Di bulan ini umur saya nambah lagi satu. Kalau di tahun-tahun sebelumnya selalu saya rayakan dengan acara makan-makan, tahun ini saya putusin untuk ganti suasana. Bosen banget rasanya kalau cuma makan-makan melulu.

Ulang tahun kali ini saya rayakan dengan lari 12km di malam hari sama teman-teman dari Urbantigers. Rute night run dimulai dengan lari menyusuri sungai Suzhou Creek sampai mentok di ujungnya yaitu Shanghai Bund. Karena beberapa anggota Urbantigers lagi fokus buat persiapan lari marathon, nggak ada deh acara minum-minum sesudahnya. Sebagai gantinya, rame-rame kita serbu convenient store untuk beli Gatorade dan minum di pinggir jalan sambil stretching dan ngobrol-ngobrol.

Ada teman saya yang nanya, any wish list? Kalau wish list mah pasti ada, panjang banget ngga ada habis-habisnya deh, hehe.

Bicara soal wish list, wah saya bakal berterimakasih banget kalau ada yang mau ngasih/minjemin saya kapak es (ice axe) dan tali, cukup sepanjang 4 meter saja. Kesannya seperti saya ini lagi siap-siap bikin rencana kejahatan aja, padahal nggak lho! Peralatan ini murni saya butuhin buat mendaki gunung salju. Ya, sebenarnya ultimate wish – harapan saya tahun ini cukup simpel, supaya saya bisa kembali dengan selamat (tanpa kehilangan anggota tubuh) setelah mendaki, hehe.

Saya ngga tau apa bakal seperti ini pendakiannya

Tinggal kira-kira sebulan lagi sebelum saya berangkat menuju gunung Elbrus di Rusia. Agak kawatir tapi juga excited di waktu bersamaan. Kawatir karena ini pertama kalinya saya mendaki gunung es, yang kebetulan juga letaknya nggak jauh dari daerah konflik Chechnya dan perbatasan Georgia. Walau katanya keadaan sudah kembali normal, tapi ya saya yakin semua turis di sana masih kebayang-bayang kejadian di tanggal 18 Februari 2011 yang lalu.

Insiden di tahun 2011 yang disebut-sebut sebagai aksi terorisme

Sebuah mobil van yang mengangkut turis yang mau ski di Elbrus tiba-tiba di stop di tengah jalan dan tiga dari penumpangnya ditembak mati. Di hari yang sama juga, sebuah bom meledak di salah satu menara cable car dan melumpuhkan lokasi pendakian bagian selatan gunung Elbrus. Aduhh, apa ngga cukup ya kekawatiran saya sama avalanche (longsor salju), crevasses (retakan-retakan es), frostbite dan altitude sickness? Masih ditambah lagi masalah konflik politik yang ngga menentu begini pula.

Lokasi gunung dekat perbatasan rentan konflik

Gunung Elbrus memiliki ketinggian 5,642 meter di atas permukaan laut, dan dinyatakan sebagai gunung tertinggi di benua Eropa. Termasuk salah satu dari tujuh puncak dunia (7 summits), gunung Elbrus dan Kilimanjaro masuk kategori “mudah” dibanding lima gunung lainnya. Mungkin karena alasan ini jadi banyak orang yang menganggap remeh kondisi di kedua gunung ini. Hasilnya, banyak dari mereka yang gagal sampai ke puncak gunung. Dan yang lebih ngagetin lagi, jumlah pendaki yang tewas di gunung Elbrus per tahunnya justru lebih banyak daripada jumlah kematian pendakian di Everest per tahunnya. Nah loh…

Sejauh ini persiapan saya untuk mendaki udah lumayan mantep. Secara mental dan fisik saya merasa cukup siap (sepertinya memang cuma itu yang bisa dipersiapin jauh-jauh hari). Saya cuma berharap dianugerahi cuaca dan kondisi gunung yang bersahabat. Maklum, buat seseorang yang berasal dari negara tropis, mana saya tahu suhu -25°C itu seperti apa rasanya. Dan lagi kali ini saya bakal mendaki dari jalur Utara, sekitar 9 hari lamanya bakal dihabiskan di gunung. Kemungkinan besar selama 9 hari ini saya ngga bisa mandi. Rekor saya ngga mandi sejauh ini baru 5 hari (sewaktu mendaki Kilimanjaro), hehe.

