Bingung mau kemana kalau cuma punya waktu sedikit di kota Medan? Selain bisa wisata kuliner sampai food coma (karena banyak banget makanan enak), coba deh sempatkan diri mampir ke Istana Maimoon dan rumah Tjong A Fie. Keduanya punya cerita dan sejarah yang lumayan menarik tentang kota Medan. Dan buat yang suka outdoor seperti saya, bisa coba menjajal gunung Sibayak atau Sinabung yang letaknya nggak jauh dari kota Medan.

Ngiler kan ngeliat makanan-makanan ini?

Selain dijamu makanan enak-enak selama di kota Medan, saya juga sempat merayakan malam tahun baru bersama teman-teman di sebuah kafe bernama Dr’s Koffie. Tempatnya lumayan asik buat nongkrong, apalagi lantai 2-nya yang cocok banget buat al fresco dining. Sayang saya nggak sempat nyoba makanannya karena sudah kekenyangan.

New Year’s Eve party!

Untung saja saya nggak tepar setelah ngikut malam taon baruan. Stamina perlu juga nih, apalagi besokannya saya bakal city tour di kota Medan. Tujuan saya, Istana Maimoon dan rumah Tjong A Fie.

Sedikit background, Istana Maimoon dibangun oleh sultan Deli ke-9, Sultan Ma’moen Al Rasyid di akhir abad ke-19. Umur istana ini sudah lebih dari 100 tahun, tapi masih bagus lho bangunannya. Perpaduan budaya Melayu, Islam dan India terasa sekali di sini. Berada di dalam istana Maimoon serasa seperti berada di rumah seorang maharaja, sangat megah… ya gimana nggak megah, kamarnya aja ada 30!!

Harga karcis masuk Istana Maimoon lumayan murah Rp 5000, termasuk jasa guide. Kebetulan kita dapat guide yang hobi ngobrol, baik itu dengan bahasa Indonesia, Inggris, Jerman ataupun Belanda. Saya dan Ollie cuma bisa terbengong-bengong waktu mas guide nyerocos pakai bahasa Belanda. Mungkin cuma mau praktek aja tuh dia (atau pamer, hehe…soalnya saya dan Ollie kan nggak bisa bahasa Belanda). Guide kita ini juga mengaku pernah belajar fotografi sama Darwis Triadi, kamera saya pun jadi bahan prakteknya. Saya dan Ollie sih seneng-seneng aja difotoin, apalagi sama orang yang ngerti fotografi.

Eeh tapi pas saya cek hasilnya, lha kok banyak yg burem…piye toh mas.

Paling nggak ada satu foto yang nggak burem di istana Maimoon

Nggak jauh letaknya dari istana Maimoon, berdiri rumah mewah bekas kediaman Tjong A Fie. Baru pertama kali ini saya dengar namanya, tadinya malahan saya kira Tjong A Fie itu tuh nama sebuah kedai kopi di Medan. Setelah dijelasin sama guide yang ada di situ baru deh saya tahu siapa Tjong A Fie itu dan betapa besarnya jasa dia buat kota Medan.

Yang pingin tahu tentang riwayatnya, bisa baca di sini.

Foto-foto jadul terpajang di rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong A Fie sekarang sudah diubah menjadi museum. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 35 ribu kita bisa menikmati sejarah sebuah keluarga peranakan lengkap dengan foto-foto, peninggalan-peninggalan sejarah serta cerita menarik dari mbak guide. Sayangnya saya lupa menanyakan kenapa ada foto Empress Dowager Cixi di beberapa ruangan rumah Tjong A Fie. Setidaknya ada 2 foto yang saya lihat terpajang. Adakah hubungan antara Tjong A Fie dengan Empress Dowager Cixi? Saya jadi penasaran.

Rumah Tjong A Fie yang sekarang dijadikan museum

Belum lengkap rasanya perjalanan saya di Medan kalau belum pergi ke Berastagi. Hampir semua orang yang saya temui di Medan pasti bakal tanya, “Udah pergi ke Berastagi belum?” Sepertinya Berastagi ini ibarat Puncak-nya orang Jakarta, tempat holiday di akhir pekan. Saya pun nggak mau ketinggalan, mumpung sudah sampai di Medan ya sekalian aja mampir.

