Satu-satunya alasan saya pergi ke Myanmar di akhir Januari kemarin tuh cuma karena Run Lola Run ini, nama tim lari asal-asalan yang dibuat teman saya yang hobi lari. Karena kena bujuk rayunya, saya jadi ikutan sign up lari 10 km di acara Yangon Marathon.

Perjuangan juga lho supaya bisa sampai di Myanmar, soalnya visa on arrival masih belum diberlakukan buat turis waktu itu (peraturan pemerintahnya berubah-ubah terus). Belum lagi ditambah di kota Shanghai tempat saya tinggal nggak ada konsulat Myanmar. Buat yang mengalami situasi seperti saya dan nggak nemu agen visa, terbang aja via Bangkok dan minta visa Myanmar di sana. Visa bisa kelar dalam waktu satu hari; kalau mau kilat bisa juga same day service, tapi harus nunjukin tiket pesawat buat bukti kalau besokannya kita mesti terbang ke Myanmar.

Karena tanggung, saya pun tidur di Don Mueang airport (double rows biar bisa muter badan)

Berbekalkan buku panduan Lonely Planet dan uang 300 dolar, saya tiba di kota Yangon. Karena nggak rela bayar kamar hotel di Yangon (mahal bok!), saya memilih tinggal di sebuah bed & breakfast sederhana bernama Bike World Explore Myanmar (BWEM). Pemiliknya adalah seorang bule Australia bernama Jeff dan istrinya, tante Soesoe, yang orang asli Myanmar. Jeff ini penggila sepeda banget. Selain punya beberapa toko sepeda, dia juga punya biro travel khusus untuk turis-turis yang mau menjelajah Myanmar pakai sepeda.

Orang Indonesia mana mau ya disuruh keluar duit buat naik speda berminggu-minggu?

Suasana santai di BWEM bersama pemiliknya, Jeff dan Soesoe (thanks to Nico & Geertje for the pics)

Saya sempat ikutan Jeff spedaan keliling kota Yangon di malam hari. Nggak taunya memang ada acara night ride setiap hari Jumat jam 10 malam. Siapa saja yang punya sepeda boleh ikutan tanpa harus bayar. Seru juga keliling kota Yangon pakai sepeda, dalam dua jam saya sudah melewati tempat-tempat wisata seperti Sule Paya, Shwedagon, Chinatown, dan rumah Aung San Suu Kyi. Walau cuma bisa ngeliat dari luarnya aja, tapi lumayan lah … itung-itung saya dapat preview kotanya duluan sebelum jalan kaki keliling besokannya.

Night ride dimulai dari depan toko milik Jeff

Suasana malam di Yangon bisa dibilang sepi, jangan harap deh ada night life di sini. Jalananannya juga minim lampu, alias gelap banget. Saya sampai dibekali tante Soesoe dua senter di depan sepeda dan satu lampu kedip di belakang, supaya nggak nabrak dan ditabrak.

Di tengah jalan saya sempat terpisah dari Jeff dan grupnya, karena saya kehalang lampu merah. Jeff cuma berpesan kalau saya terpisah, saya disuruh ngikut rombongan sepeda lainnya. Sialnya yang ada berengan saya cuma 2-3 orang mas-mas yang naik sepeda ontel tanpa lampu. Saya sebenarnya agak ragu apa mereka ini anggota klub sepeda si Jeff atau cuma tukang ojek yang kebetulan lewat. Saya coba nanya pakai bahasa Inggris, tapi nggak ada yang ngerti omongan saya. Akhirnya saya keluarin juga bahasa isyarat nunjuk-nunjuk, baru deh mereka jawab “Yes, yes” sambil nunjuk-nunjuk juga. Jadilah saya ngikutin mas-mas ini ngebut naik speda masuk ke kompleks-kompleks perumahan. Mungkin jalan pintas kali ya … nggak lama sesudahnya saya kembali ke jalan besar dan ketemu lagi sama rombongan si Jeff. Hebat juga nih mas-mas bersepeda ontel!

Di sela-sela spedaan ada tea break … jam 11 malam!

Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Yangon, tapi karena waktu saya yang mepet (cuma 3 hari!!) belum lagi ditambah mau lomba lari, saya mesti selektif milih tempat wisata mana yang mau saya lihat. Satu yang tidak saya lewatkan yaitu Shwedagon Paya (karcis masuknya US$5 dan harus mulus duit dolarnya, bayar pakai Myanmar Kyat juga bisa). Masuk ke dalam tempat ini saya cuma bisa ternganga takjub, besar sekali pagoda-pagodanya dan semua dilapisi emas. Di pucuk stupa terbesar (yang konon katanya tersimpan rambut asli Buddha di dalamnya) dihiasi beribu-ribu intan dan batu mulia lainnya. Tidak heran kalau puncak stupa ini terlihat berubah-rubah warna kalau dilihat dari posisi yang berbeda. Saya sarankan menyewa jasa pemandu lokal di sini supaya bisa tahu lebih banyak tentang sejarah dan keunikan dari Shwedagon Paya ini.

