesek ini agak pemalu, begitu melihat ada orang di sekitarnya dia pelan-pelan pergi menjauh. Kasihan juga dikasih nama si Pesek, padahal orangutan yang lain punya nama keren-keren lho, misalnya Jackie, Mina atau Ucok.

Si Pesek …memangnya ada orangutan yang mancung ya?

Sayangnya kali ini saya nggak ketemu sama si Mina, orangutan paling terkenal di gunung Leuser. Padahal saya sudah berharap-harap ketemu dia setelah membaca banyak cerita seru para blogger yang pernah ketemu Mina. Mina terkenal agresif, rata-rata mereka yang pernah ketemu pasti ujung-ujungnya lari terbirit-birit karena diuber dia.

“Bang, pernah ketemu Mina?” tanya saya ke Jungle Edie.
“Wah jelas pernah, saya pernah diuber dia,” jawab Jungle Edie.
“Trus gimana Bang?” tanya saya lagi.
“Ya lari, saya juga takut. Si Mina itu agresif sekali, suka gigit atau nabok,” kata Jungle Edie.
“Kita nggak boleh sembarang nyebut nama dia di sini, nanti tiba-tiba dia muncul gawat deh kita,” sambungnya.

Yahh…too bad deh, mungkin lain kali saya bisa lebih beruntung dan bisa ketemu sama si superstar Bukit Lawang ini.

Taman nasional gunung Leuser ini luas sekali lho, kalau nggak pakai guide pasti bakalan nyasar di dalam hutan. Saya nggak kebayang kalau tersesat di sini waktu malam. Menurut Jungle Edie, di gunung Leuser ini masih terdapat hewan buas seperti beruang madu, babi hutan, gajah dan harimau; tapi katanya yang paling bahaya kalau malam hari adalah ular. Bisa jadi pas lagi asik-asik camping didatangi binatang ini, karena ular itu tertarik sama hawa panas yang dipancarkan makhluk lain waktu malam hari. Ular sejenis kobra, pit viper, ular hijau dan piton semua masih bebas berkeliaran di sini. Hii…

Jungle trekking sebaiknya pakai guide supaya nggak nyasar

Selepas dari hutan, kita tiba di daerah pinggir sungai Bahorok. Kali ini kita tidak perlu trekking lagi di dalam hutan untuk balik ke tempat semula. Kita bakalan ber-water tubing ria menyusuri sungai Bahorok ini. Water tubing itu mirip seperti rafting tapi yang ini pakai ban karet yang dijejer dan diikat jadi satu. Kalau arusnya deras dan jalurnya berbatu-batu, wahh seru banget karena kita bisa ikut terlempar-lempar ke atas.

Water tubing di sungai Bohorok

Dalam 15 menit kita sudah kembali ke tempat awal trekking. Walau badan semua basah kuyup tapi segarr. Lumayan juga balik lewat sungai, sepatu dan celana saya yang tadinya blepotan lumpur sekarang bersih lagi!

Makin deras arusnya makin seru!