Rute perjalanan Ebrus North

Peralatan mendaki seperti apa yang diperluin buat mendaki gunung Elbrus? Sebenernya ngga jauh beda sama peralatan mendaki di Kilimanjaro. Cuma kali ini saya perlu membawa snow gears, seperti:

  • Plastic double boots atau leather single boots. Nah, ini dia nih yang bikin backpack saya langsung penuh. Bentuknya seperti sepatu untuk ski. Kedua boots ini punya lapisan insulasi di dalamnya, biasanya dipakai cuma waktu cuaca dingin bersalju. Double boots plastik lebih murah tapi lebih berat dan lebih ngga nyaman dipakai (keras bok, jalannya jadi kayak robot). Leather single boots lebih ringan, lebih nyaman dipakai, dan jelas lebih mahal harganya.

    Sepatu boots model plastic double boots (kiri) dan leather single boots (kanan)

  • Crampons (bukan tampons!). Awalnya saya juga kurang jelas apaan sih crampons itu. Crampons ini ibaratnya seperti cakar yang dipasang di sepatu boots kita, supaya lebih gampang buat jalan di salju atau es. Ada 3 jenis crampons sesuai dengan jenis sepatu boots kita: C1 (untuk boots agak lentur seperti boots bahan kulit), C2 (untuk boots tidak lentur seperti double boots di atas tadi) dan C3 untuk technical climb (pemanjat gunung es). Sistem ikat crampons pun ada bermacam-macam, tapi yang modern umumnya pakai system ikat hybrid (kombinasi antara toe-strap dan heel lever) dan step in (tanpa tali). Saran saya sebelum membeli crampons sebaiknya dicek dulu apakah cocok untuk model sepatu boots-nya.

Crampons sebagai taring buat sepatu boots

  • Ice axe (kapak es). Selain bisa dipakai sebagai walking stick di salju/es, alat ini bakal berguna sekali di saat kritis (misalnya tergelincir atau terperosok) sebagai pegangan untuk menghambat dan menyeimbangkan badan. Pada dasarnya cuma ada dua macam kapak es, yang berbentuk lurus dan berbentuk bengkok kayak pisang. Katanya sih untuk snow walking biasa sebaiknya milih yang bentuknya lurus. Kapak es yang bentuknya bengkok lebih cocok untuk technical climb – pendakian vertikal seperti panjat tebing es.

    Untuk jalan biasa di salju/es cukup pakai kapak es seperti sebelah kiri

  • Harness (sabuk pengaman) yang nyaman dipakai untuk jalan berjam-jam. Harness untuk rock climbing dan alpine climbing sedikit berbeda. Harness untuk alpine climbing didesain sangat sederhana dan ringan, karena fungsinya hanya untuk jaga-jaga bukan untuk gelantungan. Saya sebenarnya kurang pede sama kemampuan alpine harness, abisnya simple banget sih…tapi yah moga-moga aja deh saya ngga sampai harus menggantungkan nyawa saya sama alat ini.

    Harness pengaman untuk jaga-jaga

  • Sleeping bag dengan rating paling tidak -10°C. Saya lebih suka pakai bahan goose down (berisi bulu angsa, bukan sintetik) karena lebih ringan, hangat dan tahan lama. Karena sebagian dari perjalanan nanti saya mesti nggendong sendiri backpacknya, ukuran dan berat barang-barang yang saya bawa pengaruh banget. Moga-moga aja deh kondisi medan ngga basah, kalau ngga habis deh down bag saya. Di sini nih bedanya down dan sintetik, unggulnya sintetik kalau basah no problem (cepet kering).

    Down bag sebelum di kompres, saking fluffynya lebih besar daripada backpack saya!

    Down bag sebelum di kompres, saking fluffy-nya lebih besar daripada backpack saya!

Buat teman-teman yang hobi mendaki juga dan punya pengalaman mendaki gunung es, mungkin punya saran dan masukan? Saya belum nyobain nih packing barang-barang buat mendakinya, ngga yakin juga apa semua bisa masuk ke dalam backpack ukuran 70L.

Gunung Elbrus memang terkenal dengan extreme weather-nya, cuaca bisa berubah drastis tiba-tiba. Saya rasa semua gunung yang termasuk di daftar 7 Summits punya ke-ekstriman masing-masing; entah itu cuaca, ketinggian, jarak tempuh, medan, dll. Tapi, seperti kata Ted Fairhurst, seorang pendaki Kanada yang saya jumpai di Tanzania,

Jangan takut untuk bermimpi dan menggapai mimpi itu.

It is not the size of the mountain; it is the size of the dream.

Setuju?