Ollie sepertinya lumayan ngerti kalau saya ini adrenaline junkie, bakalan bosan kalau cuma diajak nyantai-nyantai di villa di Berastagi. Untung aja nggak jauh dari Berastagi ada dua gunung yang bisa didaki, gunung Sibayak dan Sinabung. Karena waktu yang terbatas, Ollie mengajak saya hiking di gunung Sibayak yang cuma butuh waktu 3-4 jam untuk sampai di puncaknya.

Foto bersama adik-adik pecinta alam, kita pun jadi kelihatan seperti anggota pecinta alam juga

Ada dua rute yang bisa dipilih buat sampai ke puncak Sibayak, yang satu lewat jalur hutan (ada kemungkinan nyasar kalau tidak pakai guide) dan yang satu lagi jalur aspal (ini lebih gampang dan cepat, bisa dijalani tanpa guide). Saya dan Ollie sepakat untuk jalan lewat rute aspal supaya lebih aman. Dan biar lebih cepat sampai tanpa nyasar, kita juga mencari guide lokal, Bang Perry.

Pergi ke Sibayak kali ini saya dan Ollie mengajak dua teman lagi. Surprisingly kali ini nggak susah mencari teman untuk ikut naik gunung. Biasanya teman-teman saya pada malas kalau disuruh ikutan aktifitas yang bikin capek. Mungkin gara-gara barusan nonton film “5cm” nih, kita semua jadi demam naik gunung.

Baru asik-asik setengah jalan saya dengar suara di belakang,

“Yah, sepatu gue lemnya kebuka nih, solnya mau copot,” kata salah satu teman saya.
“Udah, lo pelan-pelan jalan aja, gapapa lagi,” begitu kira-kira kita meyakinkan dia.

Perjalanan masih sekitar 2 jam lagi buat sampai ke puncak. Saya lihat Bang Perry cuma bisa geleng-geleng kepala saja, mungkin bingung belum apa-apa kok udah begini sepatunya.

Kasihan juga sebenernya teman saya itu, sepatunya makin lama dipakai buat jalan makin mbrodol. Saya cuma kawatir dia nggak survive sampai puncak gunung Sibayak, jangan-jangan di atas gunung mesti nyeker lagi nanti!

“Guys, sepatu gue solnya beneran bakal copot deh,” kata teman saya khawatir.
“Wahh iya lho udah kebuka separo. Coba kita cari tali atau apa buat ngiket biar solnya nggak copot,” Ollie menawarkan solusi.

Akhirnya karena kelabakan takut sol sepatu teman saya itu lepas total, kita sembari hiking sambil nyari-nyari sampah di sepanjang jalan, siapa tahu ada yang membuang tali rafia.

Eh bener aja lho, ada tali-tali bekas yang dibuang sembarangan di jalanan. Ternyata kepedulian masyarakat Indonesia sama hutan dan gunung masih kurang ya, banyak yang nyampah sembarangan. Tapi yah, kali ini saya nggak complain deh karena nemu tali bekas di jalanan. Mungkin memang bener kata pepatah, one man’s trash is another man’s treasure. Sepatu teman saya pun bisa diselamatkan (untuk sementara).

Lihat, inilah Indonesia…

Begitu kata Bang Perry kepada saya setibanya di atas sebuah bukit, tidak jauh dari puncak Sibayak. Pemandangan hijau nan subur menghiasi sekeliling saya. Suara monyet saling sahut menyahut dari balik pepohonan. Di kejauhan berdiri tegak gunung Sinabung. Wuaw…bagus banget!

Gunung Sinabung dilihat dari Sibayak

Pemandangan dari puncak gunung Sibayak

Setelah berjalan sekitar 3 jam, akhirnya kita pun tiba di puncak Sibayak. Wah, cantik sekali pemandangannya. Benar-benar nggak nyangka banget, cuma berjalan sekitar 3 jam saya bisa melihat pemandangan sebagus ini. Memang luar biasa deh Indonesiaku.

Ayo lestarikan alam Indonesia!