Shwedagon Pagoda

Patung-patung raksasa semua berlapis emas di Shwedagon

Penasaran sama rambut Buddha asli yang tersimpan di Shwedagon? Saya juga. Sayangnya delapan helai rambut suci ini nggak dipamerkan untuk umum di Shwedagon. Tapi buat yang masih tetap penasaran, bisa pergi mengunjungi sebuah kuil kecil di pinggiran kota Yangon (maaf saya lupa nama daerahnya). Di dalam kuil kecil ini disebut-sebut tersimpan rambut asli Buddha, yang katanya bisa bergerak-gerak sendiri. Setelah bertemu guru besar di situ dan meminta ijin, barulah saya ditunjukin rambut suci ini. Bentuknya tidak beda sama rambut-rambut manusia biasa, tapi yang ini bisa meliuk-liuk sendiri waktu dibasahi air. Bingung juga saya kenapa bisa gerak-gerak seperti itu.

Dibela-belain kemari demi lihat rambut asli Buddha

Selain punya peninggalan-peninggalan sejarah bergaya Buddhist, kota Yangon juga masih punya bangunan-bangunan bersejarah bergaya kolonial peninggalan Inggris. Berjalan kaki di sekitar daerah Mahabandoola Garden, saya disuguhi pemandangan cantik bangunan-bangunan bergaya Eropa.

Apartemen bergaya kolonial Eropa di Yangon

Gaya bangunan kolonial juga terasa di St. Mary’s Cathedral

Jangan lupa juga mencoba teahouse ala Burmese seperti Thone Pan Hla di dekat Sule Paya. Kedai-kedai begini ternyata jadi tempat favorit penduduk lokal buat sarapan dan ngaso di siang hari. Harga teh dan kopi di kedai seperti ini murah banget, cuma 250 Kyats atau sekitar $0.30. Teman seperjalanan saya, Ckjojo, sampai ketagihan dan ngajak saya balik lagi ke teahouse ini besokannya. Mungkin karena nggak banyak orang asing yang datang ke Thone Pan Hla, kita berdua beneran dilayani seperti selebriti di situ. Setiap lewat meja kita, semua pelayannya selalu ngeliatin dan senyum-senyum nggak jelas.

Sewaktu ada tamu lain yang mau duduk di meja kita, pelayan-pelayan di sana langsung mencegah dan menyuruh tamu-tamu itu duduk di tempat lain. Sambil senyum-senyum nggak jelas lagi salah satu pelayan datang dan minta maaf ke kita. Wah, kayak VIP aja nih, padahal meja di sana itu seperti meja kantin lho, asal ada bangku kosong langsung boleh ikutan duduk.

Berada di kedai-kedai kopi macam ini, perhatiin deh cara orang lokal sini meminta bill atau mengorder makanan. Kalau biasanya kita cukup ngangkat tangan untuk manggil pelayan, orang-orang Myanmar punya kebiasaan unik. Mereka memanggil pelayan pakai smooching sound atau suara ciuman. Lucu juga ngeliat bapak-bapak cap-cup-cap-cup manggil si mas pelayan.

Thone Pan Hla letaknya nggak jauh dari Sule Pagoda ini

Lewati juga Pansodan Street yang sering dijuluki perpustakaan jalanan di Yangon

Setelah dua hari jalan-jalan di kota Yangon, tiba juga hari lomba lari yang saya tunggu-tunggu. Dengan mata belum melek sepenuhnya saya terpaksa bangun dan siap-siap pergi ke People’s Park sebelum jam 5 pagi. Maraton sejauh 42km bakal dimulai duluan baru disusul acara 10K. Bisa dibilang peserta ajang lari ini nggak banyak, mungkin sekitar 600 orang totalnya. Maklum, sebelumnya Myanmar belum pernah ngadain event lari berskala internasional. Yangon Marathon ini baru yang pertama kalinya diadain.

Nyelesaiin lari 10 km sebenarnya bukan hal yang susah buat saya, tapi untuk finish dengan catatan waktu yang memuaskan, nahh itu baru sulit. Belum lagi ditambah beban emosi waktu di tengah jalan di susul sama anak-anak kecil yang lari nyeker (nggak sepatuan!). Bete kan?

