Nyet, spasiba,” sambil terseyum saya nggeleng kepala menolak para penjual jajanan di pasar Pyatigorsk. Nggak biasa rasanya ngucapin kata “nyet” sebanyak itu dalam satu hari. Begini deh kalau cuma tahu 3 kata dalam bahasa Rusia: da, nyet dan spasiba (ya, tidak dan terima kasih). Pembicaraan jadi terbatas banget dan saya terpaksa nyet-nyetan terus selama di Pyatigorsk.

Jajanan pasar di Pyatigorsk: keju, bir rasa roti dan berbagai macam asinan.

Jajanan pasar di Pyatigorsk: keju, bir rasa roti dan berbagai macam asinan

Untuk sampai di kota Pyatigorsk, saya harus terbang dari Moscow ke Mineralnya Vody, baru lanjut dengan perjalanan mobil sekitar 40 menitan. Sepertinya kota Pyatigorsk memang bukan kota turis, apalagi buat turis mancanegara. Muka saya yang jelas-jelas Asia kelihatan mencolok sekali di situ. Pernah malahan suatu waktu selagi makan malam di kafe pinggir jalan, beberapa orang yang lalu lalang bisa tiba-tiba stop dan menanyakan dari mana asal saya. Mungkin mereka penasaran dan bingung kali kok bisa ada orang asing nyasar di situ.

Saya rasa jarang ada turis yang spesial mau datang ke sini kalau bukan karena urusan bisnis atau mau mendaki gunung Elbrus.

Gereja Ortodok Rusia di Pyatigorsk

Gereja Ortodok di Pyatigorsk

Suasana santai kota Pyatigorsk

Suasana santai kota Pyatigorsk

Berada di kota ini saya merasa seperti dikirim balik ke era Soviet di tahun 80-an.

Hotel Intourist yang saya tempati benar-benar masih kental aura tempoe doeloe-nya. Lobby hotelnya besaaar tapi sunyi dan kosong. Lift untuk naik ke lantai atas walaupun ada 4 berjejer, tapi ukuran dalamnya buseet…kecil banget! Tipikal lift jaman kuno. Saya dan Björn yang masing-masing cuma bawa satu backpack besar saja harus berdiri nyamping dengan muka hampir nempel di dinding lift. Ngepas banget untuk dua orang.

Kamar hotelnya bisa dibilang sedikit mirip kamar asrama, dilengkapi TV model jadul pakai antena dan sebuah radio yang juga jadul. Boro-boro digital, ini masih radio tipe satu tombol yang ngga ada penunjuk apa-apa.

Hotel atau asrama coba? Dan radionya halah... super jadul!

Hotel atau asrama coba? Dan radionya … super jadul!

Selama jalan-jalan di kota Pyatigorsk kita ditemani marketing manager dari Top Travel, Roman. Kebetulan si Roman ini memang asalnya asli dari Pyatigorsk.

Kota Pyatigorsk kaya sumber air mineral seperti ini

Kota Pyatigorsk kaya sumber air mineral seperti ini

Apa sih kebanggaan penduduk Pyatigorsk? Coba tanyakan ke semua orang di sana. Mereka semua pasti bakal menjawab mineral springs (sumber mata air mineral). Katanya sih di sini ada ratusan sumber air mineral yang bisa mengobati berbagai macam jenis penyakit.

Orang Rusia dari mana-mana suka datang ke Pyatigorsk untuk pergi ke sanatorium,” kata Roman.

Lho, buat apa?” tanya saya.

Pemahaman saya tentang sanatorium itu seperti rumah sakit jiwa. Apa sebanyak itu ya orang sakit jiwa di Rusia?

Yah buat kesehatan, buat rileks ngilangin stres, macam-macam deh,” jawab Roman.

Memangnya ngapain aja di sanatorium? Apa ada efeknya?” saya masih belom ngeh sama konsep relaksasi di rsj ini.

Tergantung paket yang di ambil, masing-masing sanatorium biasa punya paket perawatan beda-beda dan ada dokter pengawasnya juga. Kalau soal ngefek atau nggak ya tergantung masing-masing individu. Kalau buat saya pribadi sih, saya ngerasa terbantu habis treatment,” jawab Roman pede.

Haa? Kamu juga pernah dirawat di situ?” wah masa sih si Roman ini bekas orang gila?

Salah satu sanatorium kota Pyatigorsk

Salah satu sanatorium kota Pyatigorsk

Ternyata sanatorium yang di maksud Roman itu lebih mirip sebuah wellness center. Tempatnya pun bagus seperti spa resort di atas bukit. Paket kesehatan yang di tawarkan di sini serba komplit, maka jangan heran kalau orang-orang Rusia sampai rela menghabiskan liburan 2-3 minggu mereka demi ikut program perawatan di sini.

Megahnya jalan masuk menuju daerah sanatorium

Megahnya jalan masuk menuju daerah sanatorium

Satu hal lagi yang dibanggakan Roman di Pyatigorsk adalah museum air mineral. Ada-ada saja! Museumnya cuma berupa ruangan satu lantai berisi wastafel-wastafel. Berbagai macam air mineral ada di situ, tapi sayang penjelasannya cuma ada dalam bahasa Rusia. Terus terang saya lebih suka air mineral biasa tanpa rasa aneh-aneh. Air di sana semua rasanya asin dan ada bau-bau metalnya.

Mungkin karena ngeliat saya dan Björn yang kurang terpesona sama museum ini, Roman langsung bilang, “Oh, ada satu lagi water fountain yang mesti kalian coba. It’s the best. Nanti kita lewati sewaktu jalan.”

Oke, setidaknya saya jadi penasaran sama “the best mineral water” di Pyatigorsk. Apalagi karena sepanjang jalan si Roman ini ngoceh betapa cintanya dia sama water fountain yang satu ini. Katanya dari masa kecil sampai sekarang dia masih sering datang ke tempat itu untuk minum. Selain gratis, rasanya juga enak.

Ini dia, cobain deh. Ini favorit saya,” kata Roman sambil kemudian minum beberapa teguk.

Aaah…it’s so good,” dengan muka hepi dia berhasil meyakinkan saya dan Björn.

Tanpa ragu lagi saya coba minum. Tapi begitu air ini masuk ke kerongkongan saya, hueekk…! Terpaksa saya muntahin keluar lagi.

Aduhh, rasa airnya nano-nano banget dan bau telor busuk! Kok bisa-bisanya sih ada orang yang suka?!

What? You don’t like it? It’s my favorite,” Roman nggak habis pikir.

Ugh, it tastes like rotten egg!” jawab Björn.

Nyet, definitely nyet. I can’t believe this one is your favorite,” sambung saya.

Hadeuh cukup deh sama mineral water gratisan di Pyatigorsk. Walau katanya ada banyak health benefit, tapi kalau rasanya seperti telor busuk … berat juga tantangannya.

Ini nih yang katanya air paling enak se-Pyatigorsk. Merasa ketipu saya!

Ini nih yang katanya air paling enak se-Pyatigorsk. Merasa ketipu saya!

Sewaktu saya tanyakan ke Roman apa lagi yang terkenal dari kota Pyatigorsk, dia mikir-mikir sebentar lalu menjawab Mikhail Lermontov.

Wah siapa tuh ya? Saya nggak pernah denger.

Mikhael Lermontov (dari: wikipedia)

Mikhail Lermontov (dari: wikipedia)

Mikhail Lermontov ini adalah seorang pujangga terkenal di Rusia. Sayang, karya-karyanya kurang dikenal karena belum banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain selain Rusia. Saya cuma inget cerita Roman tentang si Lermontov ini yang mati konyol gara-gara bikin guyonan. Memang benar ya kata pepatah mulutmu harimaumu. Ternyata ada orang yang tersinggung sama lelucon dia, dan karena jaman dulu ngga ada acara maaf-maafan, perkara harga diri yang tersinggung mesti diselesaikan dengan cara duel pistol. Lermontov pun menyanggupi tantangan duel ini dan dua hari kemudian dia tewas kena tembakan pertama sewaktu duel.

Ya elah…