Walau larinya ngga cepet, yang penting bajunya mesti ngejreng biar gampang ketauan di foto

Saya bangga lho jadi salah satu dari segelintir peserta yang berasal dari Indonesia. Teman-teman saya, Ckjojo dan Sara, juga ikutan. Sara datang ke Yangon berbarengan sama teman-teman mad runners-nya dari Hanoi. Dijulukin mad runners karena mereka ini emang gila lari. Walaupun kelihatannya cuma seperti cowo-cowo kerempeng biasa, eitss … jangan salah, mereka tuh larinya cepet buanget!

Kalau dibandingin sama Sara dan mad runner friends-nya, saya kebanting deh. Mereka itu bisa lari di kecepatan 13-14km/jam terus-terusan. Kalau pengen tahu secepat apa, cobain aja deh lari di treadmill.

Trio kwek-kwek dari Indonesia dan mad runners dari Hanoi

Juara lari maraton dan 10K kali ini sebagian adalah orang Kenya. Bingung juga kok mereka bisa nyasar sampai ke Yangon. Apa saking senangnya lari ya, sampai dibela-belain datang ke Myanmar? Saya sempat satu pesawat sama mereka waktu mau balik ke Bangkok. Lucu juga ngeliat mereka pulang cuma bawa tas ransel kecil, sepatu lari digantung di pinggir ransel dan nenteng beberapa kantong plastik yang isinya barang-barang hadiah. Mau tau apa isi kantongan plastiknya? Bubuk nutrisi Diabetasol, kopi bubuk MacCoffee, dan susu bubuk merk Premier. Kalau dipikir-pikir nggak seru juga ya, hadiah dari sponsornya kok semuanya bubuk-bubukan.

Begini ini lah kalau traveling sendiri, karena nggak ada yang diajak ngobrol saya jadi celingukan sendiri merhatiin orang-orang lain. Tiba-tiba di sebelah saya duduk seorang mas-mas pakai baju yang ada tulisan Sampoerna. Langsung deh saya tanpa basa-basi nanya.

“Mas, dari Indonesia ya? Bajunya ada Sampoerna-nya,” sapa saya.
“Lho, mbak dari Indonesia? Relawan juga?” tanya si mas tadi.
“Bukan, mas. Saya nyasar ke sini gara-gara ikutan lomba lari,” jawab saya.
“Ohh, pantesan tadi saya lihat ada atlit dari Afrika di sana, hehe…” kata si mas ini sambil nunjuk ke dua orang Kenya itu.
“Saya ini diutus ACT, mbak. Aksi Cepat Tanggap buat membantu pengungsi Rohingya di sini. Nama saya Iyus,” sambung si mas tadi.

Beberapa bulan terakhir ini negara Myanmar memang cukup heboh diberitakan ada perang saudara antara penganut Buddha Rakhine dan penganut Islam Rohingya. Konflik yang disebut-sebut dilatar belakangi agama ini dikabarkan masih berlanjut sampai sekarang dan menyisakan banyak kaum minoritas Rohingya mau tak mau harus mengungsi karena tersingkir dari wilayahnya. Karena pingin tahu kabar terbaru situasinya, saya pun menanyakan ke mas Iyus.

“Ah, enggak bener lah itu kalau dibilang karena agama,” jawab mas Iyus.
“Waktu saya di sana saya sama sekali nggak ngeliat ada konflik antara agama Buddha dan Islam. Malahan tenang-tenang aja tuh,”sambung mas Iyus.
“Lho, kalau begitu kenapa banyak pengungsi, mas?” tanya saya penasaran.
“Ah, itu kayaknya permainan politik aja deh. Di daerah Rohingya sana ada sumber gas alam dan karena ada oknum-oknum yang mau menguasai jadilah dibikin ribut di sana,” jelasnya.

Duh, kasihan sekali yah kalau gitu? Memang politik itu kotor sekali ya, segala cara pun dihalalkan demi kekuasaan dan kekayaan.

Suku-suku minoritas di Myanmar (source: BBC)

Kunjungan saya di Myanmar yang diitung-itung cuma 72 jam saja, meninggalkan kesan sangat mendalam. Begitu banyak aktifitas yang saya lakukan di sini. Banyak hal-hal baru yang saya pelajari, dan begitu banyak pula teman-teman baru yang saya jumpai. Saya acungkan jempol buat penduduk di kota Yangon. Di balik negara tertutup ini, di balik semua kemelut dan konflik yang ada, ternyata juga tersimpan keramah-tamahan yang luar biasa (yang bukan basa-basi!).

(*Thanks to Camilla for the marathon pictures)